
Arkan tersenyum lebar saat mendengar panggilan baru dari wanita yang sekarang menjadi istrinya, ia tersenyum bahagia pada istrinya. Bahkan Arkan sampai lupa kalau hati istrinya bukan untuknya, yang jelas ia merasa sangat bahagia
" Pasti Uci, kamu akan menjadi satu-satunya midadari di hidup mas, dan berharap di satukan kembali di surganya."
Arkan mengganti panggilan saya dengan kata mas, ia hanya mengikuti ucapan istrinya. Keyla dan Bagas juga tersenyum lebar, ia belum pernah melihat senyuman Arkan setelah papanya meninggal, kebetulan Bagas adalah sahabat papanya Arkan dulu, bahkan Bagas menikahi Keyla karena permintaan papanya Arkan di masa lalu, untuk memberikan kasih sayang penuh terhadap Arkan, jadi Bagas sudah mengenal betul masa kecil Arkan hingga tumbuh dewasa.
" Mas, aku seneng banget liat Arkan tersenyum, semoga senyuman bahagianya tidak pernah pudar."
" Iya sayang, mas juga senang."
Orang tua mana yang tidak senang saat melihat putranya bisa kembali bahagia? Setelah 9 tahun hanya melihat senyuman terpaksa, tentu semua orang tua sangat bahagia. Bukan hanya ke dua orang tua Arkan, tapi ke tiga sahabat Arkan juga sangat bahagia saat melihat Arkan tersenyum bahagia, mereka bertiga juga sudah merindukan senyuman Arkan yang seperti dulu.
" Gue harap lo selalu bahagia bersama Suci." batin Ikbal
" Gue enggak menyangka kalau Arkan benar-benar mencintai Suci, terlihat jelas mata Arkan yang berbinar dan senyuman bahagia." batin Rangga
" Gue berharap Arkan selalu bahagia seperti saat remaja dulu." batin Raka
Suci tersenyum, walau pun ia tidak bisa menikah dengan lelaki yang di cintai, tapi tidak bisa di pungkiri melihat senyuman Arkan, ia juga ikut bahagia. Sekarang waktunya Arkan dan Suci untuk bersalaman ke pada orang tua mereka. Suci membantu Arkan duduk di kursi roda, senyuman Arkan tidak pernah pudar.
" Bunda, terima kasih sudah mengijinkan Arkan untuk menikahi Suci, Arkan memang tidak bisa janji untuk selalu membuat Suci bahagia, tapi Arkan akan selalu berusaha untuk selalu membuat Suci bahagia."
Anisa tersenyum lebar pada Arkan, tangan kirinya menepuk pelan punggung Arkan.
" Bunda harap kamu tidak mengecewakan Bunda nak Arkan. Bunda mendidik Suci dengan lemah lembut, dari kecil hingga dewasa, Suci belum pernah Bunda bentak, semoga nak Arkan tidak pernah membentak Suci, kalau pun ada kekurangan dan kesalahan dalam sifat Suci dan membuat nak Arkan tidak suka, tegurlah Suci nak, tapi jangan pernah membuat air matanya menetes, Bunda sangat tidak rela kalau sampai itu terjadi."
" Insya Allah Bunda."
Kini Anisa langsung memeluk putrinya sambil menangis, ia sebenarnya belum rela kalau tanggung jawabnya sudah di gantikan oleh Arkan, ia merasa kalau waktu yang di habiskan Suci bersamanya hanya sebentar.
" Nak, tanggung jawabmu bukan Bunda lagi, sekarang tanggung jawabmu adalah suamimu. Surgamu Bukan lagi di Bunda, tapi surgamu di suamimu. Jadilah istri yang baik, yang bisa di banggakan oleh suamimu."
__ADS_1
" Bunda, maafin Uci, selama ini Uci belum bisa berbakti pada Bunda, terima kasih telah membesarkan dan mendidik Uci penuh dengan kasih sayang."
Air mata Suci pecah saat Bundanya mengatakan surganya ada di suaminya. Anisa langsung melepaskan pelukannya, ia mengecup kening putrinya.
" Jangan lama-lama, tamu kamu banyak nak, takutnya mereka ingin segera pulang."
" Iya Bunda."
Kini mereka langsung ke arah Bagas dan Keyla.
" Terima kasih, sudah mau menjadi bagian dari keluarga kami nak Suci."
Bagas mengucapkannya dengan tulus, ia sangat bahagia saat bisa melihat putra tirinya tersenyum bahagia.
" Jangan pernah berterima kasih pa, Uci senang bisa menjadi menantu papa."
Setelah mengucapkan itu, kini Suci dan Arkan duduk di sofa yang sudah di sediakan, walau pun tanpa hiasan apa pun, tapi sofa itu layaknya sofa pelaminan.
Terakhir Mia, yang sengaja memang ingin mengobrol sebentar dengan Suci, jadi Mia memilih paling akhir.
" Kak Uci selamat iya, Mia senang liat kaka menikah, semoga kak Uci dan Kak Arkan selalu bahagia."
Suci tersenyum lebar, kalau ia tidak memakai cadar, mungkin deretan giginya sudah terlihat, ia sangat senang saat di ucapkan selamat oleh Mia.
" Terima kasih Mia."
Suci langsung memeluk Mia, ia memang sangat merindukan Mia. Arkan yang melihat itu hanya tersenyum, ia sangat kagum pada istrinya yang begitu menyayangi adik juniornya.
" Jangan lama-lama Mia, waktunya sudah habis nie."
Karinah sudah tidak sabar karena Suci dan Mia berpelukan begitu lama. Mereka langsung melepaskan pelukannya saat mendengar ucapan dari Karinah.
__ADS_1
" Ih Kaka Karinah ganggu, Mia masih kangen."
" Nanti kamu di tinggalin sama Umi mau?"
" Tidak."
Karinah dan Lia langsung mendekati Suci, mereka langsung mengucapkan selamat pada Suci dan Arkan. Setelah itu tinggal para Usatazah yang mengucapkan selamat pada Suci dan Arkan, hanya saja Ustazah Alisah paling terakhir. Arkan terkejut saat melihat Ustazah Alisah, ia memang sudah lama tidak bertemu lagi sama Ustazah Alisah.
" Arkan, Suci, selamat iya, semoga kalian selalu bahagia, dan secepatnya di berikan keturunan, agar menjadi pelengkap rumah tangga kalian."
" Iya terima kasih Alisah, karena mau hadir di santrimu."
Suci melirik ke arah Arkan dengan wajah yang sangat terkejut, saat Arkan mengetahui nama Ustazah Alisah. Ustazah Alisah hanya mengangguk sambil tersenyum getir, air matanya sudah ingin keluar, ia buru-buru pergi dari depan mereka. Setelah itu Kadijah dan Kiai Habibi juga mengucapkan selamat, termasuk ke empat Gus dari pesantren Alhusna, yang terakhir Gus Ali
" Barakallah Mas Arkan, neng Suci, semoga menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah."
Gus Ali mengucapkannya sambil tersenyum getir, ia sudah ingin sekali menangis, termasuk Suci yang tadi tersenyum dan bisa berbicara normal, tapi sekarang bibirnya menjadi kelu, matanya sudah memerah, dadanya sangat sulit untuk bernafas.
Arkan yang melihat reaaksi istrinya hanya diam, ia menatap ke arah istrinya, ia bisa melihat mata istrinya yang sedang menahan air matanya.
" Terima kasih."
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Arkan. Gus Ali memeluk Arkan sesaat, ia menepuk pelan punggung Arkan.
" Tolong jaga neng Suci, jangan biarkan air matanya menetes, saya percaya kalau mas Arkan bisa membuat neng Suci bahagia."
Sebelum mendengar jawaban dari Arkan, Gus Ali langsung melangkah, ia tidak bisa lama-lama di dekat mereka, hatinya sangat sakit.
Senyuman Arkan menjadi hambar, ia menjadi merasa bersalah karena terus saja maju, seharusnya saat ia tau dari Sulis, ia langsung mundur, mungkin ia tidak akan melihat kekecewaan di mata istrinya dan Gus Ali. Arkan sekarang tau seperti apa lelaki yang di cintai oleh istrinya, begitu sangat sempurna, lelaki yang masih muda, tampan dan sholeh.
" Maafin aku Uci." batin Arkan
__ADS_1
Ada rasa kecewa di hati ke tiga sahabat Arkan, saat melihat Arkan mulai tersenyum habar dan sikap Suci yang hanya diam mematung, mereka yakin kalau Suci memiliki perasaan terhadap lelaki tadi, bukan hanya Suci, tapi mereka juga bisa melihat pandangan mata lelaki itu sangat terluka