Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 91 Berkunjung ke rumah Bunda.


__ADS_3

Rendra masih sedang mengobrol-ngobrol dengan menantunya hingga mereka bercanda dan tertawa, ada saja ucapan Rendra yang membuat Anisa tertawa cekikikan.


Apa lagi sudah beberapa hari ini Anisa tidak bisa tersenyum atau tertawa, semenjak tau putri pertamanya yang menyebarkan berita untuk memitnah putri ke duanya, membuat ia sering merung dan Reyhan juga akhir-akhir ini sering datang ke rumah, katanya Reyhan sangat menghuatirkan ia.


"Kamu sepertinya sedang banyak pikiran Nis?"


Rendra sekarang sedang berbicara serius pada menantunya, ia tau kalau menantunya sedang menyembunyikan sesuatu dari raut wajahnya menantunya yang terluhat sangat murung.


"Tidak Ayah, Anisa tidak memikirkan apa-apa."


"Kamu itu seperti sedang berbicara sama siapa saja Nis. Bukan'kah Ayah sudah pernah bilang kalau kamu bukan sekedar sebagai menantu, tapi kamu juga sudah Ayah anggap menjadi putri Ayah, jadi kamu jujur saja sama Ayah."


Anisa menghela nafas berat sambil tersenyum getir, karena ia memang selalu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Ayah mertuanya.


Rendra langsung mendekati menantunya, ia langsung duduk di samping menantunya, lalu menepuk pelan punggung menantunya.


"Bicara sama Ayah Nis, jangan sampai kamu sakit karena memikirkan masalah itu."


Anisa langsung memeluk Ayah mertuanya yang memang sudah ia anggap sebagai Ayah kandung sendiri dan tangisannya langsung pecah.


"Anisa takut Yah, yang membuat berita kemarin adalah Sulis. Hiks... Hisk... Anisa takut kalau Sulis berbuat nekad lagi."


Rendra juga membalas pelukan dari menantunya sambil menepuk pelan punggung menantunya.


"Jangan berbicara seperti itu Nis, walau pun Sulis terkenal kasar, tapi tidak mungkin kalau Sulis melakukan itu."


Walau pun Rendra selalu mengatakan pada Sulis jangan mengganggu rumah tangga adikmu suatu saat nanti, tapi ia tidak percaya kalau cucunya berbuat nekad, apa lagi Suci adalah adik kandungnya jadi ia merasa sangat tidak mungkin.


"Serius Ayah, kemarin Anisa dan Reyhan mendengar dari mulut Sulis sendiri. Ayah Nisa minta maaf, karena Nisa gagal mendidik cucu pertama Ayah."


Sulis memang cucu paling tua, walau pun usia Reyhan dan Siska sam, tapi mereka dan Sulis berbeda beberapa bulan lebih tua usia Sulis.


Reyhan berbeda 3 bulan dengan Sulis, sedangkan Siska berbeda 6 bulan dengan Sulis. Rendra menghela napas berat, ternyata benar kalau cucunya itu belum dewasa hingga tega memojokan adiknya sendiri.


"Yang sudah terjadi sudah Nis, kamu harus tetap.percaya kalau putrimu tidak akan berbuat nekad lagi."

__ADS_1


Anisa menganggukan kepalanya pelan dengan perasaan yang kuatir. Tiba-tiba saja ada orang yang mengucapkan salam.


"Assalamualikum!"


Anisa langsung melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya.


"Wa'alaikumsalam!"


Rendra dan menantunya menjawab serempak. Anisa langsung berjalan ke arah pintu yang sudah terbuka lebar menampilkan putri ke duanya dan menantunya.


"Ya Allah putri Bunda."


Anisa berbicara sambil tersenyum lebar dan langsung memeluk putri ke duanya yang memang sangat ia rindukan. Suci juga memeluk erat Bundanya, ia memang ingin berkunjung dan ingin menginap beberapa hari di rumah Bundanya, ia tau kalau kehamilannya akan membuat Bunda dan Kakenya kuatir.


Mereka berdua berpelukan cukup lama hingga mereka melepaskan pelukannya. Arkan bertanya langsung mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Bagai mana kabar Bunda?"


"Alhamdulilah baik nak Arkan, ayo masuk nak."


Sulis menggeleng pelan, matanya mulai memerah, apa ia sedang bermimpi kalau kakeknya sedang berbicara lembut padannya? Biasanya yang Sulis dengar suara tegas dari sang kakek.


Kakeknya hanya lebut pada Suci saja, tapi bukan hanya ia yang di perlakukan berbeda, Reyhan, Siska dan Sisil juga di perlakukan sama seperti ia, hanya Suci yang di perlakukan dengan baik oleh kakeknya.


Seharunya kakeknya memperlakukan Reyhan dengan baik, mungkin Sulis juga tidak akan ngiri, karena Reyhan cucu lelaki satu-satunya, di tambah lagi ke dua orang tuanya sudah meninggal, tapi kakeknya tidak pernah menyayangi Reyhan seperti menyayangi Suci.


Rendra langsung memeluk cucunya sangat erat sambil mengelus punggung cucunya.


"Kakek tau sekarang kamu menyesal nak, tapi sekarang Arkan dan Suci sudah sama-sama bahagia, tolong relakan Arkan untuk adikmu, kamu harus mementingkan kondisi adikmu, kakek tidak mau Suci kenapa-napa."


Sulis juga membalas pelukan dari kakeknya, pelukan hangat yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, dan hanya Suci yang mendapatkan posisi itu.


Hati Sulis merasa sakit, selalu saja adiknya lagi dan adiknya lagi.


"Jangan lakukan apa pun itu, kamu harus ingat kalau kamu yang melepaskan Arkan, dan kamu juga untuk menyuruh adikmu untuk menggantikan pernikahanmu."

__ADS_1


"Maaf kek Sulis tidak akan pernah melepaskan Arkan, Sulis akan mengambil Arkan kembali, tidak peduli kalau Suci adalah adik Sulis. Sulis hanya akan mengambil milik Sulis kembali." batin Sulis


Rendra langsung melepaskan pelukannya.


"Ayo duduk."


Rendra langsung memegang tangan cucunya untuk mengajaknya duduk di sofa tidak jauh dari ranjang.


"Bagai mana pekerjaanmu apa selalu lancar?"


"Semuanya lancar kek."


"Sangat hebat kalau semuanya lancar, kamu memang wanita berbakat dengan karirmu itu."


Sulis hanya tersenyum lebar, bagi ia pujian dari kakeknya itu terdengar aneh, ia tidak pernah sedikit pun di puji dalam hal apa pun oleh kakeknya, tapi kali ini kakeknya sedang memujinya, atau kakeknya sedang mengejeknya karena sekarang ia telah menyesali perbuatannya secara tidak langsung, ia juga tidak tau.


"Sulis kakek akan mengenalkan dengan cucu sahabat-sahabat kake bagai mana? Kamu bisa memilih salah satu dari mereka untuk jadikan calon suami kamu? Kamu bisa kenalan lebih dulu dan mencocokan kepribadianmu dan kepribadianya, tidak perlu terburu-buru."


Sulis tidak percaya kalau sikap baik dan pujian kakeknya memiliki maksud tertentu, ia tidak menyangka kalau ia akan di jodohkan dengan sahabat dari kakeknya.


"Maksud kakek apa?"


"Kamu sudah pantas untuk menikah, seorang wanita tidak perlu memikirkan karir, jadi kamu bisa berkenalan dengan cucu sahabat kakek, di jamin tidak akan menyesal, mereka semua tampan-tampan dan juga pembisnis, ada juga sebagai dokter termasuk model papan atas, kamu mau yang mana?"


"Untuk sementara ini Sulis ingin fokus pada karir Sulis dulu kek. Sulis masih butuh bermain-main."


Sulis tidak mungkin menerima tawaran dari kakeknya karena yang ia cintai hanyalah Arkan, perjuangannya untuk mendapatkan Arkan belum selsai, tidak peduli apa yang akan terjadi, ia akan selalu berusaha."


"Masih bermain-main boleh saja, kakek juga tadi bilang untuk kenalan dulu, siapa tau ada yang cocok dari mereka."


Sulis yang mendengar ucapan dari kakeknya lagi, ia menghela nafas kasar, kakeknya itu selalu saja memaksakan kehendaknya sendiri, jelas-jelas ia sudah menolaknya.


Sulis langsung berdiri dari duduknya, ia langsung menatap tajam pada kakeknya.


"Kalau kakek datang ingin menjodohkanku lebih baik kakek keluar dari kamarku! Kakek tau apa dengan keinginan Sulis?! Kakek juga tidak pantas untuk menjodohkan Sulis! Bukan'kah selama ini cucu kesayangan kakek hanya Suci?! Suci yang kakek sayangu dan kakek manja, jadi kakek tidak berhak ikut campur dengan masalah Sulis!"

__ADS_1


Begitu pun dengan Rendra yang ikut berdiri dan menatap cucunya juga


__ADS_2