Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 67 Permintaan Sulis


__ADS_3

Setelah mendapat pertanyaan dari suaminya kemarin tentang menanyakan kapan terakhir datang bulan, Suci sama sekali masih tidak peka alur pembicaraan dari suaminya, ia hanya menjawab lupa. Hari ini Suci baru saja pulang kuliah seperti biasanya di antar oleh Saras.


Suci juga hari ini akan menemui kakanya karena kakanya memminta untuk bertemu di Cafe dekat kantor Xien Grup, ia tidak tau apa yang ingin kakanya bicarakan, dan selama 3 bulan menikah, ini pertama kalinya kakanya mengirim pesan meminta untuk bertemu.


" Tumben Uci tidak langsung pulang?"


" Kaka katanya mau bertemu denganku Ras."


Saras mengangguk pelan, ia tidak tau kenapa kaka Suci meminta bertemu di dekat kantor Xien Grup. Mereka berdua sampai di Cafe. Suci dan Saras langsung turun dari mobil.


" Saras, kamu tunggu saja di sini."


" Maaf Uci, ini sesuai perintah den Arkan, aku tidak bisa menunggu di sini karen kalau kamu terjadi apa-apa, aku yang akan di salahkan oleh den Arkan."


Suci mengangguk paham, ia langsung berjalan masuk ke dalam Cafe di ikuti oleh Saras. Suci langsung mendekati meja kakanya yang sudah duduk di sana sambil meminum jus. Suci langsung mengucapkan salam pada sang kaka.


" Assamualaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Suci langsung mencium tangan kakanya, lalu ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan kakanya, di ikuti dengan Saras yang duduk di sampingnya. Saras menatap Suci dan Sulis bergantian, ia tidak percaya kalau kaka dari Suci adalah Sulis, seorang model papan atas, bahkan sekarang sudah menjadi bintang iklan juga.


" Kaka tumben mengajak Uci bertemu?"


" Iya ada yang mau kaka bicarakan sama kamu dek."

__ADS_1


" Tentang apa kak?"


Suci menantap mata kakanya dengan serius.


" Tentang Arkan. Dek, berpisahlah dengan Arkan, kaka sangat mencintai Arkan."


" Maksud kaka apa?"


" Iya berpisahlah sama Arkan, kamu bisa bahagia dengan orang yang kamu cintai nanti, kamu bisa bersama Gus Ali."


Suci menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari kakanya.


" Uci tidak bisa berpisah dengan mas Arkan kak."


" Kenapa?"


Wajah Sulis memerah karena marah saat mendengar jawaban dari adiknya, ia tidak menyangka kalau adiknya begitu mudah mencintai sesaorang, jelas-jelas saat belum menikah adiknya menangisi Gus Ali sampai tersedu-sedu hingga terdengar di seluruh ruangan.


" Kamu sudah tidak mencintai Gus Ali?"


" Tidak kak, nama Gus Ali sudah Uci hapus dari hatiku 2 bulan yang lalu."


" Tapi kaka sangat mencintai mas Arkan."


" Tapi Uci juga tidak bisa berpisah dengan mas Arkan kak."

__ADS_1


Sulis langsung mengepalkan ke dua tangannya saat mendengar ucapan dari adiknya, lalu ia berdiri dari duduknya, dengan ke dua tangannya yang memegang meja.


" Kamu bilang kamu bahagia bersama Arkan?! Apa kamu tidak berpikir kalau kamu menyakiti hati kaka?! Apa begini sifat aslimu yang begitu alim tapi merebut kebahagian orang lain untuk dirimu sendiri?! Kaka mohon lepaskan Arkan untuk kaka."


Sulis sengaja mempermalukan adiknya, dari pada ia duluan nanti di buat malu oleh adiknya, lebih baik ia yang membuat malu adiknya, terlebih ia adalah seorang model papan atas, bahkan sekarang ia sudah berperan di dunia periklanan, tapi tetap saja mau pun berprofesi model atau pun bintang iklan, itu semua karena Arkan yang terus memberikan semua pekerjaan itu agar Sulis semakin terkenal oleh semua orang.


Saras sangat terkejut dengan bentakan dari Sulis, begitu pun dengan Suci yang sama terkejutnya. Suci tidak menyangka kalau kakanya sekarang tega mempermalukannya.


Mereka menjadi pusat perhatian seluruh pengujung Cafe, bahkan mereka semua sudah sedang berbisik-bisik, membicarakan tentang Suci yang berpakaiannya tertutup rapih hingga sampai memakai cadar, tapi berani merusak kebahagian orang lain.


" Apa kamu tidak memikirkan kaka sendikit pun?! Kamu menikahhi calon kaka iparmu sendiri, di mana hati nurani kamu?! Kamu bilang cinta?! Kenapa baru bilang sekarang kalau kamu mencintai Arkan?! Apa karena kaki Arkan sudah sembuh?!"


Sulis memang belum pernah bertemu langsung dengan Arkan, tapi kemarin saat ia ke rumah sakit untuk menjenguk teman model lelakinya yang bernama Brayen, ia melihat adiknya bersama Arkan keluar dari ruangan terapi Reyhan, untuk itu ia tau kalau kaki Arkan sudah bisa berjalan kembali.


Suci masih diam membisu, ia sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari kakanya, bukan'kah seharusnya yang bilang begitu itu ia? Kakanya membuang Arkan seperti sampah, tapi sekarang kakanya memohon dan menjelekannya, seolah-olah ia yang merebut Arkan darinya.


Sulis tersenyum menyiringai, saat semua orang membicarakan dan menghina adiknya secara terang-terangan, ia berharap topik ini menjadi topik hangat di kalangan internet, agar populeritas ia semakin naik. Sedangkan Saras sendiri menjadi bingung, apa lagi ia tidak tau apa-apa permasalahan kaka beradik itu, jadi ia hanya diam menatap ke duanya secara bergantian.


" Maksud kaka apa? Apa kaka lupa kalau Uci sudah berkali-kali memperingatkan kaka? Apa kaka yakin memutuskan hubungan bersama mas Arkan? Uci bukan sekali dua kali menyuruh kaka untuk berpikir ulang, Uci selalu bertanya apa kaka tidak akan menyesal? Kaka bilang tidak akan menyesal, bahkan kaka menganggap mas Arkan adalah lelaki tidak berguna, tapi kenapa sekarang kaka datang dan meminta pada Uci untuk berpisah dengan mas Arkan? Setelah Uci mengikhlaskan dan menghapus namanya, lalu mengantikannya dengan nama suami Uci? Lalu di mana letak kesalahan Uci kak?! Belum cukup'kah Uci mengorbankan kebahagiaan Uci untuk mempertanggung jawabkan apa yang kaka lakukan?! Dan sekarang kaka meminta Uci untuk berpisah dengan mas Arkan?!"


Suci berbicara dengan menahan amarahnya, awalnya ia berbicara dengan lemah lembut, tapi semakin banyak pembicaraannya, ia mulai mengeluarkan suara tegasnya.


Sebenarnya Suci tidak bermaksud untuk berbicara dengan suara yang sedikit tegas, ia bahkan belum pernah berbicara seperti itu lagi setelah ia masuk ke dalam pesantren, tapi ia tidak suka kalau kakanya memojokannya dan seolah-olah ia yang paling bersalah di sini, hingga beberapa tetes air mata mengalir di pipi ia, ia tidak berharap akan bertengkar dengan kakanya karena masalah lelaki. Dari kecil hingga dewasa, Suci dan kakanya tidak pernah bertengkar, tapi sekarang karena masalah Arkan, ia menjadi bertengkar.


" Uci sudah pernah bilang dari awal, apa pun yang sudah menjadi milik Uci, orang lain tidak berhak mengambil milik Uci, walau pun itu kaka Uci sendiri, Uci tidak akan pernah ridho kalau kaka mengambil milik Uci. Uci sangat cintai mas Arkan, Uci sudah tersiksa hampir 1 bulan karena merasa bersalah pada mas Arkan dan berdosa karena terus mencintai lelaki lain, tapi setelah Uci berhasil melupakan lelaki yang Uci cintai dan mencintai mas Arkan."

__ADS_1


Suci mejeda ucapannya untuk mengambil nafas sesaat.


" Kaka seenaknya datang pada Uci dan memohon untuk berpisah dengan mas Arkan, lalu di mana letak hati nurani kaka? Kaka tega ingin merusak kebahagian rumah tangga adik kaka sendiri?!"


__ADS_2