Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB.75 Di hotel


__ADS_3

Seperti yang di janjikan Arkan kemarin, hari ini Arkan dan istrinya pergi ke pengandaran. Arkan dan istrinya sudah sampai tadi sore, setelah melangkasanakan sholat isya mereka sekarang sedang makan.


Seperti biasa Arkan menyuapi istrinya untuk makan. Arkan bisa melihat mata istrinya yang berbinar dan senyumannya tidak pernah pudar dari kemarin saat ia mengajak istrinya untuk pergi ke laut biru.


Bahkan Arkan memilih hotel yang sangat dekat dengan laut biru, jadi ia dan istrinya bisa melihat pemandangan itu dari arah balkon.


Arkan dan istrinya selsai makan, sekarang mereka sedang duduk di sofa sambil menonton televisi dengan istrinya yang duduk di pangkuannya.


"Mas, terima kasih sudah mengajak aku kesini. Aku sangat bahgia."


Arkan yang sedang fokus melihat televisi, ia langsung melihat ke wajah istrinya.


"Apa sayang memiliki alasan?"


"Iya, dulu saat aku libur sekolah Ayah selalu mengajak aku kesini mas, bahkan setelah Ayah meninggal aku juga sering ke sini, bagi aku laut biru adalah kenangan terindah bersama Ayah."


"Setelah Ayah meninggal kamu kesini sama siapa sayang?"


" Sendiri mas."


"Ternyata istri mas dulu berani iya, pergi dari Jakarta ke Pengandaran sendiri?"


"Harus berani dong, emangnya mas sudah jatuh cinta dari pandangan pertama, tapi tidak berani untuk mencariku dan ungkapin perasaan mas padaku."


Suci berbicara sambil tersenyum, apa lagi saat menatap wajah terkejut suaminya, ia sudah ingin tertawa.


"Ternyata istri mas sudah berani mengejek mas iya sekarang?"


Arkan berbicara sambil tersenyum getir untuk menutupi rasa malunya.


"Itu pakta mas."


Arkan langsung mencium bibir istrinya sekilas.


"Itu hukuman karena sudah berbicara sembarangan."


Suci tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari suaminya.


"Tapi itu hanya sebentar mas, sering-seringnya aku pergi ke sini sama Indra. Maaf mas, sebenarnya aku dan Indra sudah saling kenal, kita satu sekolah hanya saja beda kelas."

__ADS_1


Suci ingin jujur kalau ia sangat mengenal adik tiri dari suaminya, ia tidak ingin berbohong tentang hal itu.


"Mas sudah tau sayang, saat kalian bertemu untuk pertama kalinya, mas sudah tau kalau kalian saling kenal. Saat itu kalian berdua sama-sama sangat terkejut, walau pun Indra mengatakan tidak mengenalmu, tapi mas sudah tau."


"Maaf mas, habis Indra bilang tidak kenal, jadi aku bingung mau cerita dari mana."


"Indra mengatakan tidak kenal kamu karena Indra tidak mau mas tau masa lalu kamu sayang, nyatanya mas bahkan sudah mengel kamu saat di club."


Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Suci tidak menyangka kalau Indra akan melakukan itu agar masa lalunya tidak ketahuan oleh suaminya.


"Tapi setelah aku masuk pesantren aku belum pernah kesini lagi mas."


Arkan mengangguk pelan. Suci langsung turun dari pangkuan suaminya, ia langsung berjalan ke arah balkon, lalu menatap laut biru dengan di temani angin dinginnya malam. Arkan yang melihat istrinya pergi ke balkon, ia mengambil selimut kecil yang ukurannya 70x120cm, lalu mendekati istrinya, ia langsung menyelimuti punggung istrinya.


"Udara malam terlalu dingin sayang."


Setelah menyelimutinya, ia memeluk pinggang istrinya dari belakang dengan kepala yang ia letakan di bahu istrinya.


"Terima kasih mas."


Suci memegang tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Sama-sama sayang. Sayang setelah pulang dari sini mas boleh minta sesuatu tidak?"


"Kamu jangan mendesain lagi sayang, mas tau kalau itu cita-citamu, tapi kamu harus perhatikan kondisimu, tubuh sayang itu semakin kurus sekarang."


"Sebenarnya itu bukan cita-citaku mas, aku hanya mengambil jurusan itu saja tidak lebih."


"Lalu cita-citamu ingin menjadi apa sayang?"


"Ingin menjadi dokter mas, tapi karena aku masuk pesantren, aku mengubur cita-citaku, seorang dokter sudah di sumpah untuk menolong pasien wanita mau pun lelaki, sedangkan aku tidak mau menyentuh lelaki yang bukan makhromku."


Arkan tersenyum lebar saat mendengar penjelasan dari istrinya, memang ia jauh lebih tenang saat istrinya menutup dirinya dan menolak sentuhan dari lelaki lain, jadi ia tidak akan berpikir macam-macam, tapi kalau istrinya tidak tertutup, mungkin ia akan selalu kuatir dan selalu berpikir macam-macam.


"Perjalan hari ini bikin sayang lelah tidak?"


"Tidak ko pusing sedikit-sedikit sudah biasa mas, sudah tidak aneh."


"Jangan di anggap sepele dong sayang, mas pengennya kamu itu terbuka sama mas, terus sayang harus di priksa lagi oleh dokter Rina, jangan selalu menolak, jangan selalu membuat mas kuatir."

__ADS_1


"Mas itu lebay deh, begitu saja kuatir, harusnya kita itu bersyukur mas, karena mungkin letak kekuranganku di situ."


"Iya mas tau."


"Iya mas tau darah rendah terbilang hanya masalah sepele, bukan di anggap oleh kamu saja, mungkin semua orang juga menganggap biasa saja, tapi kalau terus di biarkan akan semakin parah, mas takut Uci, mas takut kamu kenapa-kenapa, mas takut dengan ucapan dokter Rina yang sampai sekarang selalu terdengar di indra pendengaran mas." batin Arkan


Arkan hingga sampai sekarang memang masih menghuatirkan hal itu, apa lagi sudah 11 hari istrinya masih saja belum datang bulan, kalau iya istrinya itu hamil, ia takut kalau istrinya nanti kenapa-napa.


"Mas, bintang-bintang itu sangat indah, namen ke indahanya hanya bisa kita lihat saat malam, tapi ke indahan dalam diri mas, selalu bisa aku lihat setiap saat."


"Mulai gombal iya kamu sayang?"


"Merayu suami itu boleh mas, apa lagi bisa menyenangkan hati suami itu sangat di perbolehkan, tapi aku tidak merayu, itu semua pakta yang ada di diri mas."


Suci masih setia menatap laut biru, ia berbicara sambil terus saja tersenyum, walau pun mungkin menurut orang lain liburannya terlihat biasa, tapi bagi ia sangat istimewa, apa lagi di pesisir pantainya tempat ia bermain dengan sang Ayah, ia sangat bahagia, karena bayang-bayang masa lalu yang sudah mulai ia lupakan teringat kembali.


"Sayang memiliki keinginan ingin berlibur kemana lagi setelah pulang dari sini?"


"Aku tidak ingin liburan kemana pun mas, aku sangat senang sudah bisa liburan ke sini."


"Masuk yuk sayang, udaranya semakin dingin, tidak baik untuk tubuhmu."


Suci mengangguk pelan. Arkan langsung melepaskan pelukannya, ia merangkul bahu istrinya masuk ke dalam kamarnya lagi.


Mereka sekarang sudah duduk di atas ranjang.


"Mas, aku ngantuk."


Arkan mengangguk pelan, ia langsung membuka hijab istrinya, setelah itu ia mengambil bantal untuk ia letakan di tangan kirinya sambil menyandarkan kepalanya di ranjang.


"Sini sayang."


Tangan kanan Arkan menepuk pelan bantal yang ada di tangan kirinya. Suci mengangguk pelan sambil tersenyum, ia langsung membaringkan tubuhnya di pangkuan suaminya sambil dengan posisi memiringkan tubuhnya.


"Baca do'a dulu."


Suci mengangguk pelan, ia langsung membaca do'a, setelah selsain ia langsung memejamkan matanya.


Setelah melihat istnya memejamkan mata Arkan langsung bersholawat seperti biasanya, karena menurut istrinya nyanyian penghantar tidur yang indah adalah dengan membaca ayat suci Al-Qur'an atau berholawat. Arkan selsai bersholawat.

__ADS_1


"Terima kasih Uci selalu bersama mas, walau pun mas selalu membuatmu menangis."


Arkan langsung mencium kening dan ke dua mata istrinya yang sudah terpejam.


__ADS_2