
Sudah 2 hari kejadian di mana Suci meminta cilok pada suaminya. Hari ini adalah hari sabtu, Arkan sekarang sedang berada di kantor Xien Grup bersama Ikbal dan Raka.
" Perasaan semenjak punya istri tubuh lo semakin berisi, dan wajah lo selalu ceriah."
Ikbal memang sangat menyadari perubahan Arkan yang sangat berubah drastis.
" Perasaan gue masih segini-segini saja."
" Mana ada, orang sudah tidak seperti dulu lagi."
" Sudah-sudah jangan di bahas masalah itu, gue mau tanya kapan gue punya ponakan? Sudah mendapat hasil apa belum?"
Bagi Raka memang masalah tubuh Arkan itu tidak penting, yang terpenting sudah mendapatkan hasil dari pernikahannya atau belum.
Arkan hanya menjawab dengan menggelengkan kepala, ia masih tidak tau, melihat perubahan istrinya yang meminta aneh-aneh kata mamanya istrinya pasti sedang hamil, dan ia juga tau kalau istrinya sudah 10 hari telat datang bulan, tapi ia tidak berani untuk menyuruh istrinya untuk mengetes kehamilan, ia takut kalau istrinya tidak hamil, lalu istrinya berpikir kalau ia ingin segera memiliki anak, ia takut nanti pikiran istrinya terbebani, apa lagi mengingat istrinya yang memiliki darah rendah.
" Jadi lo enggak tau? Emangnya lo enggak pernah making love apa?"
Arkan langsung memukul kepala Raka memakai berkas yang sedang ia priksa.
Buk...
" Di tanya itu di jawab Arkan Wijaya, bukan di pukul."
Raka berbicara sambil mengusap kepalanya yang lumayan sakit.
" Gue sudah jawab tidak tau, habis gue enggak berani kalau harus menyuruh istri gue pakai test peks."
Tawa Raka pecah saat mendengar ucapan dari Arkan, ia baru tau kalau Arkan itu ternyata takut pada istri, selama ini tidak ada yang bisa membantah ucapan Arkan, tapi kini Arkan bahkan takut pada istrinya. Sedangkat Ikbal hanya tersenyum lebar, akhirnya ada juga orang yang di takuti oleh Arkan. Sekali lagi Arkan memukul Raka.
Buk...
" Berisik! Jangan ketawa."
" Habis lo lucu, gue pikir seorang Arkan tidak akan pernah ada kata takut."
" Bukan begitu, gue takut kalau dugaan gue salah, memang istri gue sudah telat datang bulan 10 hari ini, tapi gue enggak berani menyuruhnya untuk memakai test peks."
" Huh dasar bucin! Begitu saja takut."
Mereka semua sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja pintu ruangan Arkan ada yang mengetuk.
__ADS_1
Tok-tok
" Masuk!"
Arkan dan ke dua sahabatnya menatap ke arah pintu yang mulai terbuka, mereka sangat terkejut saat melihat Sulis yang masuk ke ruangan Arkan.
" Ada perlu apa lo ke ruangan atasan lo? Bukannya Arkan enggak manggil lo iya?"
Wajah Raka yang tadi tertawa mendengar ucapan Arkan kini langsung berubah menjadi wajah marah, ia marah karena Sulis datang tanpa di undang, apa lagi mencari Arkan setelah kaki Arkan sembuh, jelas ia lebih marah. Berbeda dengan Ikbal yang menatap Sulis biasa saja, menurut ia itu bukan urusannya, jadi ia tidak perduli.
" Bukan urusan lo."
Sulis menjawab pertanyaan dari Raka sambil menatap sinis Raka. Raka langsung berdiri dari duduknya, ia juga menatap mata Sulis tidak kalah sinis.
" Jelas urusan gue lah! Gue enggak mau kalau kedatangan lo itu mau bilang kalau lo cinta sama Arkan! Gue enggak akan biarin lo untuk merayu Arkan! Apa lagi sampai memegang tubuh Arkan, gue enggak akan sudi kalau sahabat gue itu di pegang oleh nenek lampir seperti lo!"
" Brengsek! Apa mulut lo ini perlu gue sumpel pakai petasan?! Ngatain orang seenaknya saja, gue bukan nenek lampir, gue cantik begini di bilang nenek lampir! Dasar anak ingusan!"
Raka langsung mengepalkan ke dua tangannya, ia paling tidak suka ada orang yang mengatainya anak ingusan, jelas-jelas usianya itu sudah 23 tahun.
" Walau pun gue anak ingusan, tapi gue mampu menggempur lo sampai lo punya anak dari gue sialan!"
Arkan dan Ikbal menahan tawa, saat melihat Raka yang begitu emosi hingga mengatakan hal yang intim.
Arkan dan Ikbal yang mendengar ucapan dari Sulis, mereka sangat terkejut, bagi mereka ucapan Sulis begitu gila, tapi mereka masih tetap diam untuk menyaksikan perdebatan Raka dan Sulis.
" Lo itu enggak tau malu! Lo yang membuang Arkan, terus lo datang ingin balikan sama Arkan? Dan lo rela jadi wanita simpanannya? Apa otak lo itu sudah enggak waras? Atau saat lo ngiklanin drss sabrina lo kecebur di laut?"
Tadi Sulis memang mengiklankan dress sabrina di pesisir pantai.
" Otak lo yang geser! Mana ada sampai kecebur di laut, walau pun sampai kecebur juga di pesisir pantai enggak akan dalam bodoh!"
" Sembarangan lo ngatain gue bodoh! Walau pun gue bodoh, gue enggak akan pernah memungut sampah yang sudah gue buang!"
Arkan yang mendengar ucapan dari Raka, ia langsung memukul Raka dengan berkas yang masih dalam genggamannya, enak sekali Raka mengatai ia sampah.
Buk...
" Ih lo itu dari tadi nganiyaya gue mulu!"
Arkan tidak menjawab ucapan dari Raka, ia hanya menggeleng pelan.
__ADS_1
" Arkan itu berlian bukan sampah bodoh!"
Tawa Raka pecah saat mendengar ucapan dari Sulis yang mengatakan Arkan itu berlian, berlian seperti apa? Sampai-sampai Sulis membuangnya dulu?
" Terus kalau lo tau Arkan berlian, kenapa lo buang seperti sampah dulu? Atau mata lo dulu itu rabun sampai membuang Arkan?"
Sulis mengepalkan ke dua tangannya, ia tidak menyangka kalau Raka sangat banyak bicara, bahkan dari tadi ia belum ada kesempatan untuk berbicara dengan Arkan.
" Sembarangan lo kalau ngomong! Lo itu harusnya diam, gue enggak ada kepentingan sama lo!"
" Gue itu sahabatnya Arkan, kalau ada kepentingan sama Arkan, berarti ada kepentingan juga sama gue, apa lagi yang ada kepentingannya nenek lampir seperti lo!"
" Dasar anak ingusan gila!"
Sulis geram dengan ucapan dari Raka, kalau saja di sana tidak ada Arkan, mungkin ia sudah melayangkan beberapa tamparan buat Raka.
" Sudah gue bilang tadi walau pun gue anak ingusan, gue mampu buat muasin lo!"
Arkan dan Ikbal hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, menurut merka ucapan Raka itu sangat frontal.
" Ogah!"
" Gue juga bercanda, mana ada gue mau perjaka gue di renggut perawan tua seperti lo!"
" Anak ingusan gila!"
Setelah mengatakan itu Sulis langsung keluar dari ruangan Arkan, ia sudah sangat kesal meladeni Raka yang memiliki seribu jawaban untuknya. Setelah kepergian Sulis, tawa Arkan dan Ikbal pecah. Sedangkan Raka langsung melihat ke arah Arkan dan Ikbal secara bergantian.
" Kalian ngetawain gue kenapa?"
" Lo itu kalau ngomong di saring dulu, anak ingusan saja bisa buat muasin dia!"
Arkan menjawab ucapan dari Raka masih sambil tertawa.
" Gue itu sudah 23 tahun, bukan anak ingusan!"
Raka langsung duduk dengan wajah yang di tekuk, memang ia selalu saja jadi bahan bullian oleh ke tiga sahabatnya.
" Muka lo itu masih persis bocah!"
" Gue bukan bocah, jangan ngatain gue bocah, entar anak lo itu mirip gue!"
__ADS_1
" Kalau miripnya hanya di wajah enggak apa-apa yang penting enggak mirip sikap frontal lo."