
Pernikahan Arkan dan Suci semakin bahagia bertambah bulan dan bertambah tahun, pernikahan mereka di warnia dengan tawa. Ke dua anak mereka juga sudah berusia 3 tahun, Aziz dan Aziza adalah anak yang sangat aktif dan pintar hingga membuat ke dua orang tuanya kualahan.
Namun hal yang paling Suci bersama suami syukuri, ke dua buah hatinya sangat penurut saat di suruh mengaji. Arkan sengaja mengajari tentang agama dari kecil, ia tidak mau kalau ke dua buah hatinya itu salah jalan.
Menurut Arkan cukup ia yang pernah salah jalan dan istrinya, ia tidak ingin ke dua buah hatinya salah jalan.
1 tahun yang lalu Arkan juga mendirikan pesantren dan sekarang ia sudah memiliki 300 santri, ia ingin mengamalkan ilmu dan hartanya di gunakan dengan sangat bermanfaat agar kelak ia bisa memiliki bekal untuk di akhirat.
Sekarang Arkan dan istri termasuk ke dua buah hatinya sedang bermain di taman kota. Sesekali mereka semua tertawa saat melihat kelakuan Aziza yang sangat iseng pada sang Ayah.
"Ayah, Ayah."
Aziza memanggil Ayahnya sambil sesekali mengoleskan sambal kacang batagor pada hidung Ayahnya. Walau pun usianya baru 3 tahun mereka sudah tidak cedal lagi.
"Bukan ke hidung de Iza, tapi ke mulut Ayah."
Aziz tidak suka saat melihat adiknya yang sangat iseng pada Ayahnya.
"Ah bang Az enggak asik!"
Aziza berbicara sambil merucutkan bibirnya dan itu mampu membuat Arkan bersama istrinya tertawa saat melihat wajah gemas putrinya. Arkan dan istrinya langsung mendekati pipi Aziza mereka akan menyambut pipi cabby itu dengan ciuman, tapi naas Aziza yang aktif saat akan di cium ia langsung menunduk hingga pipi Arkan dan istrinya saling menempel.
"Kata orang-orang Ayah sama Bunda itu pacaran loh."
Setelah mengatakan itu Aziza terawa hingga membuat Aziz menyentil telinga adiknya.
"Dosa jangan ngomongin pacaran kata Bunda juga!"
Walau pun usia Aziz baru 3 tahun, tapi Aziz sudah mengerti tentang agama karena ia memang sangat mirip dengan Suci yang selalu mementingkan agama.
"Abang Az enggak asik, dosa terus yang di pikirin!"
Suci yang mendengar ucapan dari putrinya ia mengelus kepala putrinya yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Memangnya Iza mau kalau nanti di bakar di dalam api neraka?"
"Iza tidak mau Bunda, itu sangat panas yang ada nanti Iza meleleh seperi permen karet Bunda."
"Bahkan mungkin lebih dari permen karet sayang."
Iza langsung memeluk Bundanya dengan erat.
"Iza takut Bunda, Iza tidak mau masuk neraka."
Suci juga membalas pelukan dari putrinya dengan sangat erat sambil mengelus kepalanya.
"Iya makannya Iza jangan bicara seperti itu sayang."
"Iya Iza tau Bunda, Iza tidak akan mengatakan itu, Iza akan mengikuti jejak Bunda."
"Jadilah diri Iza sendiri, selama itu masih di batas kewajaran."
Apa yang mau di ikuti jejak ia menurut Suci, ia wanita pemabuk saat remajanya, mana boleh putrinya mengikuti jejaknya untuk itu ia mendidik ke dua buah hatinya dengan memberikan pengetahuan agama, ia tidak mau kalau ke dua buah hatinya salah jalan.
"Semuanya hanya masa lalu Bunda."
Arkan berbicara sambil mengelus kepala istrinya. Suci menganggukan kepalanya sambil tersenyum di balik cadarnya. Semua memang masa lalu, tapi hatinya tetap sama ia akan merasakan sakit setiap kali mengingat pernah terjun bebas ke dunia malam.
Namun Suci sendiri selalu merasa kalau bukan karena masa lalu itu, mungkin ia belum hijrah hingga sampai sekarang dan mungkin juga ia tidak menemukan lelaki baik seperti Arkan, karena yang ia tau wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik, jodoh kita adalah cerminan diri kita.
Masa lalu Suci dan suaminya sama, jadi tentu saja bisa di bilang kalau jodoh itu cerminan diri kita.
"Makannya kalau takut Iza jangan ngomong gitu iya kan Bunda?"
Aziz bertanya pada Bundanya sambil tersenyum gemas.
"Iya sayang."
__ADS_1
Suci menjawab ucapan dari putranya dengan tangan kanan yang mengelus putranya, sedangkan tangan kirinya masih meneluk erat putrinya.
"Kelak kalian berdua kalau sudah besar menjadi seperti Bunda."
"Iya dong Ayah, Az ingin seperti Bunda yang selalu memberikan ceramah pada anak-anak santri."
Setelah suaminya mendirikan pesantren Suci selalu aktif dalam hal apa pun, dari mengajar santriwati, ceramah di setiap acara pondok, termasuk ia juga ceramah di pengajian ibu-ibu, jelas semua itu membuat ke dua buah hatinya dekat dengan agama karena ia lebih mengajarkan agama terlebih dahulu pada ke dua buah hatinya.
Sedangkan ilmu sosial menurut Suci ke dua buah hatinya bisa menuntutnya di sekolah, jadi tentang agama yang terpenting.
"Iza juga ingin seperti Bunda kelak, jadi Ustazah."
"Iya semoga cita-cita Az dan Iza terkabul iya nak."
"Amin."
Mereka menjawab serempak. Banyak orang di taman yang kagum pada rumah tangga Arkan dan Suci yang sangat harmonis, bahkan setiap kali di wawancarai oleh wartawan kemesraan mereka selalu terlihat jelas tanpa rekayasa.
Ada banyak juga yang masih singel ingin memiliki rumah tangga seperti Arkan dan Suci yang selalu terlihat harmonis. Apa lagi Arkan sekarang hanya fokus pada keluarga, ia pergi ke kantor hanya akan ada pertemuan tertentu, sedangkan jika tidak begitu penting, Rangga yang memegang kendali termasuk Ikbal yang memegang kendali perusahaan satunya lagi.
Arkan hanya fokus pada keluarga kecilnya, memberikan kasih sayang yang lebih, ia selalu berusaha menjadi Ayah yang baik agar ke dua buah hatinya tidak merasakan seperti ia dan istrinya yang kurang dari kasih sayang orang tua karena Ayah ia dan Ayah istrinya sudah meninggal dunia.
Arkan dan istrinya tidak mau kalau ke dua buah hatinya salah langkah karena kurang kasih sayang dari mereka, tapi mereka berdua juga tidak terlalu memanjakan ke dua buah hatinya, mereka sudah mendidik ke dua buah hatinya itu agar melakukan apa pun sendiri, namun masih dalam pengawasan mereka.
Arkan dan istrinya mau ke dua buah hatinya tidak manja dan tidak sombong, jadi walau pun ia memiliki harta yang berlimpah, bukan berarti ia seenaknya memanjakan ke dua buah hatinya.
Apa lagi menurut Arkan yang di ucapkan istrinya benar, kalau harta adalah titipan dari Allah, kapan pun Allah ingin mengambilnya, Allah akan mudah mengambilnya, dan berusaha lah manfaatkan harta untuk hal yang baik selagi mampu, karena belum tentu nanti kita selalu mampu, roda selalu berputar kadang di atas kadang di bawah, begitu pun dengan harta kita, tidak selamanya harta kita tetap utuh, karena yakin akan ada saatnya Allah menguji kita.
Kata yang di ucapkan istrinya selalu menjadi pedoman untuk kehidupan Arkan agar tidak memanjakan ke dua buah hatinya, dan ia lebih memilih memberikan kasih sayangnya dengan perhatian dari pada dengan uang.
...****************...
Hai apa kabar, ini adalah paret bonus Arkan dan Suci, terima kasih selalu membaca karya Author. Jangan lupa mampir di karya baruku
__ADS_1