
Mata Suci masih melihat ke arah ponsel suaminya, rasa penasarannya semakin bertambah saat terdengar bunyi getar dari ponsel suaminya. Suci melihat ke arah ruangan ganti, lalu ia langsung melihat ke arah ponsel yang masih menyala, karena itu pesan whatsApp ia tidak perlu membuka pesan itu, cukup melihat dari pemberitahuan.
Suci sangat terkejut saat mengetahui pesan itu adalah dari kakanya, lebih terkejut lagi saat membaca pesan itu, kakanya menanyakan kapan akan berpisah pada suaminya. Detak jantung Suci mendadak berhenti, ia merasa susah untuk bernapas, saat tau suaminya masih berkirim pesan dengan kakanya.
" Ya Allah, kenapa mas Arsen tega masih chat bersama kak Sulis? Apa mas Arkan masih ada perasaan dengan kak Sulis? Dan kenapa kak Sulis menanyakan kapan akan berpisah? Atau jangan-jangan mereka berdua sedang merancanakan sesuatu? Astagfirullah Suci, ingat jangan suudzon pada suamimu, dosa."
Walau pun Suci memperingatkan diri sendiri, tapi tidak bisa ia pungkiri, hatinya sakit dan takut kalau suaminya memang benar masih berkirim pesan dengan kakanya. Suci dengan rasa takut dan penasaran, ia mengambil ponsel suaminya untuk membuka pesan, tapi ternyata tidak bisa, karena ponsel suaminya ada kata sandinya. Suci mencoba memasukan tanggal lahir suaminya, biasanya orang akan memasukan tanggal lahir untuk sandi, tapi ternyata salah.
" Sebenarnya kata sandinya apa?" batin Suci
Sedangkan Arkan yang melihat istrinya sibuk memegang ponselnya, ia mendekati istrinya dengan perlahan, ia penasaran apa yang di lakukan oleh istrinya. Suci akhirnya memasukan kata sandi tanggal lahir kakanya, tapi tetap saja salah, ia hanya diam untuk berpikir, kalau sampai sekali lagi salah, ponsel suaminya baru bisa di buka kuncinya 1 menit lagi, ia takut ketahuan kalau ia sedang memeriksa ponsel suaminya. Arkan sampai di samping istrinya, ia tersenyum saat istrinya tidak menyadari kedatangannya.
" Sayang, apa yang ingin kamu tau dari isi ponsel mas?"
Suci sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari suaminya, ia langsung melihat ke arah suaminya dengan perasaan takut.
" Maaf mas, aku lancang memeriksa isi ponsel mas."
Suci berbicara sambil memberikan ponsel yang ia pegang pada suaminya.
" Tidak apa-apa sayang, kalau sayang curiga, tentu sangat wajar, apa lagi mas sebagai pembisnis, pasti banyak kenalan wanita."
Arkan berbicara sambil mengelus pucuk kepala istrinya, ia tau kalau istrinya sedang takut.
" Kata sandinya awal pertemuan kita 3 tahun yang lalu sayang."
Suci yang mendengar ucapan dari suaminya, ia sangat terkejut, ia tidak percaya kalau suaminya menyantumkan tanggal peretemuannya untuk kata sandi.
__ADS_1
" Aku lupa mas."
Arkan langsung membuka kata sandi ponselnya dengan ponsel yang masih di pegang istrinya.
" Sudah tau?"
Suci mengangguk malu, rasa curiga dan rasa takut tadi hilang seketika, saat tau kata sandi ponsel dari suaminya tanggal pertemuannya bersama suaminya.
" Sekarang apa yang ingin sayang cari, cari saja, mas sama sekali tidak akan marah, bahkan mas senang kalau kamu sering seperti itu, artinya kamu takut kehilangan mas."
Suci hanya mengangguk sambil tersenyum, ia langsung membuka pesan whatsApp dari kakanya, sedangkan Arkan hanya duduk di samping istrinya sambil memandang wajah serius dari istrinya.
Setelah membuka pesan whatsApp dari kakanya, Suci tidak menemukan percakapan suaminya dan kakanya, hanya menemukan pesan yang tadi ia baca di pemberitahuan masuk, lalu ia membuka semua pesan yang namanya seorang wanita, ia tidak menemukan chat aneh, hanya seputar chat pekerjaan, dan ada beberapa chat yang merayu suaminya, tapi tidak ada balasan dari suaminya.
" Jangan terlalu serius sayang."
Suci hanya diam, hingga ia tertuju pada pesan dari Sinta, ia langsung membuka pesan dari Sinta, pesan dari Sinta memang tidak ada yang menarik perhatiannya, hanya chat seputar pekejaan, hingga ia membuka video yang di kirim oleh Sinta, ia sangat terkejut saat membuka video itu, kini mata ia bukan menatap ke arah ponsel, tapi melihat ke arah suaminya, ia kecewa karena suaminya tau segalanya tentang kejadian hari ini, itu artinya selama ini suaminya menjadikan Sinta untuk memata-matainya.
" Sejak kapan sekretaris mas menjadi memata-mataiku? Atau mas yang mengirim Sinta untuk memata-mataiku? Jadi benar selama ini mas memang memata-mataiku?"
Suci bertanya dengan berteruntun. Arkan menghela nafas berat, ia lupa menghapus pesan dari Sinta, ini lah yang ia takutkan, istrinya akan menuduhnya. Arkan memegang ke dua bahu istrinya.
" Mas tidak mengirim mata-mata untuk sayang, tapi kebetulan Sinta tadi siang memang ada di Cafe itu karena sedang meeting, jangan salah paham."
" Yakin begitu?"
" Iya sayang, mas tidak pernah ada pikiran untuk memata-mataimu, mas selalu percaya apa pun yang kamu lakukan di luar rumah."
__ADS_1
" Maaf, aku berbohong tadi mas."
Suci sebenarnya merasa bersalah dari tadi karena telah berbohong pada suaminya kalau ia menangis karena berdebat dengan kakanya, namen ia tidak menyangka kalau sekali saja berbohong sudah ketahuan oleh suaminya, tapi suaminya tetap tidak mempermasalahkan ucapannya yang sedang berbhong, suaminya seolah-olah percaya, walau pun ia sudah membohonginya.
" Tidak apa-apa sayang, itu masalah pribadimu, jadi terserah kamu mau jujur atau tidak sama mas, yang penting masih di batas kewajaran saja."
Arkan berbicara sambil tersenyum. Suci mengangguk pelan, tiba-tiba saja ia mengingat pesan dari kakanya. Suci langsung membuka pesan dari kakanya lagi, lalu langsung memberikan ponselnya pada suaminya.
" Maksud pesan ini apa mas? Apa mas selama ini masih chat sama kaka? Kenapa kaka dan mas seperti sering berkirim pesan?"
Arkan mengambil ponsel yang di serahkan istrinya, ia melihat pesan itu. Setelah membaca pesan Arkan menghela nafas berat.
" Mas sama sekali tidak pernah membalas pesan dari kaka sayang, memang dari 2 bulan yang lalu Sulis selalu mengirimi mas pesan dan selalu menelpon mas, tapi mas tidak pernah membalas atau mengangkat telponnya."
" Benar begitu mas? Mas tidak sedang membohongiku?"
Suci menatap mata suaminya dengan tatapan mencari kebenaran, ia bukan tidak percaya sama suaminya, tapi ia takut kalau suaminya ingin kembali lagi bersama kakanya, bagai mana pun juga hubungan mereka berdua sudah 2 tahun, walau pun suaminya mencintai ia dari pandangan pertama, tapi cinta bisa kapan saja berubah. Arkan menggeleng pelan.
" Untuk apa mas masih mengharapakan Sulis? Kalau wanita yang mas nikahi ini jauh lebih sempurna darinya? Bukan sempurna dalam soal kecantikan saja, tapi sayang juga wanita sholehah, lalu sayang mampu mengajarkan mas dengan kata arti sabar, sayang mampu mengajarkan mas dalam arti mengikhlaskan, dan terakhir, sayang mampu membimbing mas ke jalan yang di ridhoi oleh Allah."
Suci langsung memeluk suaminya dengan erat, setelah mendengarkan ucapan dari suaminya. Arkan juga membalas pelukan dari istrinya.
" Aku takut mas, aku takut kalau mas akan kembali lagi sama kak Sulis."
" Tidak akan sayang, mana mungkin mas akan kembali lagi sama Sulis."
Arkan mengecup pucuk kepala istrinya.
__ADS_1