
Suci membuka matanya, menatap mata suaminya yang terlihat menyesal, tapi ia tidak mengerti dengan ucapan dari suaminya yang minta maaf.
" Mas minta maaf untuk apa?"
" Maaf mas tidak sadar hingga tangan mas membuka kancing bajumu, mas benar-benar menyesal, mas tidak bermaksud untuk melakukan yang lebih initim padamu."
Suci sangat terkejut dengan jawaban dari suaminya, matanya mulai memerah, ia lagi-lagi harus di hadapkan dengan rasa kecewa oleh suaminya.
" Jadi mas tidak sadar apa yang mas Arkan lakukan tadi? Lalu setelah sadar mas Arkan menyudahi kegiatannya? Apa mas Arkan sama sekali tidak ingin melakukan hubungan intim denganku?" batin Suci
Suci turun dari pangkuan suaminya, ia duduk di samping suaminya, rasa gemetarnya tadi hilang seketika, di gantikan dengan perasaan kecewa. Tangan kiri Suci meremas baju tidurnya sendiri untuk menyalurkan rasa kecewanya terhadap suaminya. Arkan menatap ke arah istrinya, ia bisa melihat mata istrinya yang memerah akan menangis, dengan perasaan bersalah, ia mengancingkan kembali baju istrinya.
" Maaf, sekali lagi mas minta maaf sayang."
Suci menggeleng pelan, maaf untuk apa? Suci sangat bingung apa yang ada dalam pikiran suaminya.
" Aku ke kamar mandi dulu mas."
Suci langsung berjalan ke arah kamar mandi, air mata yang ia tahan meluncur begitu saja, dadanya sakit. Setelah di kamar mandi Suci langsung menyalakan showor untuk membasahi tubuhnya sendiri tanpa membuka baju, ia bersitighfar berkali-kali di dalam hatinya.
" Apa mas Arkan jijik sama tubuhku ini, hingga sampai sekarang mas Arkan itu belum saja melakukannya? Atau jangan-jangan mas Arkan belum mengikhlaskan kak Sulis sepenuhnya hingga mas Arkan terus saja menundanya?" batin Suci
Pikiran Suci kacau, ia belum pernah pikirannya sekacau ini.
" Aku memang sanggup menghapus namanya dan menggantikannya dengan nama suamiku di hatiku, tapi apa aku sanggup mempertahankan rumah tanggaku tanpa cinta dari suamiku? Yang selalu saja enggan untuk menyentuhku untuk lebih intim?" batin Suci
__ADS_1
Suci bertanya pada hatinya sendiri, ia selama ini selalu sabar menghadapi segalanya, tapi sekarang ia tidak bisa sabar saat mendengar kata-kata dari suaminya yang begitu menyakitkan.
" Mas, sampai kapan mas akan belajar menerimaku sepenuh hati mas? Sampai kapan aku menunggu mas untuk mencintaiku sepenuh hati mas? Aku sudah berdo'a setiap hariku untuk menghapus namanya, tapi mas tidak mau menghapus nama kakaku di hati mas. Aku sekarang tau bagai mana rasanya cinta sepihak seperti Bunda yang Ayah ceritakan, rasanya lebih sakit saat aku melepaskan dia, dan memilih mas Arkan. Aku percaya mas Arkan adalah jodohku, tapi kepercayaan itu sekarang pudar, saat mas Arkan tidak melakukan hal yang lebih."
Air mata Suci terus saja mengalir, ia berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak menyangka kalau kisah percintaannya lagi-lagi harus di hadapkan dengan kekecewaan.
" Ya Allah, kuatkan hamba, kuatkan untuk selalu mempertahankan rumah tangga hamba." batin Suci
Suci berdiri di guyuran shower hingga 30 menit lamanya, tapi perasaan kecewanya masih tetap menyelimuti hatinya, biasanya ia akan menangis di pojokan kamar untuk menyalurkan rasa yang sakit di hatinya, tapi tidak dengan sekarang karena ada suaminya, ia hanya menyalurkannya di guyuran shower, ia harap rasa kecewanya cepat menghilang.
Sedangkan Arkan bingung sendiri di kursi rodanya, ia mondar-mandir dari tadi karena istrinya belum keluar dari kamar mandi, terlebih suara germicik air itu hingga sekarang belum juga berhenti.
" Apa yang Suci lakukan di dalam kamar mandi?" batin Arkan
" Sampai kapan kamu tidak mencintaiku Uci? Sampai kapan kamu akan terus belajar mencintaiku? Apa perlakuan manisku tidak bisa menggerakan hatimu walau pun sedikit saja Uci?" batin Arkan
Arkan bukan hanya menyesal dengan perasaannya, tapi ia juga kecewa dengan hati istrinya yang masih saja belum bisa mencintainya walau pun hanya sedikit. Sudah 1 jam istrinya di dalam kamar mandi, dan suara germicik air masih saja belum berhenti, itu membuat Arkan semakin cemas, ia langsung mengetuk pintu kamar mandi.
Tok-tok
" Sayang! Sedang apa di dalam?! Kenapa lama sekali?!"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, itu membuat Arkan mengetuk pintunya lagi.
Tok-tok
__ADS_1
" Sayang! Buka dong pintunya!"
Masih sama tidak ada jawaban dari kamar mandi. Arkan langsung berteriak lagi
" Mas masuk ke kamar mandi! Kalau kamu masih belum keluar juga!"
Lagi-lagi tidak ada jawaban, itu membuat Arkan membuka pintu kamar mandi perlahan, ia kuatir dengan istrinya. Arkan masuk ke dalam kamar mandi, ia sangat terkejut saat istrinya duduk di bawah guyuran shower dengan ke dua tangannya yang menahan tubuhnya
" Ya Allah! Apa yang kamu lakukan sayang!"
Arkan lagsung mematikan showernya, lalu ia langsung menjatuhkan diri dari kursi rodanya, ia menangkup ke dua pipi istrinya dengan mata yang memerah melihat ke adaan istrinya seperti ini.
" Ya Allah, istighfar sayang, kamu kenapa bilang sama mas? Jangan lakukan ini sayang, kalau kamu benci sama mas, pukul saja mas, jangan menyiksa dirimu seperti ini."
Arkan bisa melihat wajah pucat istrinya dan air mata yang mengalir deras. Suci hanya menggeleng pelan, ia tidak benci dengan suaminya, ia hanya kecewa karena suaminya masih saja tidak mencintainya sepenuh hatinya.
Arkan langsung memeluk istrinya, hatinya sangat sakit, ia tidak menyangka kalau perlakuannya akan membuat istrinya seperti ini, ia bersyukur karena selalu saja menunda untuk malam pertama, kalau tidak ia tidak tau apa yang akan terjadi pada istrinya, bahkan kesalahan hanya membuka dua kancing baju saja, istrinya mandi di guyuran shower hingga 1 jam lamanya, itu pun karena ia masuk, kalau tidak masuk ia juga tidak tau akan menjadi apa nanti kondisi istrinya.
" Sayang, mas benar-benar minta maaf."
Pada akhirnya air mata Arkan juga menetes begitu saja, ia merasa dadanya seperti di tindih beban berat, istrinya bukan hanya tidak mencintainya, tapi di sentuh olehnya saja seperti jiji.
" Lalu untuk apa kamu menawarkan dirimu Uci? Kalau pada akhirnya di sentuh olehku saja seperti jiji, dan kamu seperti menganggapku lelaki yang kotor. Maaf Uci, karena aku mengecewakanmu, untuk kesekian kalinya aku membuatmu menangis, bahkan sekarang lebih parah dari sebelumnya. Uci, kalau kamu ingin mengakhiri semuanya aku ikhlas, aku ikhlas melepaskanmu, aku tidak ingin membuatmu semakin sengsara, terima kasih sudah pernah hadir di hidupku, sudah memberikan aku warna di setiap hariku, mungkin aku tidak akan pernah menjadi suami yang baik untuk kamu." batin Arkan
Sayang semua ucapan Arkan hanya di ucapan di dalam hatinya, ia bukan hanya sedih melihat istrinya seperti ini, tapi ia juga tidak tau, kata ikhlas di hatinya yang ia ucapkan itu benar-benar ikhlas melepas istrinya atau ia hanya ucapan belaka. Suci dari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tubuhnya bergetar, ia merasakan dingin yang baru ia rasakan saat suaminya memeluknya.
__ADS_1