
Sulis dan ke dua sahabatnya sudah bersahabat kembali setelah mereka berdua menceritakan segalanya pada Sulis 8 bulan yang lalu, kini mereka menjadi sahabat lagi.
Sulis dengan Raka semakin dekat semejak Raka membawa Sulis ke kebun kacang beberapa bulan yang lalu.
Namun setelah malam di mana kejadian Sulis dan Raka semakin dekat, Sulis tiba-tiba saja pingsan hingga di larikan ke rumah sakit.
Pakta yang paling mengejutkan adalah Sulis mengalami penyakit kangker setadium lanjut.
Dalam hidup Sulis tidak pernah terbesit sedikit pun hal itu akan terjadi, terlebih saat ia membohongi adiknya ia tidak memiliki penyakit.
Sulis tidak percaya kalau karma itu ada, tepatnya kiparat, apa yang kita tanam maka itu lah yang kita petik.
Sulis juga berkali-kali di rawat jalan hingga akhirnya dokter menyarannya agar segera di oprasi 1 minggu yang lalu.
Tepat di kejadin dokter menyuruh Sulis segera melakukan oprasi, Sulis merasa kalau Raka menjauhinya, setiap kali ia mengirim pesan hanya di baca oleh Raka.
Bahkan saat Sulis menelpon Raka juga tidak membalas pesannya, hingga 1 minggu ini Sulis di sibukan untuk mencari tau tentang Raka.
Namun setelah tau tentang Raka Sulis tidak tau ia harus sedih atau harus bahagia, karena Raka sedang menyiapkan tempat untuk melamarnya dari Rangga hingga ia datang ke tempat yang di tujukan oleh Rangga.
Hati Sulis merasa sesak di dadanya saat melihat itu semua, andai dulu ia lebih dulu mencintai Raka mungkin ia tidak akan menderita seperti sekarang.
Sebelum melakukan oprasi Sulis juga sudah menuliskan surat untuk Raka dan buku diary yang selalu ia tulus setiap kali bertemu dengan Raka.
Mungkin sebagian orang akan bilang Sulis sebagai Gadis kanak-kanakan karena apa pun di tulis di buku itu, tapi itu hanya semata-mata untuk memberikan kenang-kenangan untuk Raka.
Raka adalah lelaki yang bisa membuat ia melupakan Arkan.
Sulis juga tidak lupa menulis surat permintaan maaf untuk adiknya, ia takut kalau oprasinya gagal, jadi ia ingin meminta maaf pada adiknya.
Sulis di oprasi bertepatan dengan Suci yang melahirkan, tapi sayang oprasi itu memang benar adanya kalau oprasinya gagal dan Sulis meninggal.
Sekarang Raka sedang menangisi tubuh Sulis yang terbujur kaku di ruangan rumah sakit begitu pun dengan Anisa yang sudah menangis dari tadi sambil duduk di lantai dan di peluk oleh Reyhan.
"Kenapa kamu tinggalin aku Lis, kenapa?! Kenapa kamu tidak bilang kalau selama ini kamu sakit Hiks... Hiks..."
Ini pertama kalinya Raka menangis karena orang yang ia cintai pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Kamu tau, aku sudah menyiapkan segalanya untuk melamar kamu nanti malam, tapi apa yang aku dapatkan? Kamu melakukan oprasi tanpa aku tau, kamu juga sudah janji akan datang di tempat yang aku suruh datang. Namun kenapa kamu ingkar janji Lis kenapa! Hiks... Hiks..."
"Ikhlasin Sulis Raka."
Iqbal berbicara sambil menepuk pelan pinggung Raka, ia tau kalau hati Raka begitu kacau, lebih kacau lagi saat wanita yang di cintainya tidak memberi tau bahwa akan melakukan oprasi.
Raka yang terus menggoncangkan tubuh Sulis hingga ia benar-benar terjatuh karena kehabisan tenaga, dari tadi ia terus saja menangis.
Tiba-tiba ke dua suster masuk ke ruangan itu.
"Permisi pak bu, jenazah mau kami bawa keruangan jenazah terlebih dahulu."
Rangga menarik Raka untuk minggir ke samping.
"Gue tau apa yang lo alami memang berat Rak, tapi tolong ikhlaskan Sulis. Lebih baik kamu berdo'a untuk Sulis, bukan menangis seperti ini."
Reyhan yang dari tadi memeluk Anisa, tangan kananya langsung mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan singkat pada Arkan kalau Sulis meninggal pasca setelah oprasi.
Memang Arkan dan Suci tidak Reyhan kabari kalau Sulis akan melakukan oprasi, karena itu atas permintaan Sulis sendiri.
Pagi tadi Sulis meninggal dan sore harinya Sulis sudah di makamkan.
Anisa mencoba menguatkan diri, menepuk pelan punggung Raka yang masih memeluk nisan bertulisan Sulis Septiani Alzahra.
"Ikhlaskan nak, jangan terus menangisininya."
Raka menggeleng pelan, ia masih belum siap di tinggalkan oleh wanita yang ia cintai.
Anisa menghela nafas berat, hatinya sudah sangat terluka di tinggalkan putri pertamanya dan sekarang harus melihat Raka begitu rapuh.
Anisa mengambil buka diary dan amplop yang di pegang Reyhan, lalu ia berikan pada Raka.
"Nak, sebelum Sulis melakukan oprasi, Sulis menitipkan ini untukmu."
Raka langsung mendongkakan kepalanya, ia mengambil buku diary dan amplop yang di serahkan Anisa.
"Semoga kamu bisa ikhlas nak."
__ADS_1
Lagi-lagi Raka menggelengkan kepalanya pelan.
"Bunda, ayo pulang sudah sore."
Anisa hanya mengangguk pelan saat mendengar ajakan dari Reyhan, sebelum pergi Anisa menepuk 2 kali punggung Raka, lalu baru pergi bersama Reyhan.
Sekarang di pemakaman Sulis hanya tinggal Raka, Rangga dan Iqbal.
Raka mengelus-elus tumpukan tanah di depannya.
"Kenapa kamu tinggalin aku Lis? Kamu jahat, kamu janji akan ikut kemana pun aku pergi, tapi apa kamu bohongin aku. Hiks... Hiks..."
Hidung Raka sudah mengeluarkan cairan bening karena dari pagi ia terus menangis saat tau Sulis meninggal, bahkan saat mendengar kabar itu dari ujung telpon Raka sempat tidak sadarkan diri.
Mungkin sebagian orang menganggap Raka lebay, tapi jika ada orang yang pernah mengalami posisi Raka sekarang memang sangat sulit.
Tiba-tiba saja ingatan bersama Sulis berputar kembali di ingatan Raka, dari pertama kenal dengan Sulis saat Sulis menjalin hubungan bersama Raka, hingga Sulis janji akan ikut kemana pun Raka pergi.
Rangga menghela nafas panjang, lelah dan sedih saat terus mendengar sahabatnya terus saja mengoceh.
Biasanya ocehan dari mulut Raka mengundang gelak tawa di para sahabatnya, tapi kini ucapan dari Raka membuat hati Rangga seperti di tusuk ribuan pisau, bahkan tusukan itu berasa hingga tulangnya.
Begitu pun dengan Iqbal, ia juga tidak berdaya saat melihat sahabatnya terus saja mengoceh.
"Rak, ayo pulang."
Walau pun Raka menggelengkan kepalanya, Rangga langsung memapah Raka, ia tidak ingin Raka terus menangis di makam, apa lagi langit sudah terlihat gelap.
Setelah Iqbal melajukan mobilnya, Raka mulai membuka aplop yang di tulis oleh Sulis, ia langsung membacanya.
Hai anak ingusanku
Mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah benar-benar tidak bisa di sampingmu lagi, tapi satu hal yang perlu kamu tau kalau aku sangat bahagia mengenalmu dan jujur dari hatiku paling dalam, aku mencintaimu dalam pandangan pertama di saat kamu mengajaku ke kebun kacang.
Aku juga senang karena cintaku ternyata tidak bertepuk sebelah tangan seperti dulu, oh iya, aku juga sudah datang di tempat yang kamu sediakan untuk kita lebih dulu. Aku menyukainya, terima kasih anak ingusanku sayang.
Itu lah surat yang di baca Raka
__ADS_1