
Indra mengepalkan tangan kirinya, ia tidak mungkin kalau pemandangan yang di depan matanya itu benar begitu dari hati, melihat kaka tirinya yang selalu menolak wanita, ia yakin kalau ada yang di tutupi dari mereka berdua. Arkan dan Suci selsai makan.
" Terima kasih Uci, sudah masakin buat mas."
" Iya mas sama-sama."
Keyla tersenyum lebar.
" Arkan itu susah banget yang namanya makan loh nak Suci, tapi semenjak kamu yang masak, bahkan Arkan makannya banyak."
Suci hanya menanggapinya dengan senyuman pada mama mertuanya lalu menatap ke arah suaminya, seolah bertanya.
" Iya Uci, memang benar yang di bilang mama, habis masakan kamu paling enak dari masakan yang lain."
Setelah mangatakan itu Arkan mengecup kening istrinya sekilas.
" Ih mas, belum sikat gigi juga sudah kecup aku, yang ada kening aku bau ikan mas nie."
Arkan hanya tertawa saat mendengar ucapan dari istrinya. Sedangkan orang tua Arkan tersenyum melihat kelakuan putra dan menantunya, berbeda dengan Indra yang merasa sakit hati melihat pemandangan itu.
" Aduh Arkan, mesum tidak tau tempat."
" Ih papa, ini itu ajaran papa tau, lagian hanya cium kening."
" Ko jadi papa yang di bawa-bawa?"
" Iya terus Arkan mengikuti jejak siapa dong kalau bukan jejak papa? Tidak mungkin mengikuti jejak mama, lagian hanya papa yang ngomong mesum dan nyosor tidak tau tempat."
Bagas hanya tertawa mendengar jawaban putra tirinya, memang ucapan Arkan itu benar adanya, ia akan mencium istrinya di mana pun tempatnya. Keyla memukul pergelangan suaminya.
" Sifat mesum kamu nurun tuh sama putraku."
" Putra kita ma, bukan putramu saja."
Keyla hanya mengangguk saat suaminya mengoreksi Arkan putra kita, memang walau pun Bagas papa tiri Arkan, tapi Arkan tidak pernah lepas dari pengawasaannya, Bagas selalu mengirim mata-mata apa yang di lakukan Arkan, Bagas hanya ingin Arkan selalu baik-baik saja. Arkan langsung pindah pada kursi roda di bantu oleh istrinya, ia langsung mendorong dirinya untuk ke depan mestapel ruang makan, untuk menyikat gigi. Sedangkan Suci masih duduk di meja makan sambil menunggu suaminya.
__ADS_1
" Sayang, hari ini masuk kuliah?"
" Iya ma."
" Kalian berdua berangkat bersama saja dengan Indra, Indra juga pindah ke kampus yang sama."
" Tidak perlu ma, nanti Uci bisa naik taksi."
Suci tidak ingin berurusan lagi dengan Indra, ia tidak mau Indra bertanya tentang pernikahannya padanya, ia takut kalau Indra masih memiliki perasaan padanya.
" Iya sudah kalau itu kemauan kamu sayang."
Arkan yang sudah selsai, ia langsung berpamitan pada ke dua orang tuanya dan adiknya
" Ma, pa, Arkan berangkat."
" Iya sayang hati-hati di jalan."
" Iya nak."
" Indra, abang berangkat dulu."
Suci langsung memakai cadarnya lagi, lalu ia langsung mendorong suaminya keluar untuk mendekati ke arah mobil.
" Den, non."
Pak Budi menyapa mereka, memang kalau di rumah, para pekerja Arkan di larang untuk mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, intinya tidak boleh selain bukan orang kantornya. Suci langsung membantu suaminya untuk duduk di kursi penumpang.
" Kamu tidak berangkat sama mas saja Uci?"
" Tidak mas, oh iya Uci ijin ke rumah Bunda mau mengambil mobil."
" Mobil yang sudah di rumah Bunda biarin saja, kamu pakai mobil mas saja, nanti mas cari supir wanita untuk kamu."
" Tidak usah mas."
__ADS_1
" Mas tidak mau penolakan, dan satu lagi, walau pun kalian tidak kenal dekat dengan adik mas, mas tidak suka kalau kamu dekat-dekat Indra Uci."
Arkan bukan melarang istrinya untuk sekedar mengobrol dengan adik tirinya, tapi ia yakin kalau nama Suci yang di cintai adik tirinya di masa lalu itu adalah istrinya, ia tidak ingin kalau nanti di abaikan oleh kedekatan mereka, walau pun ia tau kalau istrinya menolak cinta adik tirinya, tapi perasaan cinta tidak akan pernah tau kapan akan tubuh.
" Iya mas, hati-hati."
Suci langsung mencium tangan suaminya, lalu suaminya juga mencium keningnya.
" Assalamuailikum."
" Wa'alaikumsalam."
Suci langsung menutup pintu mobil suaminya, ia melambaikan tangan pada mobil suaminya sambil tersenyum, setelah suaminya pergi, ia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Tiba-tiba saja pergelangan tangan Suci di pegang oleh sesaorang dari belakang, ia sangat kenal betul pegangan siapa sebelum membalikan badan ia langsung menghempaskan tangan Indra, ia langsung membalikan badanya, ia menatap Indra sekilas lalu langsung menunduk.
" Kenapa kamu mau menikah sama abang Uci? Kenapa kamu mau mengorbankan kebahagiaan kamu demi untuk abang? Yang hanya memanfaatkan kamu untuk mendapatkan perusahaan peninggalan papa kandungnya? Kamu sama sekali tidak akan pernah mendapatkan cintanya abang. Aku sangat kenal abang, kalau abang mencintai sesaorang abang tidak akan mudah melupakannya, sedangkan abang mencintai kaka kamu Sulis, jadi tidak akan mungkin kamu bisa mendapatkan cintanya abang."
Suci tersenyum saat Indra memakai bahasa kamu aku, kalau dulu hanya memakai kata lo gue, seperti ia di masa lalu. Dada Suci mendadak tidak bisa bernafas, saat mendengar ucapan dari Indra, ia memang tau kalau suaminya ingin mendapatkan perusahaan Wijaya Grup, tapi ia tidak tau kepribadian dari suaminya sama sekali.
" Apa benar mas Arkan seperti itu? Kalau memang benar, itu artinya hanya aku yang berjuang sendiri untuk mencintainya dan ia tidak berjuang juga untuk mencintaiku dan melupakan masa lalunya bersama kak Sulis." batin Suci
Suci masih diam, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
" Uci, apa kamu mencintai abang?"
Suci hanya menganggup pelan.
" Berpisalah dengan abang Uci, karena sampai kapan pun kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta dari abang, kamu hanya akan membuang waktu yang sia-sia."
" Kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan rumah tanggaku, aku tidak peduli dengan perasaan mas Arkan yang tidak mencintaiku, aku tidak peduli kalau mas Arkan menikahiku hanya untuk mendapatkan Wijaya Grup, yang jelas aku akan tetap di sisinya karena aku sangat mencintainya."
Bohong kalau Suci menganggap semuanya baik-baik saja, dada ia sangat sakit saat Indra mengatakan kalau suaminya hanya menginginkan Wijaya Grup, dan ia juga bohong kalau ia mencintai suaminya, nyatanya perlakuan manis suaminya itu tidak bisa membuat jantungnya berdebar, ia merasa hanya tersentuh dengan perlakuan manis dari suaminya, tapi sama sekali tidak cinta.
" Kamu bilang cinta? Aku kenal kamu itu sudah lama Suci, bukan sehari dua hari, aku yakin kalau kamu juga tidak mencintai abang, aku yakin kamu melakukan ini hanya sebatas tanggung jawab karena kakamu telah membatalkan pernikahannya. Uci, aku tau hatimu sekarang tidak baik-baik saja, jangan buang air matamu hanya untuk orang yang tidak kamu cintai."
__ADS_1
" Air mata yang mengalir dari mataku hanya ada air mata kebahagiaan, bukan air mata kesedihan, kita sudah lama tidak bertemu, setiap orang sifatnya akan berubah, kamu tidak bisa menilaiku kalau aku menangis karena kesedihan."
" Aku tidak mau panjang lebar membahas abang, aku cuma mau bilang kalau aku masih Indra yang dulu, masih sayang dan cinta kamu Suci, tapi kamu lagi-lagi tidak pernah memberikan kesempatan untuk bersamamu."