Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 15 Sama-sama memiliki kesedihan


__ADS_3

Setelah berpamitan pada ke tiga Ustazah, sekarang Suci berjalan ke arah rumah Kiai, ia berjalan tidak seperti biasannya, biasanya setiap ke rumah Kiai, ia akan semangat dan senang, tapi sekarang berbeda, ada rasa kuatir di hatinya, ia belum siap bertemu Gus Ali, pasti rasanya sangat canggung, walau pun hatinya ingin berpamitan juga pada Gus Ali.


" Assalamulailaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Mereka menjawab serempak dari dalam. Gus Arta langsung berjalan ke arah pintu, ia langsung membuka pintu. Gus Arta adalah anak dari kaka Ayahnya Gus Ali.


" Eh Suci."


" Umi sama Abi ada Gus?"


" Ada, termasuk Ali juga ada, mari masuk."


Suci tersenyum getir, biasanya kalau Gus Arta mengatakan Gus Ali, ia tersenyum bahagia, tapi berbeda dengan sekarang, ia tersenyum terluka di hatinya.


" Iya Gus."


Gus Arta berjalan lebih dulu, Suci mengikuti Gus Arta sampai ke ruang keluarga. Suci langsung mencim tangan Khadijah. Seperti biasa, ia akan menungkupkan tangan pada Gus Ali dan Kiai Habibi.

__ADS_1


" Duduk Neng."


" Iya Umi."


Suci duduk di depan Khadijah, ia menatap Gus Ali sekilas, ia bisa melihat mata Gus Ali yang penuh dengan kesedihan dan mata yang memerah. Sedangkan Gus Arta hanya menghela nafas pelan, ia tau kalau adik sepupunya sudah tidak baik-baik saja, terlebih Gus Ali sudah menceritakan pada ia kalau Suci sudah memiliki calon suami dan akan menikah, di sini hanya Khadijah yang belum mengetahui kalau Suci akan menikah, karena Kiai Habibi mau pun Gus Ali tidak menceritakannya, mereka hanya ingin Suci sendiri yang akan bercerita.


" Umi, neng kesini mau minta maaf, neng selama ini selalu merepotkan Umi dan Abi. Neng mau bilang kalau neng mau berhenti mondok."


Jujur saja Khadijah sangat terkejut dengan ucapan dari Suci, ia yakin itu ada kaitannya dengan lamaran putranya kemarin, sedangkan ke tiga lelaki yang ada di ruang keluarga sama sekali tidak terkejut, karena mereka tau Suci akan menikah.


" Kenapa berhenti neng? Umi tidak keberatan kalau neng menolak Ali, jangan di masukan ke dalam hati neng, Umi tau kalau cinta tidak bisa di paksakan."


" Maafin Neng Gus. Neng sudah mengecewakan Gus. Semoga Gus benar-benar ikhlas melepas neng, dan bisa mendapatkan pengganti neng." batin Suci


Suci menunduk, matanya sudah berkabut, ia sudah ingin menangis, ucapannya kemarin saat bilang pada bi Minah kalau malam itu adalah terakhir untuk menangisi masalah percintaannya, ternyata ia bohong, ia tidak semudah itu untuk melupakan lelaki yang sudah membuat ia sungguh-sungguh berubah, terlebih Gus Ali adalah lelaki yang di sebut namannya di setiap sholat sepertiga malamnya, tidak mudah untuk menghapus namanya di hati ia begitu saja.


Gus Ali juga ikut menunduk, hatinya memang sangat sedih saat wanita yang ia cintai selama 3 tahun ini menolaknya, tapi lebih sedih lagi saat melihat mata wanita yang di cintainya penuh kesedihan.


Gus Ali memang sudah jatuh cinta saat pertemuan pertama, saat Suci memanggilnya dengan panggilan Mas, hatinya berdebar hebat dan detak jantungnya saat itu tidak bisa ia kontrol. Bukan hanya sampai di situ, saat memiliki kelas di kelas Suci, hatinya selalu berdebar, terlebih Suci selalu jujur tanpa rasa malu pada Gus Ali saat itu.

__ADS_1


Namen setelah 3 bulan Suci mondok, Gus Ali merasa kalau Suci mulai melangkah mundur, tapi ia selalu menepis perasaan itu, ia berpikir kalau Suci tau banyak tentang agama, untuk itu Suci melangkah mundur. Suci adalah wanita yang di sebut di sholat sepertiga malam Gus Ali, namanya selalu ia sebut, ia selalu meminta pada ya rabbynya agar cintanya benar-benar terbalaskan dan di satukan dengan ikatan pernikahan, tapi sekarang ia tau, kenapa Suci melangkah mundur, karena Suci memang sudah tidak mencintainya, dan menurut ia mungkin Suci saat pertemuan pertama hanya mengaguminya bukan mencintainya, apa lagi buktinya sekarang sudah di depan mata, kalau Suci memilih lelaki lain dari pada ia.


" Neng, saya tidak ridho kalau neng sedih hanya merasa bersalah pada saya, saya akan mencoba ikhlas neng, walau pun tidak semudah itu, jangan pernah menangis, karena itu sama sekali bukan kesalahan neng, cinta tidak bisa memilih pada siapa untuk berlabuh, kalau neng menangis, hati saya semakin sakit neng, sudah cukup saya sedih karena di tolak, saya tidak ingin tambah sedih karena melihat neng seperti ini." batin Gus Ali


Gus Ali ingin sekali mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya, tapi ia hanya bisa berbicara di dalam hatinya, ia merasa bibirnya terasa kelu, saat melihat wanita yang di cintainya penuh kesedihan, apa lagi ia belum pernah melihat mata Suci penuh dengan kesedihan, biasanya ia melihat mata Suci dengan penuh berbinar. Suci yang di tanya Khadijah, ia masih diam, bibirnya sudah tidak sanggup untuk berbicara, dadanya merasa sakit seperti di tusuk-tusuk ribuan pisau.


" Ya Allah, kuatkan hamba, jangan sampai hamba menangis di depan Gus Ali dan Umi." batin Suci


Suci menghela nafas berat, ia ngatur nafasnya yang sudah tidak beraturan karena sudah ingin menangis. Khadijah menatap mata Suci yang sudah ingin menangis, ia menjadi bingung, seharusnya yang merasa sedih cukup putranya saja, tapi ia juga melihat Suci seperti merasakan hal yang sama, seperti yang di rasakan oleh putranya, ia bisa melihat banyak kekecewaan di hati Suci.


" Ada apa neng? Bilang sama Umi, bukan'kah Umi selalu bilang kalau neng juga putri Umi, apa pun masalah neng harus bilang sama Umi, jangang pernah memendam rasa sakit seorang diri."


Suci hanya menggeleng pelan.


" Semakin aku melangkah mundur dan memilihnya, ternyata hatiku semakin tersakiti, apa lagi Gus Ali yang hatinya sengaja aku sakiti, pasti lebih sakit, aku saja merasakan begitu sakit, jelas-jelas ini keputusanku sendiri." batin Suci


Gus Arta hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menjadi bingung dengan Suci, yang seolah-olah merasa tersakiti, jelas-jelas di sini yang tersakiti adalah adik sepupunya, karena lamarannya telah di tolak, seharunya Suci senang karena akan menikah, yang Gus Arta yakini kalau Suci juga mungkin mencintai lelaki yang akan menikahi Suci, karena Suci menolak adik sepupunya.


" Aku merasa seperti melihat sinetron, yang tersakiti itu Ali, tapi kenapa seolah-olah yang lebih tersakiti itu Suci? Atau jangan-jangan Suci merasa bersalah karena cinta Ali tidak terbalaskan?" batin Gus Arta

__ADS_1


Suci yang semakin menunduk, akhirnya air mata yang ia tahan menetes juga, tapi ia berusaha untuk menahan air matanya yang akan menetes lagi


__ADS_2