Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 92 Kekuatiran Rendra


__ADS_3

Sebenarnya Rendra bukan bermaksud untuk menjodohkan cucunya, ia tidak mau nanti cucunya berbuat nekad, akan merusak rumah tangga adiknya atau bisa jadi nanti karirnya berantakan karena terus memikirkan Arkan.


Walau pun Rendra memperlakukan semua cucunya dengan berbeda-beda, bukan berarti ia tidak sayang dengan semua cucunya, tapi ia memperlakukan Suci dengan berbeda karena beban Suci yang memang terlalu berat.


Suci harus mengalami penyakit paru-paru di usianya 5 tahun dan baru sembuh di usianya 7 tahun, lalu Suci mengalami kecelakaan di usianya 9 tahun hingga ko'ma selama 6 bulan lamanya. Setelah itu di usianya 15 tahun Suci sering mengalami darah rendah yang mengakibatkan tubuhnya sering sekali lemas. Belum lagi saat Suci mengijak 16 tahun Ayahnya meninggal dunia, apa lagi Suci paling dekat dengan Ayahnya hingga terjun bebas ke dunia malam untuk melupakan beban yang berat.


Itu kenapa Rendra selalu memperlakukan Suci dengan berbeda dari semua cucunya, karena Suci selalu mendapatkan musibah yang berat, apa lagi saat Suci memiliki penyakit paru-paru Gadis kecil dan mungil itu sama sekali tidak mengeluh dengan penyakitnya, bahkan para orang tua selalu cemas dengan keadaannya, tapi Suci saat itu mengatakan pada ke dua orangnya termasuk pada Rendra.


Tidak ada penyakit yang tidak bisa di sembuhkan Ayah, Bunda, kakek, semua penyakit ada obatnya, kalau ada penyakit tentu ada obatnya. Kata itu yang selalu Rendra dengar dari mulut mungil Suci saat kecil.


"Kenapa kakek selalu saja mementingkan Suci dan Suci kek?!"


Sulis mengepalkan ke dua tangannya, siapa yang tidak marah kalau selalu di perlakukan dengan sangat berbeda, terlebih lagi ia kesal karena kakeknya mengancam ia yang akan membuat ia menderita? Seharusnya seorang kakek menjadi contoh yang baik, tapi kakeknya lebih memilih mengancamnya dari pada berbicara baik-baik.


"Apa kamu tidak pernah berpikir sedikit pun kalau beban hidup Suci terlalu berat? Coba kamu pikirkan sedikit saja tantang kehidupan di masa lalu Suci."


Rendra berbicara tanpa ada nada membentak kali ini, ia ingin Sulis menyadarinya kalau hanya kehidupan Suci yang terlalu berat, bukan hanya kehidupannya, tapi kisah percintaannya pun kandas sebelum di mulai karena Sulis.


Suci harus melepaskan lelaki yang di cintainya hanya untuk menyemangati Arkan, lelaki yang sudah di tinggalkan oleh Sulis, tapi Sulis selalu saja tidak menyadari kehidupan Suci yang sangat berat.


"Tapi semua itu adalah takdir kek, buktinya Suci sekarang baik-baik saja, kakek jangan terlalu berpikir berlebihan, memang kakek saja tidak pernah adil memberikan kasih sayang kakek pada semua cucu kakek."


"Kalau kakek tidak adil, kamu tidak akan bisa berkuliah di Universitas Wijaya, kamu pikir Bundamu mampu membiayaimu tanpa menjual Restorant? Bahkan uang jajanmu itu yang sehari habis hingga 5 juta siapa yang memberikan uang jajan sebesar itu kalau bukan kakek? Kakek berusaha diam selama ini karena kamu adalah paling dewasa dari Suci, tapi kamu tidak pernah berpikir seperti itu, lalu siapa yang meminta untuk menerimamu di Ganesa Grup dulu? Kalau bukan karena kakek kamu tidak akan pernah menjadi model, dengan postur tubuhmu yang pas-pasan dan kecantikanmu yang hanya pas-pasan tidak akan ada yang menerimamu menjadi modelnya. Kamu baru lepas dari bantuan kakek karena Arkan mengambil kamu menjadi modelnya, kalau tanpa Arkan, apa kamu bisa menjadi sukses seperti sekarang?"

__ADS_1


Sulis benar-benar tidak percaya dengan ucapan dari kakeknya kalau selama ini ia juga di perlakukan dengan baik oleh kakeknya, hanya saja kakeknya membantunya secara diam-diam, berbeda dengan Suci yang selalu di utamakan hingga ia sangat iri, tapi nyatanya kakeknya juga sangat menyayangi ia.


"Kamu tetap cucu kakek Lis, gimana pun kelakuan kamu kakek tetap menganggap kamu sebagai cucu kakek. Kakek tau selama ini mungkin kamu benci kakek karena kakek selalu memperlakukan kalian dengan berbeda, tapi kakek pikir kamu adalah Gadis dewasa, tidak perlu pelukan dan perhatian dari kakek, kakek pikir yang kamu butuhkan hanya uang untuk membuat kamu selalu bisa menjadi yang terbaik, apa lagi iqimu itu sangat rendah, sedangkan adikmu selalu tinggi, kakek cuma berharap kalau kamu saat itu bersungguh-sungguh belajar dan buktikan pada kakek kalau kamu juga mampu seperti adikmu, tapi nyatanya penilaian kakek sama kamu itu salah, kamu ternyata memiliki kebencian terhadap kakek."


Rendra menghela nafas berat setelah berbicara banyak, ini pertama kalinya Rendra berbicara banya tanpa menggunakan emosi. Rendra memang menyayangi semua cucunya, ia tidak menyayangi Suci saja, hanya saja Suci adalah cucu yang paling kecil, tentu saja ia menyayanginya dengan perhatian, terlebih hanya Suci yang memiliki kehidupan paling berat.


"Iya sudah kamu lebih baik istirahat, apa lagi ini adalah hari liburmu."


Setelah mengatakan itu Rendra langsung keluar, ia tidak ingin berdebat lagi dengan cucunya yang sangat menguras emosi.


Apa lagi di semua cucunya hanya Sulis yang paling berani menentangnya, sedangkan cucu yang lain tidak ada yang berani menentangnya.


Rendra langsung duduk di ruang keluarga sambil memijit plipisnya yang merasakan pusing karena Sulis, tapi ia juga merasakan sangat bahagia karena Suci sudah hamil.


Semua orang pasti bahagia kalau cucunya itu hamil, begitu pun dengan Rendra yang merasa bahagia karena akan mendapatkan cicit, tapi kekuatiran ia lebih besar dari pada rasa bahagianya.


Anisa mendekati Ayah mertuanya, ia duduk di sofa yang berlawanan.


"Ayah kenapa?"


Rendra yang di tanya oleh menantunya, ia langsung melihat ke arah menantunya.


"Apa kamu sudah tau Suci hamil Nis?"

__ADS_1


Anisa mengangguk pelan. Suci memang sudah mengabari Anisa kalau ia sedang hamil 2 hari sebelum mengadakan konferensi pers.


"Ayah menghuatirkan Suci?"


"Ayah memang sangat menghuatirkan Suci."


"Ayah jangan terlalu memikirkan Suci, Ayah tau sendiri kalau Suci wanita yang kuat, Ayah harus percaya kalau Suci akan selalu baik-baik saja. Kita punya Allah tempat kita untuk mengadu dan meminta pertolongan Yah, jadi jangan terlalu di pikirkan."


Anisa mencoba untuk tidak membuat Ayah mertuanya kuatir, ia tidak ingin kondisi tubuh Ayah mertuanya menjadi menurun hanya karena memikirkan putrnya.


Sebenarnya Anisa juga merasakan hal yang sama, tapi ia sebagai seorang Bunda, ia hanya bisa pasrah pada ya Rabbnya supaya putrinya selalu baik-baik saja.


"Ucapan kamu memang benar, tapi Ayah tetap saja kepikiran, apa lagi ini kehamilan pertamanya."


"Anisa tau Yah, tapi kalau Ayah terus memikirkan Suci, yang ada kondisi Ayah menurun, Ayah harus tetap menjaga kesehatan, jangan berpikir yang tidak-tidak."


Rendra mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Kamu tidak ingin menikah lagi Nis?"


"Tidak Yah, Anisa akan selalu setia dengan mas Ardi."


"Menikah saja Nis, kalau kamu kesepian, Ayah tidak pernah keberatan dari dulu juga."

__ADS_1


Rendra memang sering sekali menyuruh Anisa untuk menikah lagi, tapi Anisa lagi-lagi selalu menolak, bukan apa-apa, ia sangat kasihan pada Anisa yang masih terlalu muda.


__ADS_2