
Sudah 1 minggu di mana kejadian Sulis dan Suci sama-sama masuk rumah sakit, dan 1 Minggu pula Anisa membujuk Sulis untuk melakukan oprasi, tapi Sulis lagi-lagi menolak untuk di oprasi.
Bahkan Suci juga berkali-kali menyemangati kakanya untuk melakukan oprasi, tapi kakanya berkali-kali juga menolak untuk di oprasi
Entah apa yang ada di pikiran Sulis, hingga berkali-kali menolak untuk di oprasi.
Sekarang Anisa, Suci dan Arkan sedang ada di ruang rawat Sulia yang memang belum di perbolehkan pulang oleh dokter.
"Kaka, tolong mau di oprasi iya? Uci tidak mau melihat kaka terus menahan sakit."
"Kaka tidak mau di oprasi."
Suci menghela nafas berat, ia menggenggam tangan kakanya.
"Kasihan Bunda kak, terus saja menghuatirkan kaka."
"Iya tapi kaka tidak mau."
Anisa menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari putri pertamanya yang selalu saja menolak untuk di oprasi.
"Sulis, Bunda mohon kamu mau di oprasi, Bunda akan melakukan apa pun asal kamu mau di oprasi, jangan terus menyiksa dirimu dengan rasa sakit ini."
Entah kenapa tiba-tiba saja mulut Anisa mengatakan itu tanpa sadar. Sulis tersenyum di dalam hatinya saat mendengar ucapan dari Bundanya.
Ucapan ini lah yang Sulis inginkan dari mulut salah satu dari mereka, agar ia bisa menjalankan misinya dengan lancar.
Anisa yang tidak mendapat jawaban dari putri pertamanya, ia langsung bertanya lagi.
"Kamu menginginkan apa? Bunda pasti akan mencoba mengabulkannya asal kamu mau di oprasi."
"Bunda serus akan menuruti keinginanku?"
"Iya nak, Bunda akan berusaha untuk mengabulkannya."
__ADS_1
"Sebelum Sulis melakukan oprasi Sulis ingin menikan dengan Arkan, Bunda. Kalau pun oprasi itu gagal, Sulis tidak akan menyesal karena telah memilikinya."
Anisa sangat terkejut dengan permintaan putri pertamanya yang tidak masuk akal, bagai mana bisa di saat seperti ini putri pertamanya meminta hal yang sangat tidak mungkin.
Mata Suci mulai memerah saat mendengar ucapan dari kakaknya, ia tidak menyangka kalau kakaknya akan menggunkan penyakitnya untuk meminta menikah dengan suaminya, apa lagi ia sedang mengandung, apa tidak bisa menghargai perasaan ia sedikit, ia sudah daim saat di pitnah menjadi orang ke tiga dalam hubungan kakaknya dan Arkan.
Namen sekarang permintaan kakanya sangat tidak masuk akal.
Arkan sangat terkejut atas permintaan dari Sulis, ia sedikit menyesal karena pernah menjalin hubungan bersama Sulis.
Sulis adalah wanita yang sangat egois menurut Arkan, ia tidak berpikir perasaan adiknya yang akan hancur karena permintaan konyolnya.
"Nak, jangan meminta hal yang tidak mungkin, Arkan adalah suami adikmu, apa kamu tidak berpikir? Itu adalah permintaan yang tidak bisa Bunda kabulkan."
"Bukan'kah tadi Bunda akan berusaha mengabulkannya, tapi kenapa sekarang tidak bisa?"
"Suci sedang hamil nak, harus ingat itu. Jangan buat kekacauan lagi, Bunda mohon, biarkan adikmu bahagia bersama Arkan."
"Sulis tidak meminta untuk Arkan menceraikan adek Bun. Sulis hanya ingin menjadi istri ke duanya, itu permintaan sangat mudah, tidak sampai menghancurkan hati adek, karena adek masih tetap menjadi istri Arkan."
Anisa tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi seperti ini, ia tidak menyangka kalau putri pertamanya yang ia didik dengan kasih sayang itu ternyata menjadi Gadis yang sangat egois, tanpa berpikir kalau dulu telah membuang Arkan dan termasuk menghina Arkan habis-habisan.
Arkan menggenggam tangan kiri istrinya, ia tau tubuh istrinya sudah mulai gemetar, bisa ia rasakan tangannya begitu dingin.
"Ya Allah kenapa menjadi serumut ini, istri hamba baru saja lebih baik, dan sekarang sudah di hadapkan dengan permintaan yang tidak masuk akal." batin Arkan
"Bunda tau, tapi kenapa kamu harus meminta di poligami? Lelaki di luar sana yang masih singel banyak, kenapa harus meminta suami orang? Apa lagi itu suami adikmu."
"Kalau memang Bunda tidak bisa mengabulkannya tidak apa-apa, tapi jangan berharap kalau Sulis mau di oprasi."
Anisa menghela nafas berat untuk ke sekian kalinya, ia melihat ke arah putri ke duanya, ia tau kalau sekarang tubuh putri ke duanya gemetar.
"Kenapa harus menjadi seperti ini, kenapa semuanya menjadi kacau?" batin Anisa
__ADS_1
Anisa perlahan mendekati putri ke duanya, ia akan beruasa untuk mengabulkan permintaan putri pertamanya, ia tidak ingin putri pertamanya terus saja di rawat di rumah sakit, ia ingin putri pertamanya sembuh.
"Nak, apa kamu setuju dengan permintaan kakamu?"
Suci menggeleng pelan, dari kecil ia sangat membenci poligami, ia bahkan lebih benci kenapa poligami di perbolehkan dalam agamanya, tapi meminta berpoligami dengan dua wanita dari kaka kandungnya sendiri, itu adalah sangat di larang oleh agama, karena hukumnya haram.
Mata Suci yang memerah hingga air matanya langsung jatuh.
"Apa pada akhirnya hamba harus mundur dari pernikahan hamba? Ya Allah, hamba tidak sanggup kalau di beri cobaan seperti ini, ini adalah cobaan terbesar dalam hidup hamba selain meninggalnya Ayah." batin Suci
Suci dari kecil tidak pernah mengeluh dalam penyakitnya, ia selalu semangat bahwa Allah akan mengangkat penyakitnya, tapi kali ini, ia mengeluh karena permintaan kakanya yang menurit ia berlebihan.
"Bunda mohon nak, jadikan kakamu istri ke dua Arkan."
Suci menggeleng pelan untuk yang ke dua kalinya, ia merasa mulutnya terkunci.
"Bunda, Arkan tidak akan melakukan poligami, bahkan Arkan saja tidak bisa membagi waktu untuk istri dan pekerjaan Arkan. Suci selama ini selalu di paling akhirkan karena Arkan harus bekerja, Arkan tidak ingin menambah dosa Arkan pada Suci."
Arkan berbicara sambil mengeratkan genggaman istrinya, ia tidak tau kalau berpoligami dengan ke dua wanita sodara kandung itu haram, tapi yang jelas ia tidak akan memoligami istrinya.
Istrinya sudah sangat sempurna dalam hal apa pun, Arkan tidak pernah berpikir untuk memelogami istrinya, semua yang ada di wanita lain di miliki oleh istrinya.
"Arkan, Suci, Bunda mohon, agar Sulis mau di oprasi."
Arkan diam saja, ia melihat ke arah istrinya yang masih diam membisu, tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.
Anisa menghela nafas berat, saat melihat putri ke duanya hanya diam, ia tau putri ke duanya sangat kecewa.
Anisa tau putri ke duanya paling membenci poligami, dan sekarang ia sedang meminta putri ke duanya agar mau melakukan poligami.
"Bunda mohon nak, tolong berkorban untuk kakamu, dulu kakamu pernah berkorban untukmu hingga di rawat di rumah sakit 10 hari, kali ini Bunda minta kamu juga untuk berkorban demi kakamu."
Tangan kanan Suci meremas gamisnya sambil beristighfar, bagai mana bisa Bundanya menyuruh ia berkorban sebesar itu, apa lagi ia sedang hamil.
__ADS_1
"Apa Bunda tidak tau, kalau berpoligami dengan kaka itu adalah haram? Bagai mana bisa Bunda meminta Uci untuk melakukan hal yang di larang agama?"
Air mata Suci langsung mengalir deras, permintaan konyol macam apa dari kakanya, apa permintaannya itu tidak menyakiti hatinya, karena ia sekarang sedang hamil, ia tidak mungkin mundur dari pernikahanya, kalau saja ia belum hamil, mungkin ia akan mundur dari pernikahannya.