
Sudah 1 hari yang lalu di saat kejadian Suci menggoreskan pisau di tangannya, sekarang ia juga sudah sadar, namen rasa sadarnya membuat Arkan terkejut saat Suci sadar tidak mengenali ia dan tidak mengenali siapa pun di ruangan itu termasuk Erlangga dan dokter Rina.
Dokter Rina menghela nafas berat, memang kemarin saat memeriksa, ia tau kalau Suci bukan hanya di suntik dengan obat tidur, tapi dokter yang menyuntikannya memberikan obat pelupa ingatan untuk 10 hari, guna untuk melupakan beban berat yang di tanggung oleh Suci agar janin dalam kandungannya bisa bertahan.
"Kalian siapa? Dan aku di mana?"
Pertanyaan itu sudah dua kali Suci lontarkan pada mereka.
Arkan yang awalnya bahagia, ia langsung meneteskan air matanya dengan sangat deras, ia tidak tau apa yang terjadi pada istrinya karena dokter Rina memang tidak menjelaskan apa pun pada ia.
"Sebenarnya apa yang terjadi Rin? Istriku kenapa?"
Tubuh Arkan semakin gemetar, ia takut kalau istrinya benar-benar lupa ingatan.
"Tenang Arkan, ini hanya sementara, bisa kita bicara sebentar?"
Arkan mengangguk pelan, ia langsung mengikuti dokter Rina yang sudah berjalan lebih dulu keluar kamar hingga mereka berdiri di depan pintu kamar itu.
"Istrimu baik-baik saja, hanya saja dokter yang menangani Suci kemarin bukan hanya memberikan obat tidur, tapi juga memberikan obat hilang ingatan, tapi ini tidak akan lama, hanya 10 hari, guna untuk mempertahankan janin yang ada di dalam kandungan istrimu, kalau tidak kandungan istrimu belum tentu bisa di selamatkan, karena pikiran Suci begitu kacau. Jadi aku mohon kamu mengerti situasinya, kamu jangan cemas, istrimu baik-baik saja."
"Terima kasih Rin."
"Kamu tidak perlu memberikan obat penenang pada istrimu, cukup beri suplmen penambah darah dan vitamin, yang sabar, aku percaya Suci bisa melewati ini semua. Kalau tidak ada pertanyaan aku pulang, dan kalau ada apa-apa kamu bisa segera hubungi aku."
"Lalu aku harus berbicara apa pada istriku Rin? Apa aku harus mengenalkan namanya saja tanpa embel-embel kata suami?"
"Kamu cukup mengaku kalau kamu suami Suci dan katakan kalau Suci sedang mengandung, tapi kamu jangan katakan hal lain, yang membuat Suci berusaha untuk mengingat, apa lagi masalah yang menimpa hingga membuat Suci nekad menggoreskan pisau pada lengannya."
"Baik Rin, sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama Arkan."
Arkan dan dokter Rina langsung masuk ke dalam kamar lagi, mereka berdua melihat Suci yang diam dengan kebingungan, bahkan ucapan Erlangga tidak Suci tanggapi.
"Arkan, aku pulang dulu, kalau ada apa-apa kamu telpon aku saja."
"Baik Rin."
Rina langsung keluar dari kamar itu di antar oleh Kania.
"Arkan, kakek keluar dulu, sekarang Suci sudah bangun."
__ADS_1
"Iya kek."
Setelah kakenya keluar Arkan berjalan mendekati istrinya ke tapi ranjang sambil tersenyum.
"Jangan mendekat! Kita bukan makhrom!"
Arkan tersenyum lebar saat melihat istrinya yang semakin memojokan tubuhnya di pojokan ranjang, senyuman Arkan bukan karena wajah lucu dari istrinya, tapi dengan keadaan hilang ingatan istrinya masih mengingat jelas tentang agamanya.
"Sayang, mas suamimu."
"Su-suami?"
Suci berbicara dengan terbata-bata.
"Iya suami, sini mas tunjukin foto kita."
Arkan langsung mengambil ponselnya di saku celananya, ia membuka foto pernikahannya di galeri untuk di tujukan pada istrinya.
"Sayang, coba kamu lihat ini."
Arkan berbicara sambil memberikan ponselnya pada istrinya. Suci dengan perlahan mengambil ponsel yang di serahkan oleh suaminya.
Suci menggeser-geser ponselnya untuk melihat semua foto di sana, hingga ia percaya kalau lelaki di depannya adalah suaminya.
Kini mata Suci menatap ke arah suaminya dengan perasaan bingung.
"Lalu aku biasanya memanggil apa padamu?"
Arkan tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan dari istrinya dengan wajah bingung dari istrinya yang terlihat menggemaskan, hingga ia lupa kalau beban pikirannya akhir-akhir ini sangat berat.
"Sayang biasanya memanggilku dengan panggilan mas, dan namaku Arkan."
Suci tersenyum lebar sambil meletakan ponselnya di meja, lalu ia melihat ke arah suaminya lagi.
"Sini mas."
Suci berbicara sambil melambaikan tangan agar suaminya mendekat, setelah suaminya sudah duduk di sampingnya, ia langsung menangkup wajah suaminya sambil tersenyum.
"Aku tidak pernah menyangka kalau memiliki suami sangat tampan seperti dirimu dan sangat menggemaskan."
Suci menempelkan wajahnya dengan wajah suaminya, ia tidak memikirkan kenapa ia bisa lupa ingatan, yang jelas ia sangat bahagia saat mengetahui dirinya sudah menikah dan suaminya adalah Arkan, lelaki yang menurut ia tampan.
__ADS_1
"Kenapa mas mau sama aku? Apa menurut mas aku wanita yang sempurna? Mas begitu tampan."
Arkan melepaskan tangan istrinya yang sedang menangkup ke dua pipinya, ia langsung menangkup ke dua pipi istrinya.
"Bagi mas kamu adalah bidadari yang di kirim Allah untuk mas, kamu sangat sempurna sayang, bahkan kamu juga sudah memberikan kebahagiaan terbesar pada mas, kebahagiaan yang terus mas nanti, yaitu kamu hamil, itu adalah kebahagiaan terbesar mas. Mungkin kamu sekarang hilang ingatan dan jangan mencoba untuk sayang ingat, mas sudah bahagia melihat kamu sembuh."
Entah kenapa ucapan suaminya membuat Suci tersentuh, hingga air matanya menetes begitu saja, tapi walau pun hati ia tersentuh, ia tidak tau air mata bahagia atau air mata kesdihan.
Arkan langsung mencium kening istrinya cukup lama, ia memang sangat bahagia saat istrinya bangun tidak mengenali siapa pun, setidaknya istrinya melupakan masalah yang sangat berat.
"Aku berharap kamu selalu tersenyum seperti ini Uci, walau pun nanti ingatanmu kembali, andai saja obat hilang ingatan tidak memiliki epek, aku ingin Suci tetap hilang ingatan agar tidak mengingat masalahnya." batin Arkan
Hingga setetes air mata Arkan jatuh di pipi istrinya.
Suci sangat terkejut saat merasakan air mata suaminya menetes, ia langsung mendorong tubuh suaminya pelan, lalu menatap mata suaminya yang memerah.
"Apa aku selama ini tidak pernah berprilaku baik pada mas? Hingga mas menangis?"
"Kamu sangat baik sayang."
"Lalu kenapa mas menangis?"
"Mas bahagia karena kamu sudah bangun dari tidurmu sayang."
"Benarkah? Mas tidak menyembunyikan sesuatu dariku? Aku minta maaf kalau dulu tidak memperlakukan mas dengan baik, tapi sekarang aku akan memperlakukan mas dengan baik, mas jangan sedih lagi."
Suci menghapus sisa air mata suaminya yang berada di pipinya.
Perlakuan istrinya membuat Arkan semakin meneteskan air mata, ia tidak menyangka walau pun istrinya hilang ingatan, tapi istrinya masih memperlakukannya dengan baik.
"Terima kasih iya Allah. Terima kasih karena tidak merubah sifat istri hamba." batin Arkan
"Kenapa mas semakin menangis? Apa aku salah berbicara?"
"Sayang tidak salah berbicara, sayang sangat baik dan mas terharu dengan sifatmu."
"Lalu mas tidak ingin bilang cinta padaku? Aku ingin tau bagai mana dulu mas menyatakan cinta padaku hingga aku mau menikah sama mas, atau aku memang sudah terpikit dengan ketampanan mas dari pandangan pertama?"
Arkan tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan dari istrinya.
"Bukan sayang yang jatuh cinta duluan, tapi mas yang jatuh cinta duluan padamu."
__ADS_1