
Setelah permintaan istrinya semalam, Arkan di kantor tidak fokus untuk bekerja, ia berkali-kali membolak-balik berkas yang sedang ia priksa. Sedangkan Rangga hanya menggeleng pelan, melihat kelakuan atasannya sekaligus sahabatnya.
" Pak Arkan, sampai kapan akan terus membolak-balik berkas itu?"
Walau pun Rangga sahabat Arkan, tapi ia selalu berprofisinoal jika sudah jam kerja. Arkan menatap sahabatnya sekilas, ia langsung meletakan berkasnya.
" Rangga, kamu priksa semua yang ada di sini."
Arkan berbicara sambil menepuk berkas yang sudah di tumpuk rapih.
" Iya elah pak, pedes banget orang cuma nanya ko saya jadi di berikan setumpuk pekerjaan."
Rangga mengomel sambil mengambil tumpukan berkas yang di suruh Arkan, bahkan kerjaan ia saja belum selsai, sudah di tambah lagi. Arkan hanya menanggapinya dengan senyuman, ia menyadarkan kepalanya di meja sambil memainkan ponselnya. Rangga melihat ke arah Arkan yang tidak bersemangat untuk bekerja, biasanya Arkan kalau sudah bekerja akan selalu lupa waktu.
" Bapak kenapa? Apa tidak di kasih jatah semalam? Sampai-sampai bapak tidak bersemangat untuk bekerja?"
Arkan mengangkat kepalanya, lalu ia menggeleng pelan, jatah apaan? Selama Arkan menikah saja belum pernah melakukan apa pun selain cium bibir sekilas. Rangga yang melihat jawaban dari Arkan, ia pikir Arkan memang tidak di kasih jatah
" Iya elah pak tinggal bilang saja ke istri bapak kalau lagi ingin making love, gitu saja repot."
" Berisik Rangga! Kamu itu tidak tau apa-apa! Pakai langsung komentar segala, bukan'kah saya tadi menggelengkan kepala?"
Belum sempat Rangga menjawab, tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar, menampilkan Raka dan Ikbal.
" Ini lagi pada ngapain kesini coba?!"
Memang Arkan semejak menikah menghindari Ikbal dan Raka, semenjak ia menjelaskan pada mereka alasan menikah dengan Suci.
" Iya elah santai Arkan, lo kenapa pagi-pagi begini sudah sewot gitu? Apa jangan-jangan juniornya sudah ingin terbang iya ke milik istri lo?"
Arkan langsung melempar pena ke arah Ikbal yang masih berdiri, ia kesal di saat ia memikirkan ucapan dari istrinya, para sahabatnya memikirkan hal mesum.
" Nie anak seperti sedang datang bulan saja, heran gue."
" Berisik! Bocah ingusan!"
__ADS_1
Raka tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Arkan yang mengatainya anak ingusan, ia memang paling muda di antara ke tiga sahabatnya, usiannya saja masih 23 tahun, masih kuliah S2.
" Lo ngapain ke sini? Mau makan gajih buta?!"
Arkan menatap tajam pada Ikbal, sebenarnya ia tidak pernah berbicara begitu sama Ikbal, tapi ia sedang malas di ganggu.
" Iya elah pak CEO sabar kenapa, nanti gue juga balik lagi ke kerjaan, gue cuma mau bilang kalau akhir-akhir ini kerjaan Sulis semakin kurang berprofesional, ia seperti sedang memikirkan sesuatu dan lingung, kadang-kadang marah-marah tidak jelas."
" Gue enggak peduli, lo yang gue percaya di Xien Grup, itu terserah lo mau bagai mana."
" Ya iya gue tau, tapi maksud gue lo enggak mau liat keadaan Sulis? Atau sekedar sapa menyapa? Perasaan gue semenjak lo nikah belum pernah melihat langsung pekerja para model, lo cuma datang ke kantor juga langsung ke ruangan Ceo, sudah gitu pulang lagi."
" Gue enggak peduli."
" Lo yakin sudah ngelupain Sulis seutuhnya hanya demi wanita bercadar itu?"
Mereka semua memang tidak tau kalau yang di nikahi Arkan adalah wanita yang di cintai oleh Arkan selama 3 tahun ini.
" Iya, gue cinta sama istri gue, jadi gue enggak peduli lagi tentang Sulis, dia sekarang hanya kaka ipar, tidak lebih."
" Lo jangan becanda?"
Raka dan Ikbal langsung duduk di sofa, sambil menatap Arkan yang masih duduk di meja kerjanya.
" Gue serius."
" Kenapa lo bisa cinta sama istri lo? Secara kalian baru saling kenal, tidak mungkin karena setiap hari making love lo jadi cinta sama Suci?"
Arkan ingin sekali menoyor kepala Raka yang selalu saja berbicara mesum.
" Bisa enggak lo jangan mikirin making love mulu?"
Raka mengerutkan keningnya sesaat.
" Jangan-jangan lo belum ngelakuin malam pertama iya? Masa gue ngomong gitu lo marah?"
__ADS_1
" Kalian sana pergi dari kantor gue!"
Arkan langsung mengalihkan pembicaraan, ia tidak mungkin mengakui belum melakukan malam pertama, yang ada Ikbal akan mengejeknya habis-habisan, bahkan saat di club malam saja Ikbal selalu mengejek Arkan, karena ia merasa jiji di dekati oleh wanita penggoda.
" Bentar gue butuh penjelasan, lo bisa cinta Suci kenapa? Secara kalian baru saling kenal 1 bulan ini, bahkan saat benar-benar saling dekat kalian baru 3 minggu."
" Karena Suci Gadis yang gue cintai selama 3 tahun ini."
Rangga yang sedang meminum kopi, ia langsung menyemburkan kopinya karena terkejut. Sedangkan Raka dan Ikbal melebarkan matanya, ia sedikit tidak percaya kalau wanita yang memakai cadar itu adalah wanita yang di cintai Arkan selama ini, karena Arkan mengenal wanita itu di club malam.
" Bapak jangan ngawur! Mana ada wanita sholehah seperti Suci pernah ke club malam?"
Rangga bertanya masih dengan bahasa formal, walau pun sekarang sudah ada ke dua sahabanya, tapi ini masih jam kerja.
" Gue serius, memang kalau dengan wajahnya sangat jauh berbeda, bahkan gue sempat tidak percaya kalau Suci adalah dia, tapi Suci yang menceritakan segalanya dan di situ gue percaya, kalau Suci adalah dia."
" Hebat banget Suci bisa berubah menjadi wanita sholehah. Salut saya sama Suci."
Rangga bukan hanya sekedar memuji dari mulut, ia memuji dari hati yang melihat perubahan Suci yang berubah deratis dari 3 tahun yang lalu, ia memang belum pernah bertemu Suci sebelumnya, tapi mendengar cerita Arkan yang menolong Suci di club malam, tentu ia sangat memuji perubahannya.
" Lo lagi enggak bercanda?"
Jujur saja Ikbal masih tidak percaya dengan ucapan Arkan.
" Gue serius, itu kenapa gue enggak mau minum alkhol lagi, gue malu sama Suci. Suci sudah berubah deratis, gue hanya ingin kalau gue cocok bersanding dengan wanita sholehah seperti Suci."
" Pantas saja sekarang ada perubahan, di kantor ada sejadah, sarung, peci, dan baju koko."
Arkan hanya menanggapinya dengan senyuman,ia juga berpikir tidak cocok dengan Suci yang kepribadiannya sudah jauh lebih baik, sedangkan ia baru saja belajar, itu pun karena ia malu dengan Suci, tapi semakin hari ia belajar lebih baik, ia mulai terbiasa.
" Gue harap lo bisa membahagiakan Suci, jangan sampai lo membuatnya menangis, lo beruntung bisa menikahi Gadis yang lo cintai karena kejadian ini, mungkin lo di beri lumpuh agar lo menikah dengan wanita yang lo cintai, terlebih sekarang wanita itu sudah berubah menjadi lebih baik dan bisa membimbing lo menjadi lebih baik lagi."
" Itu pasti Ikbal, gue akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia."
Arkan berbicara sambil menghela nafas berat, karena nyatanya ia menolak permintaan istrinya, ia lebih takut kalau istrinya malu.
__ADS_1