
Sudah 1 minggu Reyhan pulang ke indonsia, dan hari ini Arkan juga baru selsai menjalani terapi di temani istrinya.
"Terima kasih mas."
Dari tadi Arkan baru membuka suara, tadi hanya istrinya yang terus mengoceh pada kaka sepupunya. Reyhan tersenyum sambil mengangguk pelan, ia mengerti dengan panggilan mas dari Arkan, walau pun usia ia lebih muda dari Arkan, tapi ia tau kalau Arkan menghorati istrinya dan menganggap ia juga kaka sepupunya.
" Itu sudah tugas saya, kamu harus rutin satu minggu dua kali kesini, semoga tidak sia-sia terapimu di sini dan semoga cepat ada perubahan."
" Amin mas."
Sedangkan Suci tersenyum, ia merasa aneh mendengar panggilan dari kaka sepupunya yang memanggil Arkan pada suaminya.
" Mas ko Uci merasa aneh iya, mas manggil mas Arkan pakai nama, hahaha."
" Terus mas harus manggil apa pada suamimu? Apa harus panggil mas Arkan juga seperti kamu?"
Reyhan bertanya sambil tersenyum. Kalau bukan sodara sepersusuan mungkin Arkan sudah sangat cemburu, mendengar istrinya tertawa oleh lelaki lain, tapi mereka memang kaka dan adik, ia tidak boleh cemburu dengan hal yang sangat konyol.
" Tidak begitu juga mas, tapi tetep lucu deh yang tua manggil mas, Uci jadi geli sendiri hahaha."
Suci tertawa lagi untuk yang ke dua kalinya.
" Mas senang melihat kamu bahagia seperti ini Uci."
" Iya harus bahagia dong mas, karena mas Arkan hanya mengajarkan Uci untuk tersenyum bahagia."
Reyhan mengelus pelan kepala adik sepupunya.
" Sudah sana pulang, mas masih ada pasien lagi."
Suci mengangguk pelan, ia membantu suaminya untuk pindah ke kursi roda.
" Mas, saya pamit dulu."
" Iya Arkan."
Suci langsung nyalami dan mencium tangan kaka sepupunya.
" Assalamualaikum."
" Wa'alaimumsalam."
Reyhan tersenyum bahagia, melihat adik sepupunya yang begitu bahagia dengan pernikahannya, tapi tetap tidak bisa ia pungkiri, ia takut kalau suatu saat rumah tangganya memiliki masalah karena orang ke tiga, ia kenal betul dengan sifat Sulis. Sulis kalau memiliki ke inginan harus terpenuhi, dan ia kenal betul sifat Suci yang selalu saja baik dengan sesaorang.
" Semoga saja kamu selalu bahagia Uci." batin Reyhan
Suci dan Arkan sudah sampai di mobil, sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Suci menyadarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya, dengan ke dua tangan yang melingkar di pinggang suaminya. Arkan merangkul pinggang istrinya.
Memang semejak istrinya menyatakan cintanya tidak bisa Arkan pungkiri, ia bisa melihat sisi manja istrinya yang selalu saja ingin melengket, tapi ia tidak merasa risih, ia bahkan lebih senang saat istrinya terus saja melengket. Sedangkan pak Budi sendiri yang menyetir, ia menjadi malu sendiri setiap kali melihat ke dua majikannya dari kaca sepion, tapi tidak bisa ia pungkiri, ia juga sangat senang saat melihat ke dua majikannya yang selalu romantis.
" Sayang."
" Iya mas."
__ADS_1
" Siang-siang ko meluk mas terus?"
Arkan bertanya sambil menunduk, menatap mata istrinya yang memejamkan mata.
" Ih mas, itu kata-kata aku satu minggu yang lalu tau, lagian capek banget mas."
" Maaf, karena mas membuat capek kamu semalam."
" Tidak perlu minta maaf mas."
Arkan mengangguk sambil tersenyum, memang sudah satu minggu ini istrinya menawarkan diri untuk melakukan hubungan badan, dan ia juga tentu menyetujuinya, walau pun ia tidak meminta, tapi ia juga menginginkannya.
Apa lagi Arkan membaca alasan seorang istri yang menawarkan diri, dan mendapat pahalanya yang besar, ia membiarkan sang istri yang menawarkan diri tanpa harus di minta, apa lagi istrinya juga selalu menawarkan diri setiap harinya.
Mereka sampai di pekarangan rumah, Suci langsung melepas pelukannya, ia turun lebih dulu, sedangkan pak Budi langsung menurunkan kursi roda. Suci langsung membantu suaminya untuk pindah ke kursi roda.
" Pak, terima kasih."
" Sama-sama non."
Suci langsung mendorong suaminya masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.
" Assalamuailkum."
" Wa'alaikumsalam."
Keyla yang duduk di ruang tamu langsung menyauti salam dari menantunya. Suci langsung mencium tangan mama mertuanya.
" Eh mama tumben belum pergi arisan?"
Suci dan Arkan memang pergi sebelum sarapan pagi, di karenakan takut perjalannanya macet.
" Habis anter mas Arkan untuk terapi ma."
" Terapi dengan dokter siapa sayang? Tadi pagi mama mau bilang kalau Arkan suruh terapi sama dokter Reyhan, katanya baru hari ini dia mulai bekerja di rumah sakit Harapan."
Suci langsung duduk di sofa bersebelahan dengan mama mertuanya.
" Iya itu juga habis terapi di mas Rey ma."
" Ko sayang panggilnya mas?"
Keyla menatap bingung pada menantunya.
" Mas Rey kaka sepupu Uci ma, jadi kami sudah daftar duluan sebelum mas Rey praktek."
" Wah bagus dong, katanya dokter Rey tidak pernah gagal, semoga saja Arkan bisa sembuh."
" Amin."
Suci dan Arkan mengamininya secara bersamaan.
" Mas mau makan apa?"
__ADS_1
" Nasi goreng saja sayang, mas lagi pengen nasi goreng buatan kamu."
" Iya sudah, ma Uci tinggal ke dapur dulu iya."
" Iya sayang."
Setelah Suci ke dapur, kini tinggal ada Arkan dan Keyla.
" Apa Suci baik-baik saja selama satu minggu ini sayang?"
" Sudah lebih baik ma, Suci juga sudah jarang pusing."
" Mama itu sebenarnya sedikit heran dengan tubuh Suci, Suci selalu makan makanan yang sehat, tapi ko bisa kurang darah?"
" Iya Arkan juga bingung ma, tapi iya sudah mau gimana lagi, memang begitu kenyataannya."
" Lalu apa kalian akan menunda kehamilan dulu?"
" Tidak ma, Suci menginginkan punya anak, walau pun Arkan takut, tapi Arkan tidak bisa melarang keinginan Suci."
" Baiklah, kalau memang begitu, kamu harus lebih perhatian lagi sama Suci."
" Iya ma, Arkan ke Suci dulu."
" Iya sayang."
Saat Arkan sampai di depan meja makan, ternyata istrinya keluar dari dapur dengan membawa satu piring nasi goreng.
" Eh mas rupanya sudah nunggu."
" Iya sayang, habis harum banget jadi mas merasa sangat lapar."
Suci tersenyum, ia membantu suaminya pindah ke kursi, lalu setelah itu ia juga ikut duduk di samping suaminya. Arkan langsung membaca do'a seperti biasanya, lalu langsung menyuapi istrinya, setelah itu menyuapi dirinya sendiri.
" Mas, aku akhir-akhir ini makan aga banyak iya? Biasanya sedikit."
" Tidak apa-apa sayang, mungkin karena capek habis bertempur hehe."
" Ih mas, lagi makan juga."
" Iya tidak apa-apa sayang, emang itu paktanya ko, apa lagi kamu juga tidak pernah makan siang, hanya makan pas sarapan dan makan malam."
" Iya kali iya mas."
Mereka melanjutkan makannya sambil mengobrol, tidak biasanya mereka makan sambil mengobrol, biasanya Suci dan Arkan hanya diam saat makan. Mereka selsai makan.
" Terima kasih sayang, sudah masakin buat mas."
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum, lalu ia langsung membawa piringnya ke dapur, sedangkan Arkan langsung pindah sendiri ke kursi roda, ia menunggu istrinya yang pergi ke dapur, hingga istrinya di depannya.
" Mas, ke kamar yuk, aku mau mandi."
" Iya sayang."
__ADS_1
Suci langsung mendorong suaminya masuk ke life. Mereka sampai di kamar, Suci langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.