Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 23 Calon kekasih halal


__ADS_3

Setelah kejadian semalam Suci jauh lebih baik, pikirannya juga jauh lebih tenang, sekarang ia siap-siap untuk keluar dari hotel, ia sesekali tersenyum, ternyata jauh lebih tenang saat banyak masalah itu menenangkan diri seorang diri, dan hanya mencurahkan semuanya pada ya rabbnya. Suci keluar dari hotel pukul 10.00WIB, kalau ia pagi-pagi pulang orang di rumah bisa curiga, Bandung dan Jakarta itu sangat jauh, tentu saja ia pulang sedikit siang. Suci yang akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba di panggil oleh sesaorang yang tentu saja suaranya ia kenal.


" Suci!"


Suci langsung melihat ke arah suara yang menampilkan Arkan, sedang di dorong oleh Rangga, dan dua orang wanita, yang satu berpakaian sangat seksi dan satu lagi bepakaian sangat formal, lalu ia langsung menundukan pandangannya lagi sambil menunggu mereka.


" Kamu habis ngapain dari hotel Uci? Rumah kamu juga dekat dari hotel ini? Tidak mungkin kamu habis menginap di sini?"


Arkan langsung membrondong pertanyaan pada Suci, ia menatap mata Suci yang menunduk, bisa ia lihat kalau Suci jauh lebih baik dari kemarin.


" Iya kak, Uci menginap di sini."


" Pakaian saja tertutup rapih, tapi belum tentu kepribadiannya benar-benar bersih. Apa lagi keluar dari hotel seorang diri, saya tidak menjamin kalau Gadis di depan kita itu tidur sendiri."


Enjel berbicara seperti sedang mengejak Suci, terutama ia tidak suka saat Arkan membrondong banyak pertanyaan dan terlihat kuatir pada Suci, terlebih Enjel sudah menaruh perasaan sejak lama pada Arkan. Suci langsung mengangkat kepalanya, ia menatap ke arah Enjel sambil tersenyum di balik cadarnya.


" Maaf bu, saya sama sekali tidak punya urusan sama anda, jadi tolong jaga bicara anda."


Sedangkan Arkan sudah mengepalkan tangannya, ia ingin sekali marah-marah pada Enjel saat Suci di rendahkan, tapi ia takut kalau Suci menilai ia sebagai lelaki pemarah, walaun pun ia hanya ingin membela Suci, tapi tetap saja ia belum tau kepribadian Suci, ia takut Suci menilai sifatnya buruk. Suci langsung menundukan pandangannya lagi


" Maaf kak, Uci semalam lari dari masalah, jadi Uci menginap di hotel."


" Uci, jangan pernah lari dari masalah, selsaikan masalahmu baik-baik, lari dari masalah tidak akan menyelsaikan masalah."


" Uci tau kak, tapi Uci butuh ketenangan, untuk semalam saja Uci kabur dari masalah."


" Tidak apa-apa kamu lari dari masalah ke hotel untuk menenangkan diri, dari pada lari ke club malam seperti kita, itu jauh lebih baik."


Rangga berbicara sambil tersenyum, ia sekarang mengagumi kepribadian Suci, setidaknya Suci tidak seperti wanita yang ia kenal, yang lari dari masalah hanya dengan minum alkohol.


" Iya kak Rangga."


" Kamu sekarang mau kemana Uci? Pernikahanmu itu sudah tinggal 3 hari lagi, kata orang tua bilang tidak baik kalau calon pengantin keluyuran terus."

__ADS_1


" Uci hanya mengikuti jejak calon suami yang pagi-pagi sudah habis dari Restoran, yang penting Uci tidak seperti calon suami yang pagi-pagi sudah di sambut dengan wanita menggoda iman."


Rangga tertawa saat mendengar ucapan dari Suci, ia pikir Suci akan selalu bersikap formal, ternyata tidak, Suci orangnya mudah bergaul. Sedangkan Arkan yang mendengar ucapan Suci, hatinya menghangat, saat Suci mengakuinya calon suami.


" Calon suamimu ini masih harus bekerja Uci, jadi ia keluar untuk menyelsaikan pekerjaan."


Enjel dan sekretarisnya hanya menatap Rangga dan Arkan secara bergantian saat mendengar Rangga mengatakan calon suaminya masih harus bekerja, ia bingung siapa sebenarnya calon suami Suci?


" Kak Rangga jangan tertawa, pagi-pagi sudah tertawa"


" Habis kamu gemesin, kalau saja kamu bukan calon istri dari sahabat saya, sudah saya nikain paksa."


" Astaghfrullah kak Rangga, belum punya istri juga?"


" Belumlah Uci, tapi kalau sekedar icip-icip dan celub-celub sudah sering."


Suci menggeleng pelan, pembicaraan Rangga menurutnya sudah tidak sehat, Rangga sudah mengatakan hal pulgar. Sedangkan Arkan yang mendengar jawaban dari Rangga, ia tidak enak hati pada Suci.


" Uci, pulang gih, cepat selsaikan masalah kamu, jangan lama-lama di luar rumah, saya tidak rela banyak orang yang memandang mata kamu."


Rangga tidak menyadari jawaban yang pulgar tadi, ia hanya sedikit bingung kenapa sahabatnya itu menjadi posesif, hanya matanya saja yang terlihat tidak boleh?


" Iya calon kekasih halal Uci. Uci pulang dulu, kaka harus hati-hati. Assalamualaikum."


" Sejak kapan jadi gombal Uci?"


Arkan sangat senang saat mendengar ucapan Suci yang sudah mengatakan ia calon kekasih halalnya. Suci tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam mobil, pipinya merasa panas, sejak kapan ia menjadi bersikap konyol pada Arkan? Setelah Suci tidak menjawab pertanyaannya akhirnya Arkan menjawab salam dari Suci.


" Wa'alaikumsalam."


Suci langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak menyangka kalau di setiap perjalanannya selalu saja bertemu dengan Arkan. Setelah sekitar 10 menit, Suci sampai di pekarangan rumah. Suci langsung turun dari mobil sambil membawa barang-barangnya dari pesantren.


" Assalamualaikum."

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam."


Semua yang di dalam menjawab salam serempak, karena pintu rumah itu memang sudah terbuka dari tadi. Suci langsung menyalami mereka semua, lalu berhenti di depan sang kake, ia memeluk kakenya sangat erat, dan kakenya yang bernama Rendra juga membalas pelukan dari Suci


" Kake, Uci kangen banget."


" Kangen kake, tapi kamu kemarin tidak pulang, kake nunggu kamu sampai malam, tau-tau jam 9 malam kamu bilang tidak pulang."


" Iya maaf kek, Uci juga butuh kangen-kangenan sama teman-teman Uci."


" Iya kake maafin."


Mereka langsung melepaskan pelukannya. Siska dan Sisil sebenarnya cemburu pada kelakuan kakenya yang hangat hanya pada Suci, memang ucapan Sulis kemarin itu benar adanya, kalau Rendra hanya menyayangi Suci, walau pun Rendra sayang pada cucu-cucunya, tapi hanya Suci yang tidak pernah di bentak oleh Rendra.


" Sudah makan sayang?"


" Uci sudah makan."


Rendra memegang pergelangan cucunya untuk menyuruhnya duduk.


" Sayang yakin akan menikah dengan Arkan?"


" Yakinlah kek."


Rendra mengelus kepala Suci yang masih tertututup hijab.


" Cucu kake memang sudah dewasa, tapi kalau ada masalah apa pun nanti di dalam rumah tangga kamu, kake hanya pesan selsaikan baik-baik masalahnya, kalau suami akan memberi penjelasan, berilah waktu untuk suamimu menjelaskan, intinya apa pun itu kamu harus percaya pada suamimu, jangan pernah mendengar kata orang, sebelum kamu memiliki bukti."


Suci mengangguk pelan, ia tau kalau menikah itu tidak seindah yang di bayangkan, contohnya kisa percintaannya saja begitu rumit, tentu pernikahan juga begitu rumit, apa lagi ia belum mengenal sifat Arkan yang sesungguhnya, ia hanya tau kalau Arkan adalah lelaki baik dalam penilaian dari masa lalunya.


" Ingat, jadi istri yang bisa menutup aib suamimu, jangan jadi istri yang membuka aib suamimu."


Lagi-lagi Suci hanya mengangguk pelan

__ADS_1


" Kake hanya berharap kalau pernikahan kamu seperti Bunda dan Ayah, di pisahkan karena Ayah sudah kembali padanya."


" Amin kek, semoga saja seperti itu, Uci juga berharap seperti keinginan kake pada Uci."


__ADS_2