Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 57 Darah rendah


__ADS_3

Setelah beres sholat magrib dan sholat isya Arkan dan Suci memutuskan untuk makan, mereka memang sangat lapar, terutama Suci yang memang sudah sangat lapar saat mau melaksankan sholat magrib, mungkin setelah bercinta tenaganya terkuras habis.


" Sayang makan di kamar saja iya?"


" Di bawah saja mas, mama pasti kuatir sama aku kalau tidak keluar-keluar."


" Baiklah sayang."


Arkan menghela nafas, sebenernya ia tidak tega saat melihat istrinya jalan seperti merasakan nyeri, untuk itu ia mengajak makan di kamar. Suci sebenarnya merasa mual, pusing dan pandangan matanya mulai kabur, ia yakin darahnya sekarang rendah.


Suci memang sering sekali memiliki gangguan darah rendah secara tiba-tiba, walau pun ia selalu hidup sehat dan makan-makanan penambah darah, ia tetap memiliki penyakit itu, tapi biasanya tidak separah sekarang, ia hanya merasakan mual, pusing dan lemas saja di tubuhnya.


" Mas, aku tidak jadi makan di bawah."


Suci langsung duduk di atas ranjang, kepalanya semakin pusing dan penglihatanya semakin kabur, wajahnya juga sudah pucat.


" Sayang kamu kenapa?"


Arkan sangat kuatir pada istrinya yang terlihat pucat. Suci menggeleng pelan sambil tersenyum, hingga sekitar beberapa detik, ia pingsan di ranjang. Arkan yang melihat itu sangat terkejut, ia langsung beralih ke atas ranjang.


" Sayang, sebenarnya kamu kenapa?"


Arkan menepuk pelan pipi istrinya, tapi ia melihat tidak ada respon, membuat ia langsung mengambil telpon rumahnya di samping, ia menghubungi dokter keluarga untuk segera ke rumah, dan ia juga menghubungi bi Ira kalau dokternya datang suruh langsung ke kamar.


" Sayang, jangan buat mas kuatir."


Arkan mengelus pelan pipi istrinya, ia mencium kening istrinya sekilas, lalu ia peluk, detak jantungnya tidak beraturan, ia takut istrinya kenapa-napa. Selama menikah, ini pertama kalinya Arkan melihat istrinya pingsan.


" Sayang, apa terlalu sakit milikmu hingga kamu pingsan?" batin Arkan


Arkan memikiran kejadian tadi siang, ia pikir istrinya itu pingsan karena merasakan sakit di milik istrinya.


" Apa Suci tidak bisa menahan sakit iya?" batin Arkan


Arkan yang terus saja berpikir, tiba-tiba saja pintu kamarnya ada yang ngetuk.


Tok-tok


" Masuk!"


Bi Ira masuk bersama dokter Rina, yang memiliki nama panjang Rina Astuti.


" Den, dokter Rina sudah datang."

__ADS_1


" Iya bi."


Arkan meletakan kepala istrinya di bantal, ia luruskan kakinya.


" Siapa dia Arkan?"


dokter Rina dan sekaligus sahabat Arkan itu sangat bingung saat Arkan memeluk Gadis yang ia anggap usianya masih belasan tahun.


" Oh ini istri aku Rin."


Walau pun Rini seorang dokter, tapi Arkan selalu memanggilnya Rini, karena mereka memang bersahabat semenjak masuk ke bangku perkuliahan. dokter Rini sangat terkejut saat mendengar jawaban dari Arkan, ia tidak menyangka kalau Arkan sudah menikah. Arkan bergeser untuk mempersilahkan dokter Rina memriksa istrinya.


" Rin, tolong priksa istriku, tadi tiba-tiba saja pingsan."


Rini mengangguk pelan, ia langsung mulai memriksa pasiennya. Dokter Rini sesekali menatap wajah Suci, walau pun wajah Suci terlihat pucat, tapi ia bisa melihat wajahnya begitu cantik, ada rasa kagum di hati ia, saat melihat Suci yang memakai hijab, itu artinya Arkan jatuh ke orang yang tepat.


Dokter Rini memang sangat mencintai Arkan, ia tidak pernah menganggap Arkan sebagai sahabat, ia selalu memberikan perhatian kecil saat masa kuliahnya, tapi tetap saja, ia tidak bisa mendapat posisi yang lebih di hati Arkan, ia selalu saja di anggap sahabat oleh Arkan. Dokter Rini selsai memeriksa Suci.


" Darah istrimu terlalu rendah Arkan, walau istrimu kecapean, tapi kalau darahnya tidak rendah, tidak akan kenapa-napa."


" Lalu apa yang harus di lakukan?"


" Ini suplmen penambah tensi darah, dan ini obat untuk menghilangkan pegal."


" Apa tidak apa-apa?"


" Untuk saat ini memang tidak parah, kalau terus di biarkan memang sangat berpengaruh untuk kesehatannya, memang darah rendah terbilang biasa, tapi kalau terus di biarkan, bisa juga menyebabkan kematian."


Jantung Arkan mendadak berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari dokter Rini, ia menatap istrinya yang masih tidak sadarkan diri.


" Apa ada pencegahan agar tidak sampai terulang lagi?"


" Ubah posisi dengan perlahan, atau jangan berdiri terlalu lama dan jangan duduk terlalu lama. Banyak minum air putih untuk meningkatkan volume darah dan mencegah dehidrasi. Tidur dengan menumpuk 2 sampai 3 bantal agar saat bangun dan berdiri tidak menurunkan tekanan darah derastis. Jangan lupa tetap makan-makanan yang sehat seperti buah dan sayur untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Lalu di biasakan tetap meminum suplmen agar tekanan darah tetap normal."


Arkan mengangguk pelan saat mendengar penjelasan dari dokter Rina.


" Sebentar lagi juga istrimu sadar, kalau begitu aku pamit dulu Arkan."


Dokter Rini menghela nafas berat, ia masih tidak percaya kalau Arkan sudah menikah.


" Terima kasih Rin."


" Sama-sama."

__ADS_1


" Bi, tolong antar dokter Rina, setelah itu ambilkan makanan bawa ke kamar."


" Baik Den, mari dokter Rina."


Dokter Rina mengangguk pelan, sebelum pergi ia menatap Suci sekali lagi, lalu menatap ke arah mata Arkan, bisa ia lihat kalau Arkan begitu kuatir pada istrinya.


" Semoga kamu tetap bahagia Arkan." batin Rina


Rina langsung keluar dari kamar bersama bi Ira. Arkan mengusap lembut wajah istrinya.


" Cepat sadar dong sayang."


Arkan yang terus menatap istrinya, akhirnya ia mengerti kalau setiap orang di ciptakan itu selalu ada kekurangan dan kelebihan, dan contohnya sekarang istrinya, walau pun ia tau istrinya selalu memakan makan yang sehat, tapi tetap saja istrinya memiliki darah rendah. Arkan menghela nafas berat, ucapan dokter Rini menjadi berputar di pikirannya, ia tidak menyangka kalau hanya tekanan darah rendah bisa berakibat patal. Suci sadar, ia dengan perlahan membuka matanya, ia melihat suaminya dengan mata yang memerah.


" Sayang, kamu sudah sadar?"


Arkan tersenyum lebar saat melihat istrinya yang sudah sadar. Suci langsung duduk di bantu oleh suaminya.


" Kamu tidak apa-apa sayang? Apa masih pusing?"


Suci menggeleng pelan, ia memang masih merasakan pusing, tapi tidak seperti tadi, sekarang jauh lebih baik. Tidak lama bi Ira datang membawa makanan di nampan, ia letakan di meja samping ranjang.


" Terima kasih bi."


" Sama-sama den."


Setelah bi Ira keluar, Arkan langsung mengambil piring yang berisi makanan.


" Sayang makan dulu iya?"


" Iya mas, mas juga."


" Iya sayang."


Arkan langsung menyuapi istrinya dengan perlahan dan sesekali menyuapi diri sendiri. Suci mengunyah sambil tersenyum, inilah yang membuat ia mudah mencintai suaminya, suaminya itu begitu perhatian dan hangat, dan selama menikah suaminya juga tidak pernah berbicara kasar, hanya terdengar nada tegas yang biasa ia dengar dari mulut suaminya. Setelah selsai Arkan memberikan suplem penambah darah.


" Minum ini dulu sayang."


Suci mengangguk, ia langsung meminum suplmen yang di berikan suaminya.


" Mas, aku minta maaf sudah membuat mas kuatir."


" Tidak perlu minta maaf sayang, mas jelas kuatir kamu itu istri mas. Apa sudah sering seperti ini?"

__ADS_1


" Dari 4 tahun yang lalu mas, tapi biasanya hanya mual pusing dan tubuhnya sangat lemas."


__ADS_2