Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 82 Kabar bahagia


__ADS_3

Sudah 1 minggu Arkan dan istrinya pergi berlibur, saat mereka berdua keluar dari hotel banyak orang yang berbisik-bisik padanya, tapi hingga sekarang Arkan dan istrinya masih belum tau tentang berita itu.


Mereka berdua hanya fokus dengan acara liburannya. Bahkan saat ada orang-orang yang berbisik-bisik mereka hanya cuek saja.


Arkan dan istrinya sudah pulang dari hotel laut biru hari ini, mereka berdua sudah datang pukul 14.00WIB.


Setelah beres sholat isya mereka berdua memutuskan untuk makan malam. Arkan merangkul pinggang istrinya keluar dari kamar hingga mereka sampai di meja makan.


"Mama yang masak?"


Arkan langsung bertanya pada mamanya saat melihat mamanya keluar dari dapur membawa makanan.


"Iya sayang, mama mau menyambut menantu mama yang baru pulang berlibur, sayang dong kalau mama belajar masak dari menantu mama, tapi masih belum di praktekin juga, kalau kurang bumbu anggap saja masih belajar."


"Yang penting mama ada kemajuan dan ada keniatan mau masak, enak tidaknya yang penting bisa di cerna dengan baik oleh perut."


Bagas memang tidak mempedulikan rasanya, yang jelas ia senang saat istrinya mau belajar memasak.


Arkan langsung menggeser kursi untuk istrinya duduk, lalu ia juga langsung duduk.


Bagas dan istrinya bisa melihat putranya dan menantunya tersenyum dengan mata yang berbinar, itu artinya putranya dan menantunya belum tau tentang beredar berita di intrnet dan televisi.


"Apa kalian tidak ingin ada yang di omongin sama mama dan papa?"


Bagas membuka pembicaraan sebelum makan.


"Ternyata Arkan tidak bisa bohong iya sama papa?"


Arkan berbicara sambil tersenyum lebar.


"Apa yang membuat kalian bahagia?"


"Nanti setelah makan saja pa, kasian Suci sudah lapar."


"Baiklah kalau begitu kita makan terlebih dahulu."


Arkan langsung memimpin do'a makan seperti biasanya, lalu mereka baru memulai makan.

__ADS_1


Arkan langsung menyuapi istrinya sambil menyuapi dirinya sendiri.


Setelah mereka selsai makan, mereka langsung duduk di ruang keluarga. Bagas dan istrinya sudah siap untuk mendengar cerita dari putra dan menantunya.


"Jadi apa yang membuat kalian bahagia?"


Bagas sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang membuat putra tirinya dan menantunya itu selalu saja tersenyum.


"Papa sebentar lagi bakalan punya cucu."


"Serius?!"


Bagas bertanya sambil tersenyum lebar, walau pun sudah tau kalau menantunya memiliki tanda-tanda hamil, tapi ia juga belum mendengar langsung dari mulut putra tirinya dan menantunya.


"Iya pa."


Bagas langsung bersujud syukur di lantai saat mendengar ia akan segera memiliki cucu. Keyla langsung mendekati menantunya, lalu langsung memeluk menantunya.


"Terima kasih sudah terus saja memberikan kebahagiaan untuk Arkan dan keluarga ini sayang."


"Jangan berterima kasih ma, Uci sangat bahagia memiliki mas Arkan dan ke dua mertua seperti kalian yang selalu menganggap Uci sebagai putri kalian."


"Selamat iya nak, belajarlah menjadi suami dan papa yang baik untuk keluarga kecil kalian."


"Iya pa, terima kasih karena papa selalu menjadi sosok papa yang baik untuk Arkan. Arkan pasti akan menjadi papa yang baik seperti papa yang selalu menjadi papa yang baik untik Arkan.


Bagas dan Arkan langsung melepaskan pelukannya. Mereka berdua melihat ke arah Keyla dan Suci yang masih berpelukan sambil tersenyum.


Keyla dan Suci melepaskan pelukannya. Suci sangat terkejut saat melihat mama mertuanya meneteskan air mata, ia langsung menghapus air mata mama mertuanya yang ada di pipinya.


"Mama ko menangis?"


"Ini tangisan bahagia sayang, kamu selalu saja membuat keluarga ini bahagia."


Keyla berbicara sambil mengelus pelan kepala menantunya, ia sangat bahagia saat tau menantunya benar-benar hamil, walau pun saat itu ia sudah yakin kalau menantunya itu hamil, tapi ia masih belum yakin karena belum di priksa oleh dokter atau melakukan tes kehamilan menggunakan tespek.


Di saat mereka sedang merasakan kebahagiaan, Indra datang dengan wajah emosi karena melihat berita itu, tapi kaka tirinya masih belum memberikan tindakan apa-apa.

__ADS_1


"Abang santai-santai saja?!"


Tanpa salam dan permisi Indra langsung marah saat melihat wajah tenang dari kaka tirinya.


Arkan langsung berdiri saat melihat raut wajah marah dari adik tirinya.


"Kamu kenapa Indra? Kamu tidak biasanya datang-datang tanpa salam pada abang, tapi tiba-tiba marah."


"Abang habis dari mana saja?! Di saat seluruh intrnet gempar?!"


Indra memang tidak melihat foto yang di unggah oleh kaka tirinya di Instagram, bahkan ia juga tidak melihat foto-foto kaka tirinya bersama istrinya di unggah ulang oleh akun gosip, yang ia lihat hanya ada beberapa akun gosip yang mengatakan Suci adalah orang ke tiga di dalam hubungan kaka tirinya dan Sulis.


"Memangnya kenapa? Apa abang salah kalau abang mengunggah foto liburan abang sama istri abang di Insagram?"


Arkan memang tidak mengerti maksud dari adik tirinya, tapi yang ia ingat ia hanya mengunggah foto bersama istrinya di Instagram, setelah itu sampai sekarang ia belum membuka ponselnya lagi.


Indra mendengus kesal saat mendengar pertanyaan dari kaka tirinya, itu artinya kaka tirinya masih tidak tau, jelas-jelas berita itu sudah beredar luas 2 hari yang lalu.


"Kamu itu harusnya tanya abang bagai mana luburannya lancar? Bukan marah-marah tidak jelas, kamu sebentar lagi akan menjadi om, jadi rubah sifat burukmu itu Indra, jangan membawa pengaruh buruk sama calon ponakanmu."


Arkan berbicara masih dengan suara tenang, walau pun ia paling tidak suka ada orang yang berbicara dengan suara nada tinggi, tapi bagai mana pun juga Indra masih berusia 19 tahun, memang dalam cara berpikir Indra sangat jauh berbeda dengan istrinya yang jauh lebih muda dari Indra.


Namen Arkan sadar kalau cara berpikir ia juga kalah dengan cara berpikir istrinya, tapi tetap saja Indra dari usia 16 tahun tidak pernah berubah selalu emosian, kalau ia tidak melawan dengan nada suara tegas juga, Indra akan semakin emosi dan semakin berani.


"Ma-maksud abang apa?"


Indra bertanya dengan suara terbata-bata, otaknya tidak bisa berpikir karena sudah terlanjur di penuhi amarah.


"Istri abang sedang hamil Indra, kamu itu bisa marah-marah tanpa tau berpikir, tapi mencerna kata-kata abang saja tidak bisa."


"Iya maaf bang, habis sudah emosi karena abang masih saja belum bertindak. Selamat iya bang, akhirnya aku bakalan jadi om."


Indra langsung memeluk kaka tirinya ala pelukan lelaki sesaat, walau pun hatinya masih mencintai Suci, tapi ia sangat bahagia saat mendengar kehamilan dari Suci.


Itu artinya yang di ucapkan kaka tirinya itu benar, kalau kaka tirinya sungguh-sungguh mencintai Suci, bukan karena ingin mendapatkan perusahaan Wijaya Grup.


Bagas dan Keyla tersenyum bahagia saat melihat raut wajah senang dari putra ke duanya, mereka berharap Indra bisa mengubur dalam-dalam rasa cintanya terhadap Suci yang sekarang sudah bahagia dengan putra pertamanya.

__ADS_1


Suci juga ikut tersenyum saat sesekali melihat Indra, ia berharap kalau kabar baiknya tidak menyakiti hati Indra, ia berharap kalau Indra membuang cinta untuknya, ia tidak ingin melihat Indra terus terluka.


__ADS_2