Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 33 Sama-sama salah paham


__ADS_3

Suci duduk di lantai dekat ranjang dengan merangkul ke dua kakinya dan kepalanya ia sembunyikan di pahanya, matanya sudah perih ingin segera mengeluarkan air mata, saat melihat sikap aneh suaminya, tadi saat ia bangun suaminya baru keluar dari ruangan kerjannya, setelah sholat magrib ia mengajak suaminya untuk makan, tapi suaminya menolak dengan alasan banyak kerjaan, lalu suaminya masuk lagi ke ruangan kerja.


Setelah saat waktu sholat isya, suaminya memang seperti sholat maghrib tadi, suaminya sholat berjama'ah dengannya, setelah selsai langsung masuk lagi ke ruangan tempat suaminya bekerja. Suci tau kalau suaminya itu seperti sedang menghindarinya, dan di mata suaminya ada sorot mata kecewa. Suci tersenyum meringis sambil menahan air matanya, ternyata memang tidak akan ada orang yang bisa menerima masa lalunya, Arkan hanyalah sebatas suami, sedangkan kakanya saja selalu memojokan masa lalunya.


" Maafin aku mas, aku jujur karena aku tidak mau mas tau dari orang lain, aku takut mas marah kalau kebenarannya tau dari orang lain, tapi pada akhirnya mas tetap marah. Mas, hati aku sakit, aku harus bagai mana sekarang? Aku hanya manusia biasa mas, yang tidak pernah luput dari dosa."


Air mata Suci yang dari tadi ia tahan meluncur begitu saja, dadanya sakit, karena sudah pukul 23.00WIB, suaminya itu belum saja keluar dari ruangan kerjanya. Memang saat pukul 21.00WIB, Suci selalu menampik, ia salalu berpikir kalau suaminya itu memang sibuk, walau pun sudah melihat raut kecewa dari wajah suaminya, tapi setelah pukul 23.00WIB suaminya belum juga kembali ke ranjang, ia baru sadar kalau suaminya memang tidak menerima masa lalunya.


" Mas, aku lebih baik di maki sama mas, dari pada mas menghindariku, hati aku sakit, seolah-olah mas itu jiji sama tubuhku."


Suci menangis semakin kencang, ia mendekap mulutnya sendiri, ia tidak ingin tangisannya terdengar oleh suaminya, bahkan sesekali ia juga memukul dadanya yang terasa sakit.


" Aku memang wanita banyak dosa mas, tapi kalau mas menghindariku, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Mas yang bilang kalau tidak boleh menghindar dari masalah, tapi mas sendiri yang menghindar dari masalah, kenapa mas harus melakukan ini padaku? Kenapa mas tidak maki aku seperti kaka? Rasanya lebih sakit mas, saat mas hanya diam."


Suci terus saja menangis, sambil sesekali menatap pintu ruangan kerja suaminya, bahkan untuk mengetuk pintu ruangan kerja suaminya saja ia tidak berani, yang bisa ia lakukan hanya lah menangis agar bisa meredakan sakit di dadanya.


Tubuh Suci sudah mulai bergetar, lantai yang ia duduki itu semakin malam semakin membuatnya merasa kedinginan, tapi ia sama sekali tidak pindah dari duduknya, ia masih setia duduk di lantai sambil menyembunyikan wajahnya, rambutnya sudah berantakan, bahkan bukan hanya mukul dada, ia juga berkali-kali menjambak rambutnya sendiri karena kepalanya mulai pusing.


" Mas, aku mohon jangan seperti ini, aku mohon jangan hindari aku mas."


Jam sudah menunjukan pukul 02.00WIB, tapi suaminya masih saja belum ada tanda-tanda untuk keluar dari ruangan kerjanya.

__ADS_1


" Mas, kamu sedang apa di dalam sana?"


Pada akhirnya dengan tubuh yang gemetar Suci mencoba untuk berdiri, ia berjalan pelan ke depan pintu ruangan kerja suaminya sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. Suci langsung mengetuk pintu ruangan kerja suaminya.


Tok-tok.


" Mas, apa mas masih kerja?"


Tidak ada jawaban dari ruangan suaminya, ia mengetuk pintu itu sekali lagi


Tok-tok.


Suci bertanya dengan nada berteriak, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari suaminya, ia menghela nafas berat sambil terduduk di depan pintu suaminya.


" Jangan seperti ini mas, bilang sama aku, apa pun akan aku lakukan, agar mas menerima masa laluku, tapi jangan pernah menghindari aku mas, aku tidak mau di perlakukan seperti ini sama mas."


Air mata Suci semakin deras lagi, setelah tadi ia menghapus air matanya, dadanya semakin sakit saat melihat pintu ruangan kerja suaminya tidak kunjung terbuka.


Setelah lama Suci duduk di depan pintu ruangan kerja suaminya, ia memutuskan untuk membersihkan diri, lalu melakukan sholat tahajud, karena hanya mengadu dengan iya Rabbnya yang akan membuat pikirannya lebih tenang, kalau ia semakin menangis dan tidak mencurahkan isi hatinya pada ya Rabbnya, perasaan ia hanya semakin sakit, ia tidak akan menemukan ketenangan sama sekali, ia anggap benar yang di katakan almarhum Ayahnya, sebanyak apa pun masalah yang ia hadapi hanya melakukan sholat dan mencurahkan keluh kesahnya pada ya Rabbntya yang akan membuatnya lebih tenang.


...****************...

__ADS_1


Arkan di ruangannya masih diam, ia menyadarkan kepalanya di meja kerjanya, ia sesekali menatap jam yang sudah semakin menjelang pagi, ia ingin sekali melihat istrinya, apa sudah tidur atau belum, tapi ia tidak berani sekarang, semenjak kejujuran istrinya tadi sore membuat ia menghindar, ia hanya butuh waktu untuk memikirkan semuanya, ia butuh waktu antara melepaskan atau menpertahankan rumah tangganya, karena kalau ia tidak berpikir dan memilih mempertahankan, ia tidak ingin istrinya semakin tersakiti, ia tidak ingin istrinya selalu memendam rasa sakitnya seorang diri.


" Kenapa kamu harus menerima aku Uci? Aku tidak butuh balas budi darimu, bahkan sekedar ucapan terima kasih saja aku tidak butuh, aku hanya ingin kamu memperbaiki diri saat 3 tahun yang lalu, dan kamu sudah melakukan itu, aku sangat bahagia Uci, karena kamu mau belajar dari masa lalu, tapi bukan berarti kamu mengorbankan kebahagiaanmu untuk membalas budi padaku, aku benar-benar tidak membutuhkan itu, lalu aku harus bagai mana Uci? Aku harus berbuat apa sekarang? Aku masih ingat betul syarat pertama yang kamu ajukan, tapi aku juga tidak ingin mempertahankanmu Uci, aku tidak ingin semakin menyiksa hatimu, aku itu cinta dan sayang sama kamu Uci, aku tidak bisa seegois itu untuk menyakiti perasaan kamu."


Dada Arkan sangat sakit, tangan kanannya terkepal kuat, kekecewaannya begitu dalam terhadap istrinya, ia kecewa karena istrinya mengorbankan kebahagiaan untuknya.


" Uci, aku tau kamu jujur demi terbuka dengan hubungan kita, tapi kejujuranmu membuat hatiku kecewa dan sakit Uci, aku baru saja merasakan kebahagian satu hari, tapi sudah merasakan kekecewaan lagi."


Arkan mengusap wajahnya dengan kasar, matanya sudah perih, ia bukan orang yang cengeng, tapi semenjak ia duduk di kursi roda menjadi sensitif, apa lagi sekarang ia telah menyakiti hati wanita yang di cintainya, jelas ia sangat sedih. Arkan yang tidak kuat menahan sakit di dada, ia memukul meja kejanya berkali-kali.


Bugk...


Bugk...


Bugk...


Mejanya memang tidak apa-apa, tapi tangan Arkan mengeluarkan banyak darah, namen ia masih tidak merasakan sakit di tangannya, yang sakit hanya dadanya.


" Maafin aku Uci, sekali lagi aku minta maaf."


Arkan lagi-lagi merasa bersalah pada istrinya, lagi-lagi ia mengatakan kata maaf, entah sudah berapa kali ia minta maaf. Darah yang di tangan Arkan menetes sampai ke lantai, tapi ia tidak mempedulikan itu, karena pikirannya terus saja memikirkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2