
Dari sebelum mandi hingga sesudah mandi Arkan masih saja tersenyum saat mengingat ucapan dari istrinya yang mengatakan memberinya hukuman, walau pun hanya cium pipi, tapi bagi ia itu sangat lah istimewa.
Setelah sholat magrib dan sholat isya berjama'ah Arkan mulai mengaji, sedangkan Suci sibuk dengan dzikirnya. Mereka berdua sama-sama menemukan ketenangan tersendiri, termasuk Arkan yang lagi-lagi tersentuh dengan suara istrinya yang sedang berdzikir. Setelah mereka berdua selsai Suci langsung mengambil tangan suaminya untuk ia cium, lalu di balas dengan cium kening oleh suaminya.
" Uci."
" Iya mas."
" Mas malu sendiri, kamu itu bisa semuanya, mas tidak tau banyak tentang agama."
" Ngapain harus malu mas? Mas itu adalah lelaki yang hebat, suara mas itu sangat merdu kalau membaca surat ayat suci Al-Qur'an."
Arkan tersenyum saat mendengar pujian dari istrinya, ia memang malu saat mendengar dzikir istrinya yang begitu menyejukan hati, sedangkan ia tidak tau apa-apa selain mengaji.
" Kamu pakai memuji mas segala, yang ada nanti mas melayang karena pujianmu."
" Mas ada-ada saja."
Arkan menatap jam yang sudah menujukan pukul 19.30WIB.
" Kamu tadi sehabis sholat magrib keluar kamar untuk masak, Uci?"
" Iya mas."
" Kenapan harus masak pagi dan malam Uci? Kamu tidak capek?"
" Mas ngomongnya aneh-aneh saja, aku hanya tidak ingin membagi-bagi pahala pada orang lain mas, selama aku masih bisa melakukan semua tugasku, untuk apa aku memerlukan bantuan orang lain?"
Arkan tersenyum sambil menggeleng pelan, istrinya ini selalu saja menyangkut pautkan dengan pahala.
" Mas beruntung memiliki kamu Uci, yang selalu saja mengajarkan agama pada mas."
__ADS_1
" Sudah seharusnya mas, di dalam pernikahan itu harus ada saling mengingatkan dan memperkuat iman kita, agar suatu saat Allah memberi kita ujian, kita sudah benar-benar siap menghadapi semuanya, karena iman adalah hal yang paling utama, seberat apa pun ujian kita, kalau kita memiliki iman, insya Allah kita akan selalu sabar dan ikhlas menghadapinya, terlebih kita juga tau, selama kita hidup, ujian itu tidak akan pernah berhenti, tentu Allah akan menguji kita dengan banyak hal."
Arkan tersenyum melihat wajah serius istrinya.
" Wajah kamu itu kalau sudah mengatakan tentang agama serius."
" He, terbawa suasana mas, aku kalau sudah mengatakan tentang agama selalu serius."
" Iya sudah ayo kita makan malam, pasti mama dan papa sudah menunggu kita."
" Iya mas."
Suci langsung membuka mukenahnya, lalu langsung melipatnya, setelah itu ia langsung membantu suaminya pindah ke kursi roda. Seperti biasa, Suci mendorong suaminya memasuki life, setelah life terbuka, ternyata di meja makan bukan hanya ada ke dua orang tuanya, tapi ada juga Indra yang sudah duduk rapih di meja makan.
" Ma, pa, Indra."
Seperti biasa Arkan akan menyapa mereka. Dan di balas dengan anggukan kepala oleh mereka. Suci membantu suaminya untuk pindah ke kursi, malam ini ia tidak menyediakan piring untuk suaminya, ia hanya ingin makan satu piring berdua. Setelah istrinya mengambilkan nasi dan lauk, Arkan langsung mengambil alih piringnya, karena ia tau kalau istrinya mungkin seperti tadi pagi, ingin makan satu piring berdua.
Suci mengangguk sambil tersenyum.
" Mas, kalau kita makan bersama itu harusnya mas pipin do'a makan dong."
Arkan hanya mengangguk sambil tersenyum, ia langsung membacakan do'a makan. Ada rasa bahagia di hati ke dua orang tua Arkan yang melihat menantunya selalu saja mengajarkan tentang agama pada putranya, tapi ada rasa sedih saat melihat putra ke duanya yang terlihat seperti tidak nyaman untuk makan, karena mereka sudah tau tadi pagi permasalahan putranya dan menantunya, mereka juga sempat tidak menyangka kalau menantunya dulu sempat terjun bebas ke dunia malam, tapi mereka juga kagum dengan menantunya yang sekarang sudah hijrah.
" Indra, papa harap kamu bisa melupakan Suci, nak, bukan hanya kamu yang di posisi sulit, tapi Suci juga di posisi yang sama, karena harus melepaskan Gus Ali dan memilih Arkan, papa percaya kamu adalah lelaki yang kuat." batin Bagas
Setelah kejadian tadi pagi, Bagas memang tidak menasehati putranya, ia pura-pura tidak tau saja kalau putranya memang memiliki perasaan pada menantunya, ia ingin putranya belajar dewasa sendiri, tanpa harus di nasehati, apa lagi itu tentang percintaan.
" Indra, mama minta maaf, Arkan juga anak mama dan kamu juga anak mama, maaf karena mama meminta Suci untuk menikah dengan Arkan, mama tidak pernah tau kalau kamu mencintai Suci, terlebih kamu sudah 2 tahun di luar negri, dan Suci juga di pesantren 3 tahun, mama pikir kamu tidak saling kenal, mama tidak pernah menyangka kalau salah satu dari putra mama akan tersakiti karena seorang wanita yang sama." batin Keyla
Mereka sarapan dengan perasaan tidak tenang, berbeda dengan Suci dan Arkan yang selalu tersenyum di setiap kunyahannya. Walau pun Suci dari pagi hingga sore memikirkan tentang ucapan Indra, tapi sekarang ia seolah-olah lupa dengan ucapan Indra. Arkan juga sesekali menatap Indra, ia bisa melihat wajah Indra seperti sedang cumburu.
__ADS_1
" Ternyata benar kalau Suci yang di cintai oleh Indra adalah Suci istriku. Indra, maafkan abang, abang juga mencintai Suci dari 3 tahun yang lalu." batin Arkan
Sebenarnya Suci juga merasa bersalah pada Indra dengan makan satu piring berdua, itu adalah mengumbar kemesraannya dengan suaminya, tapi ia tidak ingin Indra terus saja mengharapkan cinta yang tidak pasti, terlebih ia juga harus belajar mencintai suaminya.
" Maaf Indra, sekali lagi maaf." batin Suci
Setelah selsai makan Suci dan Arkan langsung pergi ke kamarnya lagi. Setelah mereka berdua selsai sikat gigi, sekarang mereka bedua sedang duduk di atas ranjang, dengan Suci yang sibuk untuk menggambar desain barunya memakai meja kecil di letakan di atas ranjang. Sedangkan Arkan sibuk dengan pekerjaan kantornya dengan laptop yang ia taruh di atas perutnya.
" Uci, kamu sudah lama mengeluarkan produk desainmu?"
" Sudah mas, tapi Uci hanya menerima pesanan saja, dan menyediakan di beberapa toko baju muslimah."
" Kenapa kamu tidak buat toko baju sendiri saja?"
" Pengennya sih gitu mas, tapi saat itu aku di bandung, jadi belum kepikiran sampai membuat toko baju."
" Iya sudah nanti mas cari tempatnya untuk kamu, sekalian mengambil karyawan. Oh iya Uci, besok supir baru kamu juga datang, namanya Saras, kebetulan Saras juga kuliah di kampus yang sama denganmu, hanya saja Saras mengambil jurusan bisnis."
" Saras anaknya pak Lukman?"
Entah tiba-tiba saja mulut Suci bertanya seperti itu, jelas-jelas jakarta itu luas.
" Loh kamu tau Uci?"
" Dulu saat SMA satu kelas sama aku, walau pun kita tidak akrab, tapi aku tetap ingat."
" Bagus dong kalau kalian saling kenal, jadi kamu ada teman lamanya di kampus."
" Iya mas, terima kasih."
" Iya, sama-sama Uci."
__ADS_1
Mereka mengobrol-ngobrol sambil sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga menujukan pukul 21.00WIB, mereka menyudahi pekerjaannya. Suci dan Arkan sekarang sedang berbaring, mereka saling menatap mata sambil tersenyum.