Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 125 Hasil USG


__ADS_3

Seperti yang di suruh dokter Viona, sekarang Suci dan suaminya sudah ada di rumah sakit.


Suci sudah berbaring di ranjang bersama suaminya yang berdiri di sampingnya sambil menggenggam erat tangannya.


Sedangkan dokter Viona sedang sibuk melihat Komputer untuk melihat janin yang ada di dalam kandungan Suci hingga beberapa menit kemudia ia terenyum lebar.


"Ar, ini bayinya ada dua."


"Seriusan Vi?"


Arkan langsung melihat ke arah komputer, memang tidak terlalu jelas di sana.


"Iya, tapi kita belum tau jenis kelaminya perempuan atau lelaki."


Arkan langsung bersujud syukur di lantai samping ranjang istrinya.


"Terima kasih ya Allah, setelah kami berdua mendapatkan ujian bertubi-tubi akhirnya di berikan kado terindah oleh engkau." batin Arkan


Air mata Arkan langsung menetes karena rasa bahagianya, ketabahan ia dan istrinya yang selalu menerima ujian itu dengan lapang dada, akhirnya di gantikan dengan kebahagian.


"Terima kasih ya Allah telah memberikan hamba kebahagian setelah mendapatkan banyak ujian dan terima kasih selalu memberikan hamba iman untuk terus menerima cobaan yang engkau berikan." batin Suci


Arkan langsung berdiri, ia langsung mengecup kening istrinya cukup lama.


"Mas sangat bahagia sayang, akhirnya ucapan mas menjadi kenyataan."


"Aku tidak menyangka kalau ucapan mas ternyata benar."


Suci langsung duduk, ia langsung memeluk suaminya sangat erat dengan air mata yang mengalir deras.


Suci tidak menyangka kalau ia akan di berikan kepercayaan oleh sang pencipta dengan di berikan dua mahluk kecil sekaligus di perutnya.


Dokter Viona yang melihat mereka berdua sangat mesra, ia tersenyum lebar, ada rasa iri di hatinya saat melihat rumah tangga keponakan tirinya itu sangat menyentuh hatinya, membuat ia juga sudah tidak ingin terus menunda pernikahanya.


Dokter Viona berpikir kalau pernikahan itu ternyata bukan hal yang buruk, perpisahan ke dua orang tuanya mampu membuat ia terus melajang.


Walau pun dokter Viona tau kalau almarhum mamanya akhirnya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama Erlangga, yang selalu menghormati mamanya dan memperlakukan mamanya dengan baik, tapi lagi-lagi ia selalu saja enggan untuk membahas pernikahan hingga hubunganya selalu berakhir dengan kata putus.


Kini dokter Viona sadar kalau ke dua orang saling menerima kekurangan pasangan masing-masing akan berujung bahagia, begitu pun dengan kisah cinta Arkan bersama Suci.


Dari awal Suci menerima Arkan apa adanya walau pun Arkan lumpuh, setelah itu Arkan menerima Suci yang selalu memiliki darah rendah hingga selalu membuat Arkan menjadi sangat kerepotan.


Namun setelah banyaknya rintangan yang menerjang rumah tangga mereka kini mereka di berikan kebahagiaan dengan kehadiran 2 buah hati mereka sekaligus.


"Tante jadi iri sama kalian."


Suci yang sedang berpelukan bersama suaminya baru ingat kalau di sana juga ada dokter Viona.


"Eh Tante."


Arkan dan istrinya langsung melepaskan pelukanya sambil tersenyum lebar.


"Mentang-mentang mendapatkan kebahagiaan sampai lupa sama Tante."

__ADS_1


"Maaf Tante Uci lupa."


Suci tersenyum malu saat ia melupakan dokter Viona di sana.


"Iya tidak apa-apa Uci, iya sudah kalau mau sayang-sayangan kalian di rumah, aku masih sibuk."


"Baik Tante."


"Iya Vi, terima kasih."


"Sama-sama Ar."


Suci langsung mencium tangan dokter Viona untuk berpamitan.


"Assalamualikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mereka berdua langsung keluar dari ruangan dokter Viona sambil tersenyum lebar.


Sepanjang perjalalanan pulang mereka terus saja tersenyum dengan Suci yang menyandarkan tubuhnya di tubuh suaminya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam mereka sampai di rumah.


Arkan dan istrinya langsung keluar dari mobil dengan Arkan yang langsung menggendong tubuh istrinya.


Sedangkan Suci mengalungkan ke dua tanganya di leher suaminya.


Arrabella yang melihat mereka berdua langsung memanggil Suci.


"Tidak perlu!"


"Mas tidak boleh begitu."


Suci langsung turun dari gendongan suaminya.


"Ada apa iya Arra?"


"Aku minta maaf karena banyak salah sama kamu."


Arrabella langsung berlutut di depan Suci.


"Aku yang sudah membuat kamu terjatuh saat itu, aku minta maaf, tolong maafkan aku."


"Jadi kamu yang membuat aku terpleset aat itu?"


"Iya Uci, aku benar-benar minta maaf."


Arrabella minta maaf pada Suci dengan tulus dari hati karena tadi pagi ia di marahi habis-habisan oleh sahabatnya, bahkan sahabatnya bilang kalau ia tidak tau diri. Sudah di besarkan oleh kakek Arkan, tapi ia mau mencelakai Suci, jadi untuk itu Arrabella minta maaf pada Suci.


"Tidak apa-apa, aku senang kalau kamu mengakui kesalahmu, ayo berdiri."


Suci membantu Arrabella untuk berdiri, ia senang karena Arrabella mengakui kesalahanya.

__ADS_1


Akhirnya Suci bisa tau alasan kenapa suaminya sangat membenci Arrabella.


Suci langsung memeluk Arrabella, ia tau kalau Arrabella minta maaf dengan tulus dan di balas pelukan Suci oleh Arrabella.


Arkan langsung tersenyum saat melihat istrinya dan Arrabella berpelukan, ia berharap mereka menjadi soudara yang rukun.


Mereka langsung melepaskan pelukanya masih sambil tersenyum.


"Bagai mana hasil USG tadi? Aku boleh melihatnya?"


"Tentu saja, kamu juga sodaraku, jadi kamu boleh melihat hasil USG tadi."


Suci langsung menggenggam tangan Arrabella untuk menyuruhnya duduk, setelah itu ia langsung memberikan hasil USG tadi.


Arrabella yang sebagai dokter kandungan juga, tentu ia sudah paham hasil USG itu.


"Jadi bayi kamu kembar?"


Arrabella bertanya dengan mata yang berbinar, ia sangat senang saat melihat hasil dari USG itu.


"Iya."


"Wah, selamat iya."


Arrabella langsung memeluk Suci sebagai tanda selamat padanya, hati ia sangat lega saat melihat hasil USG itu.


Sedangkan Arkan hanya menghela nafas berat saat melihat istrinya dan Arrabella, seolah-olah tidak melihat keberadaanya di sana.


"Sayang, mas ke atas dulu iya? Mau menghubungi mama dan Bunda tentang bayi kita."


Suci yang mendengar ucapan dari suaminya, ia langsung melepaskan pelukanya bersama Arrabella.


"Iya mas."


Arkan langsung mengambil hasil USG itu untuk ia foto dan di kirim pada mamanya dan ibu mertuanya, tidak lupa juga ia akan membagikan foto itu pada Indra, agar Indra merasa senang saat tau kalau Indra akan memiliki ponakan kembar.


Setelah Arkan pergi di ruangan tamu tinggal ada Suci dan Arrabella.


"Tapi belum tau iya jenis kelaminya perempuan atau lelaki?"


"Iya belum tau, tapi aku tidak mau di USG lagi, anggap saja kelahiran mereka yang tidak tau jenis kelaminya adalah kado terindah yang di berikan sang pencipta."


"Iya deh, nanti kalau bayi kamu lahir panggil ke akunya mama saja iya? Biar lebih dekat, kamu tidak akan keberatan'kan?"


"Aku sama sekali tidak keberatan, bahkan aku ingin ke dua buahatiku kelak mendapatkan bayak kasih sayang dari semua keluarganya, agar tidak sepertiku yang kurang kasih sayang dari Ayah."


Suci menghela nafas berat, andai saja Ayahnya masih hidup, mungkin Ayahnya akan senang saat ia bisa menjadi istri yang baik dan sekarang akan kenjadi Bunda.


Arrabella yang melihat raut wajah Suci sedih, ia sangat bingung.


"Ayahmu kemana memangnya?"


"Ayah sudah di surga dari usiaku 16 tahun."

__ADS_1


"Innalilahi, yang sabar iya."


"Iya tidak apa-apa, aku juga senang, setidaknya Ayah tidak terus merasakan sakit, dari pada hidup Ayah terus merasakan sakit."


__ADS_2