
Arkan sibuk membuat sup ikan di dapur dari tadi, sudah 4 kali ia membuat sup ikan rasanya tidak enak, yang pertama bau amis, yang ke dua kebanyakan garam terasa pahit, yang ke tiga sama kebanyakan garam dan rasanya asin bahkan yang ke empat juga begitu, walau pun ia sudah mengurangi takaran garam, tapi tetap saja asin.
Sekarang Arkan membuat sup ikan yang ke 5 hingga tubuhnya penuh dengan keringat, walau pun ia sudah menyalakan AC untuk mendinginkan ruangan dapur, tapi tetap saja ia masih merasa gerah.
"Mudah-mudahan ini enak, apa lagi stok ikan tinggal 2 lagi, kalau gagal lagi bisa-bisa istriku tidak jadi makan sup ikan." batin Arkan
Arrabella yang dari tadi memperhatikan Arkan dari pintu, ia berkali-kali menghela nafas berat saat melihat Arkan yang seperti menjadi boneka oleh istrinya.
"Seumur hidupku, aku belum pernah melihat Arkan memasak, tapi sekarang Arkan memasak hanya untuk Suci? Wanita so alim, dasar wanita ular berbisa! Kurang ajar sekali Suci menggunakan kehamilannya untuk menjadikan Arkan bonekannya." batin Arrabella
Arrabella langsung mendekati Arkan yang masih sibuk memasak, ia berdiri di samping Arkan sambil menghela nafas berat saat Arkan tidak menyadari ia datang.
"Berhentilah jadi boneka istrimu, Arkan."
Arkan yang mendengar ucapan dari Arrabella, ia langsung menghela nafas kasar sambil melihat ke arah Arrabella.
"Dari pertama kamu datang ke rumah kakek, kamu selalu saja memanjakan istrimu, dan itu membuat istrimu semakin kurang ajar, istrimu semakin tidak menghargaimu sebagai suami, jadi aku minta kamu berhenti memanjakan istrimu, kelihatannya saja istrimu itu seperti wanita polos, nyatanya istrimu menggunakan kandungannya untuk menjadikanmu boneka, apa kamu tidak berpikir seperti itu Arkan?"
"Kamu seorang dokter kandungan Arra, wajar kalau istriku meminta yang aneh-aneh, dari pertama kita makan malam saat baru datang aku perhatikan kamu seperti tidak suka pada istriku, tapi aku selalu saja diam karena bagai mana pun kamu cucu angkat kakek."
"Tapi istrimu itu sudah keterlaluan Arkan! Kamu mengatakan aku tidak suka padanya?! Iya aku tidak suka dengan wanita manja seperti istrimu!"
"Cukup Arra! Memangnya kamu siapa berani sekali berbicara dengan nada kasar di depanku?! Apa lagi kamu memaki istriku wanita manja! Kamu tidak tau siapa istriku yang sebenarnya jadi kamu jangan pernah memaki istriku!"
Arkan memang selalu berbicara tegas dengan siapa pun itu, tapi jika ada orang yang memaki orang yang ia sayangi, ia jauh lebij tegas.
"Pergi kamu dari dapur Arra! Sebelum aku usir kamu keluar dari rumah ini!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Arkan langsung mengalihkan pandangannya ke arah kompor, ia langsung mematikan kompor, lalu langsung mencicipi sup ikan buatannya tanpa melirik ke arah Arrabella lagi.
Air mata Arrabella langsung mengalir deras tanpa bisa di cegah, selama ia kenal Arkan, Arkan belum pernah membentaknya sekali pun, tapi kali ini ia di bentak oleh Arkan karena mengatakan hal buruk tentang Suci.
Bagi Arrabella Suci memang wanita menja dan selalu memperlakukan Arkan seperti boneka, tapi Arkan tidak terima dengan ucapan ia yang menurut ia ucapannya itu pakta.
Arkan yang merasa rasa sup ikannya lumayan enak ia langsung menuangkan sup ikan dalam mangkuk, lalu ia letakan di napan, setelah itu langsung keluar dari dapur tanpa mau bertanya kenapa Arrabella menangis, walau pun ia melihat Arrabella diam mematung dengan air mata yang mengalir deras.
Setelah Arkan keluar Arrabella langsung terduduk di lantai, lelaki yang ia cintai bukan hanya tidak mencintainya, tapi juga ingin mengusir ia hanya karena masalah sepele.
"Suci sialan! Wanita ular! Awas saja aku akan buat perhitungan padamu! Arkan boleh tidak mencintaiku, tapi kamu tidak boleh menjadikan Arkan bonekamu!" batin Arrabella
Arrabella yang selalu berpegang teguh dalam pendiraannya untuk tidak membuat masalah pada keluarga Wijaya nyatanya sekarang ia akan membuat masalah, ia benci melihat Arkan di perlakukan seperti boneka oleh Suci.
Arkan sampai di kamar, ia sangat terkejut saat melihat istrinya yang duduk di lantai hingga hampir saja sup ikan yang ia pegang itu terjatuh kalau ke dua tangannya tidak sigap menangkap nampannya yang sudah melayang.
Arkan langsung berjongkok sambil menangkup ke dua pipi istrinya, ia yakin istrinya menangis karena terlalu lama ia tinggalkan di kamar sendirian.
"Sayang kenapa? Apa karena mas lama di dapur? Maaf sayang, mas tidak bermaksud untuk terlalu lama meninggalkanmu. Sayang tau kalau mas tidak bisa memasak, tapi ke depannya mas janji akan belajar memasak agar saat sayang meminta di masakin mas sudah bisa."
Suci hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia langsung memeluk suaminya sangat erat.
Arkan juga membalas pelukan dari istrinya sambil menepuk pelan punggung istrinya.
"Katakan apa yang membuat sayang menangis?"
"Mari kita berpisah mas, dan tolong menikahlah dengan kaka, aku tidak ingin kehilangan kaka. Hiks... Hiks... Aku tau aku salah, aku yang menyuruh mas untuk tidak menceraikan aku kalau ada masalah apa pun itu, tapi aku tidak mau kehilangan kaka mas."
__ADS_1
"Tidak terjadi apa-apa dengan Sulis sayang. Sulis membohongi kita kalau Sulis memiliki penyakit kangker setadium lanjut, itu kenapa mas membawa sayang kemari, karena mas tidak ingin hati kamu terluka kalau kakamu membohongi kita untuk membuat rumah tangga kita berantakan."
Suci sangat terkejut saat mendengar jawaban dari suaminya, ia langsung melepaskan pelukannya, lalu menatap mata suaminya mencari kebenaran di sana.
Suci bisa melihat kalau kata-kata suaminya tidak berbohong, tapi ia masih tetap tidak percaya dengan ucapan dari suaminya.
"Mas bohong."
Suci berbicara sambil menggeleng pelan.
"Kaka tidak mungkin berbohong sebesar itu, aku kenal siapa kaka, jadi tidak mungkin kaka berbohong tentang penyakit itu."
"Apa sayang perlu bukti? Mas bisa telpon Bunda kalau sayang tidak percaya dengan ucapan mas."
Arkan langsung mengambil ponselnya di saku celananya, belum sempat ia menelpon ibu mertuanya, tapi istrinya sudah mengambil ponsel miliknya, lalu langsung menelpon Bundanya.
Setelah sudah di angkat telponnya Suci langsung membesarkan volume telpon tanpa mau berbicara lebih dulu.
"Hallo."
Suci tidak menjawab ucapan dari Bundanya, hingga ia mendengarkan ucapan panjang dari Bundanya lagi.
"Arkan, Bunda tau Bunda salah, tolong maafkan Bunda nak, Bunda bodoh tidak mengetahui kalau Sulis itu berbohong hingga Bunda menyuruh kalian untuk berpisah, Bunda minta maaf yang sebesar-besarnya begitu pun kebohongan dari Sulis. Bunda tau kalau Bunda tidak pantas di maafkan oleh kalian berdua, tapi tolong beri tahu Bunda bagai mana keadaan Suci? Bagai mana keadaan janin dalam kandungannya? Apa Suci dan kandunganya baik-baik saja?"
Suci tidak menjawab, ia langsung memutuskan sambungan telponnya sepihak, ia sangat kecewa saat tau kalau kakaknya berbohong.
Suci langsung meletakan ponsel suaminya di lantai, lalu ia langsung bersujud di depan suaminya yang masih berjongkok.
__ADS_1
"Aku minta maaf mas, karena aku tidak percaya dengan ucapan mas tadi."