
Sudah 2 Minggu di mana kejadian Suci jatuh, 2 Minggu pula dokter Viona tinggal di rumah Erlangga.
Suci sangat senang saat ada dokter Viona di rumah itu, ia selalu mengobrol-ngobrol, dari menceritakan masa lalunya dan kisah percintaannya bersama sang suami.
Bahkan Suci merasa tidak malu lagi pada dokter Viona, tidak ada rahasia pada dokter Viona, ia merasa kalau dokter Viona itu bukan hanya Tante dari suaminya, tapi ia merasa seperti kakanya sendiri.
Terlebih dokter Viona yang sangat perhatian membuat Suci lebih senang lagi, bahkan ia juga mendengar curhatan kisah cinta dari dokter Viona.
Sore ini Suci dan dokter Viona baru saja pulang habis berjalan-jalan, sesuai ucapan dokter Viona 2 Minggu yang lalu yang akan membawa Suci pergi keliling kota itu.
Arkan yang melihat istrinya turun dari mobil bersama dokter Viona, ia tersenyum lebar.
"Assalamualaikum mas."
"Wa'alaikumsalam sayang."
Suci langsung mencium tangan suaminya, di balas kecupan singkat oleh suaminya.
"Uci, Tante masuk duluan iya?"
"Iya Tante, terima kasih untuk hari ini."
"Sama-sama Uci."
Dokter Viona langsung masuk ke dalam rumah, di luar tinggal ada Arkan dan istrinya.
"Ayo masuk."
"Mas gendong, aku capek."
Suci berbicara sambil merentangkan ke dua tanganya, ingin di gendong oleh suaminya.
Arkan hanya mengangguk pelan, lalu ia langsung menggendong istrinya sambil tersenyum lebar.
Arrabella yang sedang duduk di ruang tamu, ia sangat kesal saat melihat Arkan menggendong Suci, menurut ia Suci terlalu manja dan kanak-kanakan.
"Dasar wanita ular! Selalu saja bertingkah manja, menyebalkan!" batin Arrabella
Sudah 2 Minggu ini Arkan mendiamkan Arrabella, bahkan seolah-olah Arrabella itu hanya angin lalu, saat ia makan atau saat ia kumpul bersama, ia tidak pernah berbicara walau pun hanya sekata pun.
Sedangkan istrinya selalu menegur suaminya untuk tidak mengabaikan Arrabella, tapi tetap saja Arkan tetap Arkan yang keras kepala jika sudah mengganggu istrinya.
Arkan sampai di kamar, ia langsung menurunkan istrinya di atas ranjang, lalu langsung melepaskan cadar istrinya.
__ADS_1
"Jadi sekarang sayang sudah senang karena sudah di ajak keliling kota oleh Tante?"
Suci hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum lebar.
"Dede juga katanya senang mas."
Arkan mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, akhirnya setelah beberapa hari melihat istrinya yang sering merasa keram oleh kandunganya, kini ia bisa melihat senyum ceriah dari istrinya lagi.
Arkan mengecup kening istrinya sekilas, lalu ia mengelus pelan perut istrinya yang semakin berisi.
"Jangan bandel iya dede, jangan siksa Bunda terus, Bunda sudah menderita akhir-akhir ini karena dede, jadi dede harus selalu sehat agar Bunda tidak merasakan sakit lagi."
Arkan langsung mengecup perut berisi istrinya sambil tersenyum senang karena sudah 2 hari ini istrinya tidak merasakan sakit.
"Mas kata Tante besok kita harus ke rumah sakit untuk melakukan USG."
"Iya sayang. Sayang mau mas masakin apa?"
Memang semejak istrinya jatuh Arkan selalu masak untuk istrinya, ia juga selalu belajar memasak setiap harinya hanya untuk membahagiakan istringa yang sering merasa keram di perutnya.
"Aku tidak ingin di masakin apa-apa mas, kita makan yang sudah di sediakan oleh juru masak saja."
"Iya sudah sayang mandi, sebentar lagi magrib, kita sholat berjama'ah."
Suci hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, ia langsung mencium bibir suaminya sekilas.
"Iya sayang."
Setelah istrinya pergi ke kamar mandi Arkan langsung menyiapkan peralatan sholat untuk mereka berdua.
Sudah 12 hari Arkan dan istrinya tidak bisa sholat berjama'ah karena istrinya yang selalu merasakan sakit di perutnya membuat Arkan selalu memberikan istrinya obat tidur, karena ia tidak tega kalau istrinya terus merasakan sakit.
Walau pun Arkan tau obat tidur tidak boleh di komsumsi terus menerus oleh istrinya karena tidak baik untuk kesehatan istrinya, tapi mau bagai mana lagi, hanya itu cara satu-satunya agar ia tidak melihat istrinya tersiksa.
Setelah istrinya keluar dari kamar mandi Arkan juga langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sekarang mereka sedang melaksanakan sholat magrib, ada rasa bahagia di hati Suci setelah 12 hari ia tidak bisa sholat berjama'ah bersama suaminya.
Mereka selsai sholat dan sekarang suaminya sedang membaca do'a, sementara Suci sambil mengatakan amin, ia berkali-kali mengucap syukur karena Allah sudah mengangkat rasa sakit yang ada di perutnya.
"Terima kasih ya Allah, sudah mengangkat rasa sakit di perut hamba, terima kasih karena terus memberikan hamba kekuatan untuk terus menerima ujian dari engkau." batin Suci
Hingga tidak terasa air mata Suci membasahi pipi, bukan air mata rasa kecewa, tapi air mata rasa syukurnya pada sang pencipta.
__ADS_1
Ujian apa pun yang Suci terima, ia selalu mensyukurinya, karena ia selalu percaya kalau sang pencipta yang memberikan ujian dan sang pencipta juga yang akan mengangkat penyakit itu.
Bagi Suci tugas ia sebagai hamba hanya menerima ujian itu dengan lapang dada dan semakin mendekatkan diri pada sang pencipta, agar iman ia semakin di kuatkan, karena hanya orang-orang yang beriman yang akan selamat dari ujian sang pencipta.
Itu lah yang selalu Suci ingat dalam diri Suci, semejak Suci mendapat keajaiban di club malam, ia selalu percaya pada sang pencipta walau pun cobaan terus saja menerjang rumah tangganya.
Apa lagi yang Suci tau jika sang pencipta memberikan ia banyak ujian, itu artinya sang pencipta sangat sayang padanya.
Setelah selsai berdo'a Suci langsung mencium tangan suaminya di balas kecupan singkat di keningnya oleh suaminya.
"Kenapa menangis sayang?"
Arkan sangat terkejut saat melihat pipi istrinya ada air matanya.
"Aku senang mas, akhirnya aku dan mas bisa sholat berjama'ah lagi."
"Iya sayang. Alhamdulilah sayang sudah bisa sholat berjama'ah lagi, kita harus banyak-banyak bersyukur pada Allah, karena Allah memberikan sayang kesehatan."
"Iya mas."
"Ayo sekarang kita makan."
"Iya mas."
Mereka langsung melepaskan peralatan sholatnya dan merapihkanya, lalu mereka langsung keluar dari kamar.
Setelah mereka sampai di meja makan sudah ada Arrabella yang sedang makan, sedangkan dokter Viona masih menunggu Suci dan Arkan.
"Loh Tante kenapa tidak makan duluan saja?"
Suci langsung duduk di samping dokter Viona.
"Aku sengaja menunggu kalian, habisnya Papa lama banget perginya, sudah 2 hari masih saja belum pulang."
Erlangga memang sudah 2 hari yang lalu memiliki perjalana ke Singapure untuk masalah kerja sama dengan perusahaannya.
"Mungkin belum selsai Tan, ayo kita lebih baik makan."
"Iya, kita lebih baik makan sekarang. Oh iya Ar, besok kamu harus pergi ke rumah sakit untuk melihat pengembangan janin Suci."
"Iya Vi."
Arrabella kesal sendiri, ia merasa seperti nyamuk yang tidak di hiraukan oleh mereka semua, terutama Arkan, yang selalu saja menatap ia dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Jelas-jelas Arrabella sudah minta maaf berkali-kali selama 2 Minggu ini, tapi tetap saja Arkan tidak menerima permuntaan maaf darinya.
Apa lagi Arrabella jugu minta maaf tidak tulus dari hati, ia selalu membenci Suci.