Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 104 Mas aku mencintaimu


__ADS_3

Suci yang mendengar jawaban dari suaminya, ia mengerutkan keningnya, ia tidak percaya kalau suaminya yang jatuh cinta duluan, dan membuat ia bertanya-tanya di dalam hatinya, apa ia tidaak mencintai suaminya dulu? Bukan'kah betapa bodohnya ia kalau tidak mencintai suaminya yang sangat tampan.


"Mas, apa dulu aku tidak mencintai mas?"


"Sayang juga bilang kalau mencintai mas, bahkan sayang juga membalas kata cinta mas dengan ucapan Ana Uhibbuka Fillah."


"Lalu mas mengatakan apa sama aku?"


Arkan meremas rambutnya dengan kasar, ternyata semenjak istrinya hilang ingatan begitu banyak pertanyaan yang menurut ia tidak penting dan membuat ia tidak suka ada wanita crewet


Arkan merasa kesal sendiri mendengar bayak pertanyaan dari istrinya, tapi walau pun begitu rasa cintanya jauh lebih besar dari pada rasa kesalnya, apa lagi ia tau kalau istrinya mendadak crewet karena hilang ingatan.


"Mas tidak bisa mengatakan cinta yang romantis, mas hanya mengatakan kalau mas mencintai sayang dari pandangan pertama saat kita bertemu di club malam saat itu."


Suci yang mendengar jawaban dari suaminya ia menggeleng pelan sambil beristighfar.


"Apa aku dulu begitu liar hingga datang ke club malam mas? Atau aku hanya wanita kotor?"


Tiba-tiba saja air mata Suci menetes tanpa di suruh, ia merasa sedih dan malu.


"Apa jangan-jangan dulu aku juga wanita malam mas?"


Arkan menghela nafas berat saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh istrinya, ia langsung menarik istrinya dalam pelukannya.


"Sayang bukan wanita malam, sayang adalah wanita yang paling suci seperti namamu, bahkan sayang yang mendidik mas menjadi seperti ini, sayang yang menuntun mas ke jalan yang benar untuk menuju ya rabbnya. Saat itu sayang ke club malam karena Ayah sayang meninggal, sama sekali bukan wanita malam."


Suci menganggup pelan dengan kepala yang ia sembunyikan di dada bidang milik suaminya, tapi walau pun suaminya sudah mengatakan semuanya, ia masih tidak percaya dengan ucapan suaminya.


"Jadi benar aku bukan wanita malam mas?"


"Bukan sayang."


"Lalu apa saat malam pertama aku masih suci?"


"Tentu saja sayang masih suci. Sudah jangan berpikir macam-macam, sayang hanya harus fokus pada kehamilan sayang, jangan berpikir apa pun."


Suci menganggukan kepalanya pelan, ia langsung melepaskan pelukannya, lalu menatap mata suaminya, bisa ia lihat di mata suaminya yang penuh kesedihan, entah apa yang sebenarnya terjadi ia tidak mengingat apa pun, tapi yang jelas kalau dulu memang ia kurang baik untuk suaminya, ia akan berusaha menjadi yang terbaik.


"Maafkan aku mas, aku tidak ingat apa pun tentang kita."


Arkan tersenyum lebar sambil mengelus lembut pipi kiri istrinya.

__ADS_1


"Mas juga berharap kamu tidak mengingat apa pun sayang, karena mas jauh lebih bahagia saat kamu tidak mengingat apa pun."


Arkan memang merasa bahagia saat istrinya tidak mengingat apa pun, walau pun ia tidak ingin istrinya melupakan kenangan manis bersamanya, tapi setidaknya istrinya tidak mengingat kejadian yang menyakitkan.


Tiba-tiba saja ponsel Arkan bergetar.


Dret... Dret...


Arkan langsung mengambil ponselnya di meja, ia melihat nama Rangga yang tertera di sana.


"Sayang sebentar iya, sahabat mas telpon."


Setelah melihat anggukan kepala dari istrinya Arkan memutuskan menjauh dari ranjang, ia berdiri di kaca ke arah balkon, lalu ia baru mengangkat telponnya.


"Ada apa Ga?"


"Gue cuma mau bilang kalau Sulis ternyata tidak memiliki penyakit kangker setadum lanjut, Sulis hanya pura-pura agar kalian berpisah dan kamu menikai Sulis."


"Benar begitu?!"


Arkan bertanya dengan perasaan terkejut saat mendengar ucapan dari Rangga.


"Iya benar, gue dan dokter Kinanti juga tidak habis pikir kalau Sulis berbohong dengan menyangkut ke dua dokter, tapi gue juga sudah bertanya pada dokter Yuda kalau Sulis meminta dokter Yuda karena Sulis mengatakan ingin menolak perjodohan, jadi ini sama sekali bukan salah dokter Yuda."


"Iya, yang penting lo jaga Suci dan calon ponakan gue dengan baik, tapi lo di mana sekarang? Ada berkas yang harus lo tanda tangani."


"Gue sedang ada di rumah kakek, kalau ada berkas yang harus gue tanda tangani, lo datang ke rumah saja, biar mama atau papa yang bertanda tangan."


"Baik, kalau gitu gue tutup."


"Oke."


Arkan memutuskan sambungan telponnya, ia langsung berjalan ke arah istrinya, ia sangat tekejut saat melihat istrinya yang sedang menangis sambil menuntup wajahna dengan ke dua tangannya.


"Sayang, kenapa? Apa yang sakit hmmm?"


Arkan bertanya sambil mengangkat kepala istrinya.


"Apa mas berbicara dengan wanita? Hingga mas menjauh dariku saat berbicara?"


Arkan menghela nafas berat, ia yakin kalau istrinya cemburu.

__ADS_1


"Mas berbicara dengan Rangga sayang, ini kamu lihat saja kalau tidak percaya."


Arkan memberikan ponselnya pada istrinya yang hanya di jawab dengan gelengan kepala.


Arkan meletakan ponselnya di meja karena istrinya tidak mau mengambil ponselnya, ia langsung duduk di samping ranjang, lalu langsung memeluk istrinya.


"Sayang jangan pernah cemburu, maaf karena mas tadi mengangkat telpon dari Rangga menjauh dari sayang, itu hanya persolan pekerjaan, bukan masalah apa pun sungguh."


Suci mengangguk pelan, ia percaya kalau suaminya tidak mengangkat telpon dari wanita saat suaminya memberikan ponsel padanya, itu artinya tidak ada sesuatu yang suaminya sembunyikan.


"Mas aku ngantuk."


Arkan melepaskan pelukannya, ia menatap wajah istrinya.


"Sayang tidak mau makan dulu?"


"Tidak mas."


"Baik kalau begitu."


Arkan langsung bergeser untuk menyadarkan kepalanya di kepala ranjang, lalu langsung mengambil bantal untuk ia letakan di lengannya.


"Sini sayang."


Arkan berbicara sambil menepuk pelan pahanya untuk menyuruh istrinya tidur di pangkuannya.


Suci langsung membaringkan tubuhnya sambil tersenyum lebar, ia tidak menyangka kalau suaminya ternyata begitu sangat romantis.


Suci memainkan jari-jari kiri suaminya dengan ke dua tangannya.


Arkan menepuk pelan kening istrinya karena istrinya tidur dengan posisi telentang sambil membaca sholawat agar istrinya mudah tidur.


Suci yang mendengar suaminya bersholawat ia memejamkan matanya, lagi-lagi ia tidak menyangka kalau suaminya sangat romantis.


"Aku tidak menyangka memiliki suami yang sangat romantis, tapi kenapa aku tidak mengingat tentangnya? Dan kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya, sebenarnya apa yang terjadi padaku dan kenapa tanganku di perban?" batin Suci


Suci hanya bertanya-tanya di dalam hatinya karena ia memang tidak berani untuk bertanya, apa lagi saat suaminya mengatakan kalau suaminya lebih bahagia saat ia tidak mengingat masa lalunya, ia yakin kalau masa lalunya begitu sangat rumut hingga suaminya tidak ingin ia ingat tentang masa lalunya.


"Mas, aku mencintaimu."


Arkan tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari istrinya, ia tidak menyangka kalau hilang ingatan istrinya itu sangat romantis dan jujur.

__ADS_1


Apa lagi saat mengatakan ia tampan, jelas-jelas selama menikah istrinya tidak pernah mengatakan ia tampan, tapi kini istrinya mengatakan ia tampan.


"Mas juga mencintai sayang dan dede."


__ADS_2