Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 30 Indra


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan dari suaminya semalam, Suci jauh lebih tenang, walau pun ia juga belum yakin apa suaminya itu akan benar menerimanya atau tidak.


Suci sekarang sedang masak nasi goreng, untuk sarapan pagi, ini adalah masakan pertama untuk suaminya dan ke dua mertuanya, senyuman ia tidak pernah pudar, ia merasa lebih senang karena sudah dua kali sholatnya di imami oleh suaminya. Banyak asisten rumah tangga yang memuji Suci, karena melihat Suci yang mau turun ke dapur untuk memasak.


" Den Arkan beruntung, punya istri sholehah, di tambah bisa masak lagi."


" Iya benar, bahkan mau kita bantuin untuk motong sayuran dan ikan tunanya saja tidak boleh."


" Iya, apa lagi motong-motongnya sangat lihai, bahkan bekasnya juga langsung di lap, terus alat-alatnya langsung di cuci."


" Aku juga walau pun wanita kagum padanya, apa lagi kalau lelaki pasti sudah kelpek-kelpek melihat kepribadiannya."


Begitulah pembicaran-pembicaraan dari asisten rumah tangga, bahkan masih banyak pembicaraan lain yang memuji Suci. Setelah selsai menyiapkan nasi goreng, Suci langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mihat suaminya, ternyata suaminya sudah ada di kamar mandi, karena mendengar suara germicik air.


Suci langsung membuka lemari milik suaminya untuk memngambil baju ganti, tapi ia menjadi bingung sendiri, harus di ambilkan kemeja dan jas seperti apa untuk suaminya? Suci hanya berdiri di depan lemari hingga 10 menit, tapi ia masih saja bingung.


" Yang mana iya? Aku jadi bingung sendiri, mana banyak banget lagi."


Arkan yang baru keluar sekitar 2 menit yang lalu, ia tersenyum melihat kebingungan istrinya.


" Yang mana saja Uci, kalau pilihan istri akan tetap mas pakai."


Suci yang mendengar suara suaminya ia langsung membalikan badan, ia sangat tekejut saat suaminya tepat di belakangnya, hingga kakinya itu terpintir dan menyebabkan Suci duduk di pangkuan suaminya.


Arkan dan istrinya saling bertatap mata, hanya bedanya Arkan menatap mata istrinya sambil tersenyum. Sedangkan Suci menatap suaminya dengan tatapan terkejut. Arkan langsung membiskan sesuatu pada istrinya.


" Apa nyaman duduk di pangkuan mas?"


Suci yang mendengar pertanyaan dari suaminya, ia reflek langsung berdiri.


" Maaf mas, aku tidak sengaja."


Wajah Suci memerah, saat mendengar suara suaminya yang begitu seksi, membuatnya menjadi malu.


Arkan hanya tersenyum, ia bukan bermaksud untuk menggoda istrinya, tapi kalau istrinya berlama-lama duduk di pangkuannya, maka si juniornya akan bangun, terlebih sekarang masih pagi, masih butuh kehangatan. Suci langsung mengambil setelan baju kerja suamunya.


" Kalau pilihan aku yang ini mas mau?"

__ADS_1


" Iya itu juga boleh."


" Iya sudah mas cepat ganti baju, nanti nasi gorengnya keburu dingin."


Arkan mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari Suci, ini adalah hari kerja, biasanya di rumahnya sarapan nasi goreng hanya hari sabtu dan hari minggu.


" Memangnya kamu suka nasi goreng Uci?"


" Iya mas, memang kenapa? Mas tidak suka? Kalau mas tidak suka nanti aku masakin yang lain buat mas. Mas mau sarapan apa?"


Arkan sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari istrinya, ternyata perbedaan istrinya dan Sulis sangat jauh, bahkan Sulis hanya bisa untuk masak mie, tapi berbeda dengan istrinya yang bisa masak.


" Oh tidak, mas juga sangat menyukai nasi goreng, apa lagi buatan istri, tentu lebih suka."


Suci tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari suaminya. Arkan langsung mengambil baju yang di serahkan oleh Suci, ia langsung mendorong dirinya masuk ke ruangan ganti.


Sedangkan Suci yang melihat itu hanya menggeleng pelan, biasanya seorang lelaki tanpa malu menggnti baju di depan istrinya, bahkan jangkan begitu, melihat suaminya telanjang dada saja tidak.


Suci langsung melihat ponselnya sambil menunggu suaminya, ia berharap sudah ada balasan dari Reyhan, memang benar di situ sudah ada balasan karena saat subuh ia bertanya kapan pulang, tapi hanya di balas tidak tau. Arkan sudah selsai mengganti baju, ia mendekati istrinya yang ada di samping ranjang.


Arkan menyerahkan kartu berwarna putih pada istrinya. Suci langsung menggeleng pelan. Suci langsung meletakan ponselnya di meja.


" Aku tidak perlu itu mas."


" Kenapa?"


" Aku masih memilikinya."


Arkan langsung meletakannya di maja, dengan perasaan yang kecewa, jujur saja dalam hidup Arkan, ia tidak suka penolakan.


" Kalau butuh apa-apa nanti kamu pakai saja. Ayo turun."


" Iya mas."


Suci langsung mengambil alih tas yang di bawa suaminya, lalu langsung masuk ke dalam life. Suci bisa menyadari raut wajah suaminya yang murung.


" Mas marah sama aku?"

__ADS_1


Arkan hanya menggeleng pelan, ia memang sedikit kesal sama penolakan istrinya. Suci menghela nafas pelan, ia yakin kalau suaminya itu tersinggung.


" Bukan begitu maksudku mas, aku sama sekali tidak menolak, tapi aku tidak akan menerima nafkah, sebum aku benar-benar sepenuhnya menjalani tugasku sebagai istri mas."


Sebelum Arkan menjawab pertanyaan dari istrinya, tiba-tiba pintu life terbuka, kamar Arkan memang terletak di lantai 13. Arkan melihat ke dua orang tuanya yang sudah duduk di meja makan.


" Ma, pa."


Keyla dan Bagas tersenyum saat mendengar panggilan dari putranya. Suci meletakan tas suaminya di meja tempat guci, ia langsung membantu suaminya untuk duduk di kursi.


" Indra kemana ma?"


" Mungkin masih tidur, semalam setelah pulang dari bandara adikmu langsung pergi ke rumah temannya."


Suci langsung membuka cadarnya, lalu ia langsung mengambilkan nasi goreng untuk suaminya. Bagas menatap wajah menantunya sambil tersenyum, ini pertama kalinya Bagas melihat wajah menantunya tanpa penutup cadar.


" Wah menantu papa cantik banget, pantas saja Arkan langsung suka sama kamu nak Suci."


Bagas memang tau putra tirinya itu kalau di dekati banyak wanita, Arkan selalu menolaknya, dan hanya Sulis satu-satunya wanita yang sangat dekat dengan Arkan dari 5 tahun yang lalu. Suci tersenyum saat mendengar pujian dari Ayah mertuanya. Suci baru juga akan duduk, Indra datang ke meja makan.


" Abang..."


Arkan melihat ke arah Indra sambil tersenyum. Indra langsung mencium tangan kaka tirinya.


" Maaf bang, kemarin pesawatnya di undur satu jam, jadi aku tidak bisa menghadiri pernikahan abang."


" Tidak apa-apa, yakin kamu akan pindah kuliah di jakarta?"


" Iya bang."


Indra dan Arkan memang sangat dekat, walau pun mereka hanya keluarga tiri, tapi di mata Arkan Indra adalah adik kandungnya, begitu pun di mata Indra, ia juga menganggap Arkan kaka kandungnya.


Sedangkan Suci yang melihat ke arah Indra sekilas, tubuhnya membeku, Indra lelaki yang selama ini menjadi nomer dua yang Suci peluk di masa lalu selain Ayahnya, Indra tempat ia bercerita tentang meninggalnya Ayahnya, memang sebelum berteman dengan Indra, Suci memiliki teman lelaki, yaitu Martin, satu kelas yang sama dengan Suci, sedangkan Indra kelasnya di sebelah kelas Suci. Mereka berdua mengambil jurusan yang sama saat SMA, hanya saja Suci di kelas IPA 1 sedangkan Indra di kelas IPA 2.


" Indra, dia kaka iparmu, namanya Suci."


Indra melihat ke arah yang di tujukan kakanya, ia sangat terkejut saat melihat Gadis yang di cintainya selama 3 tahun 6 bulan ini menjadi istri dari kakanya.

__ADS_1


__ADS_2