Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 65 Kelakuan aneh


__ADS_3

Sudah genap 3 bulan pernikahan Suci dan Arkan. Sudah hampir 2 bulan Arkan menjalani terapi. Hari ini adalah hari terakhir Arkan menjalani terapi karena memang Arkan sudah bisa berjalan kembali. Arkan selsai di terapi oleh Reyhan.


" Arkan, ini terapi terakhirmu, tapi kalau ada apa-apa sama kakimu bilang saja sama saya."


" Iya mas, terima kasih karena sudah membantu saya selama ini."


" Itu sudah kewajiban saya sebagai dokter."


Arkan mengangguk pelan. Sedangkan Suci masih setia duduk di samping suaminya yang sedang mengobrol, hanya saja sorot matanya menujukan kebahagiaan saat kaka sepupunya mengatakan ini adalah terapi terakhir.


" Iya sudah mas, saya pulang dulu."


" Iya Arkan."


" Mas, Uci pulang dulu."


" Iya Uci."


Suci mencium tangan kaka sepupunya seperti biasanya.


" Assalamualaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Suci keluar bersam suaminya yang merangkul pinggangnya. Arkan dan Suci sekarang sudah ada di dalam mobil, hari ini mereka di antar oleh Saras, karena pak Budi sedang pulang kampung.


" Kenapa dari tadi diam saja sayang? Kepalamu pusing lagi?"


Suci hanya mengangguk pelan, memang sudah 1 minggu ini kepala Suci selalu saja pusing, dan mual, bedanya tidak seperti 2 bulan yang lalu hingga pingsan. Arkan langsung menarik istrinya untuk bersandar di dada bidang miliknya.


" Nanti sore mas suru dokter Rina ke rumah."


" Tidak perlu mas, aku baik-baik saja, aku ngantuk mas."


" Iya sudah sayang tidur kalau ngantuk."


Suci mengangguk pelan, ia langsung memeluk tubuh suaminya, lalu memejamkan mata. Sedangkan Arkan mengelus lembut punggung istrinya.


" Kenapa selalu seperti ini Uci, aku selalu merasa takut kalau sudah seperti ini, aku takut kamu kenapa-napa, jelas-jelas kamu juga selalu ngengikuti saran dari dokter Rina, tapi kenapa tidak ada perubahan sama sekali Uci? Aku jadi bingung sendiri." batin Arkan


Arkan mengecup kening istrinya cukup lama, matanya mulai sendu saat melihat mata istrinya yang terpejam. Sedangkan Saras yang menyetir ia sangat malu, melihat perlakuan Arkan pada istrinya, tapi di sisi lain ia juga penasaran dengan penyakit yang di derita Suci, apa lagi saat Arkan menyuruh ia untuk tidak meninggalkan Suci kemana pun Suci pergi, membuat ia semakin penasaran, memang ia bisa melihat tubuh Suci yang semakin kurus.

__ADS_1


" Sebenarnya Suci punya penyakit apa sih?" batin Saras


Mereka sampai di pekarangan rumah. Saras langsung membuka pintu mobil untuk Arkan. Arkan dengan perlahan menggendong istrinya yang masih tertidur pulas.


" Terima kasih Ras."


" Sama-sama den."


Arkan masuk ke dalam rumahnya, ia langsung membawa istrinya ke kamar. Setelah di kamar, ia letakan tubuh istrinya dengan perlahan, lalu langsung membuka cadarnya, setelah itu langsung menarik selimut, tidak lupa ia juga menutup hordeng tebalnya. Arkan juga ikut membaringkan tubuhnya di sisi istrinya, ia menatap wajah istrinya yang semakin hari semakin pucat.


" Cepat sembuh dong Uci, jangan seperti ini terus, mas sudah sembuh sekarang, tapi kamu yang menjadi seperti ini."


Arkan berbicara dengan lirih, tangannya mengelus lembut pipi kiri istrinya. Suci masih memejamkan mata, tapi tangan kirinya meraba-raba sekitar di sampingnya, setelah mendapatkan tubuh suaminya, ia langsung memeluk suaminya. Sedangkan Arkan sendiri hanya tersenyum setiap kali istrinya tidur pasti istrinya itu akan meraba-raba mencari keberadaannya.


" Mas."


" Iya sayang."


Arkan menundukan kepalanya, melihat mata istrinya yang masih terpejam.


" Terima kasih, sudah angkat tubuh aku sampai ke ranjang."


Suci membuka matanya perlahan, ia mendongkakan kepalanya, melihat wajah suaminya yang sedang tersenyum. Wajah Suci langsung mendekati wajah suaminya, lalu ia langsung mencium bibir suaminya sekilas.


" Itu sebagai ucapan terima kasih dariku untuk mas."


Arkan tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari istrinya.


" Apa sayang mau makan? Dari pagi kita belum sarapan."


" Aku tidak mau makan mas, aku ingin makan rujak mangga muda yang pedas, sepertinya enak deh mas."


" Kamu jangan aneh-aneh sayang, belum sarapan ko minta makan rujak mangga muda, kemarin minta rujak nanas."


Menurut Arkan istrinya sudah dua hari ini aneh, terlebih Arkan tau kalau istrinya itu tidak menyukai nanas dan mangga, tapi kemarin istrinya nangis-nangis pingin di belikan rujak nanas, mana tidak tanggung-tanggung minta yang pedas


" Ini juga sudah tidak pagi mas, ini sudah jam setengah sebelas."


" Iya tapi sayang makan dulu, nanti mas beli sama grobaknya kalau perlu."


Suci tersenyum lebar mendengar ucapan dari suaminya.

__ADS_1


" Kalau mas beli sama grobaknya, nanti mas yang bikin rujaknya mau?"


" Mana bisa mas bikin rujak sayang, kalau bikin untuk membuat anak mas bisa."


" Ih mas, aku lagi serius, tapi ini lebih enak mas."


Suci mengusap lembut bibir suaminya memakai ibu jarinya. Sedangkan Arkan hanya menggeleng pelan, istrinya bukan orang yang mesum, tapi sudah dua hari ini juga istrinya selalu saja mencium bibirnya dengan sangat kasar.


" Jangan aneh-aneh lagi sayang."


" Tapi aku menginginkan ini mas, setelah itu mas suruh Saras untuk membeli rujak mangga muda, tidak boleh yang sudah kuning."


Arkan mengangguk pasrah, selama istrinya itu bahagia, ia akan melakukan apa pun, walau pun bibir bawahnya menjadi korban oleh ulah istrinya.


Suci langsung menindih tubuh suaminya, lalu ia langsung mencium bibir suaminya, ia menyapu semua rongga mulut suaminya, dan sesekali ia menggit kasar bibir bawah suaminya.


Arkan juga mulai membalas ciuman istrinya, sedangkan ke dua tangannya melingkar di tubuh istrinya, hingga sekitar 5 menit mereka menghentikan ciumannya. Arkan langsung mencium kening istrinya dan ke dua mata istrinya, lalu mengusap lembut bibir istrinya dengan jari jempolnya.


" Beneran sayang menginginkan rujak mangga muda? Sayang itu tidak suka mangga."


" Tapi aku sekarang mau mas."


Arkan langsung mengambil ponselnya yang ada di meja, ia langsung menelpon Saras dengan posisi masih telentang, karena istrinya masih menindih tubuhnya. Setelah di angkat Arkan langsung berbicara lebih dulu.


" Ras, tolong beliin rujak mangga muda, kalau perlu orangnya suruh bawa gerobaknya juga ke rumah, kalau bisa yang ada berbagai macam rujak buah, takut istri saya mau rujak yang lainnya."


" Iya Den."


Setelah itu Arkan mematikan sambungan telponnya, lalu ia letakan lagi ponselnya di atas meja.


" Terima kasih mas sayang, mas memang suami terbaiku."


Suci langsung menciumi seluruh wajah suaminya, dari kening, ke dua mata, ke dua pipi, bibir dan dagu, tidak ada yang terlewat satu pun. Sedangkan Arkan hanya terkekeh melihat kelakuan istrinya yang begitu menggemaskan.


" Mas jangan tertawa begitu."


" Habis kamu lucu sayang, bangun gih, mas mau ngambil makanan."


Dengan terpaksa Suci bangun dari tubuh suaminya, sebelum bangun, ia mencium leher suaminya, lalu duduk di samping suaminya.


Sedangkan Arkan hanya menggeleng, melihat kelakuan istrinya, lalu ia langsung turun ke bawah untuk mengambil makanan, karena dari kemarin istrinya itu ingin makan di kamar, ia hanya bisa menuruti keinginan istrinya, dari pada istrinya tidak mau makan, apa lagi ia sangat menyadari kalau tubuh istrinya itu semakin hari semakin kurus, wajahnya pucat, sering pusing dan mual-mual, tapi setiap kali menyuruh di priksa oleh dokter Rina, istrinya selalu menolak

__ADS_1


__ADS_2