Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 80 Sujud Syukur


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Samuel dan Samuel memberikan kartu nama dokter wanita di hotel itu, Samuel langsung pamit dari kamar hotel Arkan. Setelah itu Arkan langsung kembali lagi duduk di atas ranjang bersama istrinya.


Arkan sekarang sedang memijat kepala istrinya perlahan dengan kepala istrinya yang ia sandarkan di tangan kirinya, di alasi dengan bantal seperti biasanya.


"Sayang, di priksa dokter iya? Jangan selalu menolak, apa kamu tega melihat mas yang selalu saja menghuatirkanmu?"


Suci yang mendengar ucapan dari suaminya, ia membuka matanya, lalu langsung duduk sambil menatap mata suaminya, ia bisa melihat kalau suaminya sangat kuatir padanya.


"Maafin aku mas, sudah membuat mas kutir."


Setelah mengatakan itu Suci langsung memeluk suaminya sangat erat sambil menangis, ia sangat merasa bersalah pada suaminya yang selalu saja menghuatirkannya.


Namen di sisi lain Suci takut kalau darah rendahnya membuat suaminya selalu kuatir dan selalu tidak tenang saat bekerja, ia hanya berusaha untuk tidak membuat banyak beban pada suaminya, tapi tetap saja ia bahkan membuat banyak beban untuk suaminya.


Arkan juga membalas pelukan dari istrinya sambil menepuk pelan punggung istrinya saat mendengar istrinya menangis, ia tau kalau istrinya itu merasa sangat bersalah padanya.


"Jangan minta maaf dan jangan menangis sayang."


Suci hanya mengangguk pelan, ia masih betah memeluk suaminya, tapi tiba-tiba kepalanya semakin pusing hingga ia hilang kesadarannya.


Arkan yang merasa pelukan istrinya memudar, ia perlahan langsung melonggarkan pelukannya.


"Astagfirullah! Sayang!"


Arkan sangat terkejut, tubuhnya mendadak gemetar saat melihat istrinya tidak sadarkan diri, ia menyanggah istrinya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya langsung meraih ponselnya dan kartu nama yang di berikan Samuel.


Arkan langsung menghubungi dokter Tasya, yang tertera di kartu nama itu, setelah mengatakan nomer pintu kamarnya, ia perlahan membaringkan tubuh istrinya seperti bisanya dengan menumpuk dua bantal.


" Ya Allah, jangan biarkan istri hamba kenapa-kenapa." batin Arkan


Arkan mengecup kening istrinya cukup lama, hingga setetes air mata jatuh pada pipi istrinya, ia sangat kuatir pada istrinya dan terlalu takut kalau istrinya kenapa-kenapa.


Arkan mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya.


"Kamu harus selalu kuat sayang, apa pun yang sekarang di derita oleh tubuhmu, kamu tidak boleh lemah."


Arkan berbicara dengan sangat lirih, ia melihat jam tanganya, sudah 5 menit dokter hotel itu masih saja belum datang.


Tiba-tiba suara pintu kamar hotelnya ada yang mengetuk.


Tok-tok.

__ADS_1


Arkan yang mendengar suara ketukan pintu, ia buru-buru berjalan ke arah pintu, lalu langsung membuka pintu.


"Masuk dok."


"Iya pak."


Dokter Tasya masuk sambil mengikuti arah Arkan dari belakang hingga sampai di samping ranjang.


"Dokter, tolong priksa istri saya, tiba-tiba saja istri saya pingsan."


"Baik pak."


Belum juga dokter itu memeriksa, tiba-tiba saja Suci sadar, ia membuka mata perlahan. Arkan yang melihat istrinya sudah sadar, ia langsung bertanya masih dengan perasaan kuatir.


"Apa yang sakit sayang?"


Suci melihat ke arah suaminya sambil menggeleng pelan, lalu matanya beralih ke arah wanita yang memaikai baju dokter.


"Mas aku sudah di priksa?"


"Belum sayang, ini dokter Tasya mau memriksanya, sayang tetap berbaring."


Suci mengangguk pelan. Dokter Tasya langsung memriksa kondisi Suci. Setelah selsai dokter Tasya tersenyum sambil melihat Suci dan Arkan dengan cara bergantian.


Arkan takut kabar itu kabar buruk, ia tidak ingin istrinya nanti kuatir dengan kondisi tubuhnya, ia takut ucapan dokter Tasya seperti ucapan dokter Rina.


"Bapak tidak perlu kuatir, istri bapak baik-baik saja, hanya saja memang sudah biasa kalau untuk ibu hamil, kondisi tubuhnya sering lemah."


"Apa dok? Dokter tidak bercanda? Kalau istri saya sedang hamil?"


Arkan bertanya sambil melihat dokter Tasya dan sedikit tidak percaya kalau istrinya sedang hamil, tapi ia harap kalau pendengarannya itu benar kalau istrinya sedang hamil.


Begitu pun dengan Suci yang menatap dokter Tasya dengan tatapan tidak percaya, apa lagi ia tidak memiliki tanda-tanda hamil seperti wanita pada umumnya yang mual-mual hingga muntah-muntah, lalu sensitif pada aroma yang berbau tajam, tapi ia sama sekali tidak ada tanda-tanda itu.


"Benar pak, untuk lebih pasti usia kehamilanya, bapak dan ibu bisa cek ke dokter kandungan, saya hanya sebagai dokter umum, jadi tidak tau pasti berapa usia kandungannya."


Arkan langsung bersujud syukur di lantai, ia tidak peduli kalau lantai itu kotor, yang jelas ia sekarang sedang menyalurkan rasa syukurnya hingga setetes air mata ia jatuh di pelupuk matanya.


"Terima kasih ya Allah! Sudah memberikan hamba kepercayaan untuk memiliki keturunan dengan cepat."


Suci yang mendengar ucapan dokter Tasya, ia tersenyum bahagia, lebih bahagia lagi saat melihat suaminya yang begitu bahagia.

__ADS_1


Dokter Tasya hanya tersenyum lebar, ia tidak menyangka kalau Arkan sebagai pengusaha termuda itu bersujud di lantai karena rasa syukurnya.


Arkan langsung berdiri, ia lngsung memeluk istrinya.


"Terima kasih sayang, sudah memberikan mas sesuatu yang paling berhargai."


Suci juga membalas pelukan dari suaminya sambil mengangguk pelan.


"Terimah iya Allah sudah memberikan hamba kepercayaan untuk memiliki momongan." batin Suci


Suci menangis terharu di pelukan suaminya, ia tidak menyangka dengan usia pernikahanya yang baru saja 3 bulan lebih 1 minggu itu bisa langsung hamil.


Kebahagian Suci semenjak menikah dengan Arkan terus bertambah, dari Suci memiliki suami yang sangat baik dan perhatian, lalu kaki suaminya sembuh dan sekarang ia akan di berikan momongan.


Dalam hidup Suci tidak pernah terbeset sedikit pun bisa memiliki suami seperti Arkan, walau pun suaminya tidak tau banyak tentang agama, tapi ia bangga pada suaminya yang mau sedikit demi sedikit belajar agama.


Walau pun suaminya tidak tau banyak tentang agama, tapi tutur kata suaminya selalu lemah lembut, hanya sesekali Suci mendengar suara tegas dari suaminya.


Arkan dan Suci melepaskan pelukannya. Arkan mengecup kening istrinya sekilas, lalu ia langsung melihat ke arah dokter Tasya.


"Terima kasih dokter Tasya."


"Sama-sama pak, ini adalah suplmen penambah darah dan vitamin."


Arkan mengambil suplmen penambah darah dan vitamin yang di berikan oleh dokter Tasya.


"Untuk sekarang kondisi kandungan bu Suci memang sangat lemah, jadi bu Suci jangan terlalu banyak melakukan kegiatan, dan saya minta pada pak Arkan, untuk selalu di samping bu Suci saat bu Suci memiliki kegiatan, bu Suci memiliki darah rendah, bisa saja bu Suci mendadak pusing dan jatuh pingsan, ini hanya saran pak jangan terlalu di kuatirkan, saya juga berharap kalau kejadian itu jangan sampai terjadi."


"Terima kasih dokter Tasya atas sarannya. Saya pasti akan menjaga istri saya dengan sangat baik."


"Kalau begitu saya permisi pak."


"Iya."


Dokter Tasya berjalan ke arah pintu di ikuti dengan Arkan yang mengantkan sampai depan pintu.


Setelah di depan pintu Arkan langsung mengucapkan terima kasih lagi pada dokter Tasya.


"Sekali lagi terima kasih dokter Tasya."


"Sama-sama pak."

__ADS_1


Dokter Tasya berbicara sambil tersenyum ramah, ia bisa melihat Arkan yang begitu bahagia.


__ADS_2