Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 8 Menolak lamaran Gus Ali


__ADS_3

Setelah kakanya pergi Suci duduk termenung, matanya sudah memerah, jelas-jelas ia belum bertemu dengan Gus Ali, tapi ia sudah ingin menangis duluan.


Seharusnya Suci senang kalau orang yang di cintainya akan melemarnya, tapi berbeda dengan ia, yang seperti enggan untuk melepaskan mereka berdua. Kalau Suci melepaskan Arkan, apa ia tidak akan membuat orang tua Arkan kecewa? Jelas Suci sudah tau jawabannya, ia yakin akan membuat orang tua Arkan kecewa, bukan hanya itu, tapi ia juga akan mengecewakan Arkan, lelaki yang sudah mulai menerima takdirnya dengan lapang dada, jadi ia tidak ingin mengecewakannya.


Namen di sisi lain Suci tidak bisa melepaskan Gus Ali, lelaki yang sudah merusak hatinya dan pikirannya selama ini, ia sudah susah payah hijrah dan berjuang agar ia benar-benar pantas dengan Gus Ali, kalau pun ia melepaskan Gus Ali, ia belum tentu bisa kuat dan tegar, karena Gus Ali adalah cinta ke dua yang ia rasakan setelah cinta pada sang Ayah


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan, hamba tidak bisa melepaskan Gus Ali."


Tidak terasa air mata Suci menetes, seharusnya air mata itu menetes untuk kebahagiaan, tapi kali ini air mata itu menetes untuk kesedihan. Setelah lama diam, Suci langsung memakai cadarnya, ia langsung keluar dari kamar dengan perasaan yang sangat sedih.


"Assalamulailaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mereka mejawab serempak. Suci menyalami mereka dengan menungkupkan tangannya di dada, begitu pun dengan mereka. Walau pun Gus Ali menundukan pandangannya, ia tetap tersenyum saat Suci sudah ada di ruang keluarga. Suci duduk di samping Bundanya.


"Kedatangan Abi sama Gus Ali kesini ada apa iya?"

__ADS_1


Suci bertanya masih menunduk, matanya sudah mulai akan menangis. Suci memang memanggil Kiai Habibi dengan panggilan Abi, karena Kiai Habibi dan istrinya yang bernama Khadijah sudah menganggap Suci seperti putri kandungnya sendiri. Sebelum Kiai Habibi mejawab, Gus Ali lebih dulu mejawab, karena ini memang ia yang harus berbicara.


"Begini bu Anisa dan neng Suci, kami kesini ingin mengkhotibah putri bu Anisa yang bernama Suci."


Anisa memang sangat tidak begitu paham dengan ucapan yang di ucapan dari Gus Ali, tapi ia yakin kalau maksud ucapan Gus Ali itu sedang melamar putrinya. Kini pandangan Anisa beralih ke arah putrinya, ia melihat mata putrinya yang sudah memerah seperti sedang menahan tangisannya.


Anisa mengelus lembut punggung putrinya, ia bisa melihat kalau putrinya memiliki rasa cinta pada lelaki yang bernama Gus Ali.


"Bunda serahkan semuanya padamu nak, Bunda tidak akan ikut campur urusanmu, apa pun keputusanmu, Bunda akan selalu mendukungmu."


Suci hanya mengangguk, tubuhnya sudah mulai bergetar, lidahnya terasa kelu saat mendengar ucapan dari Gus Ali, lelaki yang ia cintai selama 3 tahun ini, sekuat apa pun ia menghapus namanya di hatinya, maka cintanya semakin membesar, maka dari itu ia berdo'a di sholat sepertiga malamnya agar di persatukan dalam iktan pernikahan bersama Gus Ali, ia berdo'a agar cintanya terbalaskan, tapi setelah do'a itu di kabulkan, bahkan ia tidak bisa merasa senang, karena sekarang posisinya berbeda.


"Neng, apa jawabanmu nak? Apa pun jawabanmu, Abi tetap akan menganggap kamu sebagai putri Abi, tidak pernah berubah, mau pun dulu atau pun sekarang."


Kiai Habibi mengeluarkan suara, setelah melihat Suci hanya diam, ia tau kalau Suci mungkin syok atas lamaran mendadak itu. Hati Anisa menghangat saat mendengar pertanyaan dari Kiai Habibi, ia tidak menyangka kalau putrinya di anggap sebagai putri mereka saat di pesantren, bukan di anggap sebagai santri mereka. Senyuman Gus Ali memudar, walau pun ia tidak bisa menatap Suci dengan jelas, tapi ia yakin kalau hati Suci memiliki keraguan padanya, hingga Suci masih diam membisu tidak mengeluarkan suara.


"Neng, kalau lamaran saya terlalu mendadak, saya minta maaf. Neng bisa berpikir terlebih dahulu untuk menerima atau menolak lamaran saya. Kalau ta'aruf itu sangat tidak mungkin, kita berdua sudah kenal 3 tahun yang lalu, tentu sudah mengenal satu sama lain."

__ADS_1


Suci yang mendengar ucapan dari Gus Ali, ia menjadi semakin bingung, tapi di sisi lain ia tidak memiliki hak untuk meminta waktu pada Gus Ali, ia takut kalau pilihanya tetap Arkan, karena bagai mana pun juga, bagi ia kebahagian dan bisa memberi senyuman pada orang lain jauh lebih bahagia, dari pada melihat orang lain bersedih dan ia bahagia dengan lelaki pilihannya, bukan'kah itu sangat jahat? Dan hijrahnya selama ini akan sia-sia.


"Ma-maaf sebelumnya Gus."


Suci berbicara dengan terbata-bata, lidahnya masih kelu, tapi ia juga harus segera menyelsaikan ucapanya. Suci memejamkan mata, ia mengucap Bismillah dan berdo'a, ia berharap keputusan yang ia ambil tidak salah. Sedangkan Gus Ali yang mendengar kata maaf dengan suara yang terbata-bata, ia sudah yakin kalau Suci menolaknya, karena ia belum pernah mendengar suara Suci dengan suara yang bergetar.


"Maafkan Neng Gus. Neng sudah memiliki calon suami."


Suci memang tidak pernah memanggil namanya Uci atau Suci saat berbicara dengan ke dua orang tua Gus Ali atau berbicara dengan Gus Ali, ia akan memanggil dirinya dengan panggilan Neng, seperti mereka. Gus Ali masih setia diam, ia ingin mendengar kata selanjutnya dari mulut Suci.


"Neng sudah menerima lamaran dari kak Arkan, dan insya Allah, kami akan menikah 6 hari lagi."


Jantung Gus Ali mendadak berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari Suci, matanya sudah mulai memerah karena Gadis yang di cintai selama ini akan menjadi milik orang lain, terlebih Suci baru bilang sekarang, harusnya Suci bilang saat Suci berpamitan, mungkin rasa kecewanya tidak akan bertambah, karena yang Gus Ali tau kalau Suci pulang akan menghadiri pernikahan kakanya, dan itu kenapa Gus Ali segera melamar Suci, karena Gus Ali takut kalau Suci keburu di lamar oleh teman lelaki kakanya Suci sendiri, terlebih Suci adalah Gadis sholehah, siapa saja pasti akan menginginkannya. Kiai Habibi mengelus punggung putranya, untuk menguatkan putranya.


"Maafkan Neng Gus. Neng seharusnya tidak mengatakan ingin di nikahi Gus saat pertemuan pertama."


Anisa membulatkan matanya, akhirnya ia paham sepenuhnya kalau putrinya mencintai Gus Ali dari pandangan pertama, apa lagi sekarang putrinya menundukan kepala dengan berbeda, memang biasanya putrinya akan menunduk saat melihat lelaki yang bukan makhromnya, tapi menunduk putrinya sangat berbeda, putrinya seperti sedang menahan air matanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa neng, jangan di ambil hati dan jangan merasa bersalah, mungkin Arkan adalah jodoh neng yang sudah tertulus di Lauhul Mahfudz."


Gus Ali tetap menanggapinya dengan bersikap dewasa, ia tidak ingin Suci merasa sangat bersalah. Setetes demi setetes air mata Suci keluar, ia merasa kalau jantungnya mendadak berhenti, hingga membuat ia susah untuk bernapas


__ADS_2