Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 128 End


__ADS_3

Sudah 1 bulan dari meninggalnya Sulis dan 1 bulan juga Suci kembali ke tanah kelahiranya, bahkan ia menyediakan perawatannya dalam jet pribadi.


Walau pun dokter belum memperbolehkan pulang saat itu, tapi Suci kekeh ingin pulang hingga suaminya langsung menyediakan beberapa perawat untuk ia dalam perjalanan pulang Indonesia.


Setiap hari Suci menangis hingga pingsan dan lagi-lagi ia tidak percaya kalau ucapan bohong kakanya akan langsung di jabah.


Apa lagi saat Suci melihat Raka selalu mengunjungi makam kakanya setiap hati hati Suci sangat hancur sehancur-hancurnya.


Seharusnya kakanya dan Raka itu bahagia dan hari ini seharusnya pernikahan kakanya dan Raka, tapi kandas karena teragedi itu.


Suci juga selalu mengingat kata yang ada di surat yang kakanya tulis.


Kaka sayang kamu dek dari dulu hingga sekarang, tapi karena cinta kaka bahkan butu hingga melukai kamu dan janin yang ada di dalam kandungan kamu. Sebenarnya kaka menyesal telah melakukan kebohongan itu dan tidak bisa melihat ke dua ponakan kaka, tapi itu lah karma yang harus kaka terima dari perbuatan kaka. Namun ada satu yang membuat kaka bahagia dan tidak menyesal meninggalkan dunia ini. Kaka pernah merasakan di cintai oleh Raka, cinta yang sangat tulus dan mampu mengajarkan kaka bagai mana arti cinta sesungguhnya. Dek, kaka minta maaf untuk segala perlakuan kaka selama ini, tolong maafkan kaka. Andai kaka memiliki kesempatan hidup kembali, kaka hanya ingin kenjadi kakamu seterusnya.


Kata itu lah yang selalu Suci ingat di telinganya, ia juga memang bahagia memiliki kaka seperti Sulis.


Sekarang Suci dan suaminya di sibukan dengan ke dua buah hatinya, dari memandikan sampai mengganti popok.


Mereka berdua begitu kompak mengurus buah hatinya.


Arkan juga sudah menyuruh menyerahkan seluruhnya tentang masalah kantor pada Rangga, ia hanya ingin fokus untuk mengurus keluarga kecilnya.


Apa lagi sekarang mereka sudah memiliki rumah sendiri untuk mereka tempati dan ke dua buah hatinya.


Setelah memakaikan popok Arkan langsung mengayun ke dua buah hatinya sambil bersholawat, sedangan istrinya sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan.


Sebenarnya Arkan sudah memutuskan untuk mengambil 4 asisten rumah tangga agar istrinya itu tidak kecapean, tapi istrinya selalu menolak dan ia tidak ridho bagi-bagi pahala dengan orang lain, itu lah yang selalu ia dengar dari mulut istrinya.


Suci berjalan ke arah suaminya yang masih sibuk membaca sholawat walau pun ke dua buah hatinya sudah terlelap dari tadi, tapi suaminya selalu saja memanjakan mereka dengan alasan kalau suaminya tidak ingin mendidik ke dua buah hatinya seperti suaminya saat kecil.


Suaminya menginginkan ke dua buah hatinya tubuh dengan selalu memiliki iman, begitu pun saat ke dua buah hatinya bangun suaminya selalu melantunkan ayat suci Al-Qur'an.

__ADS_1


Suci merasa hidupnya sekarang sangat sempurna, tidak memiliki kekurangan apa pun, memiliki suami yang bisa segalanya dan memiliki ke dua buah hati yang sangat menggemaskan.


"Ayah makan dulu sayang."


Semenjak Suci memiliki anak, ia akan memanggil suaminya dengan panggilan Ayah dan sayang, begitu kumpilnya panggilan untuk suaminya.


"Bunda sudah makan?"


Begitu pun dengan Arkan yang memanggil istrinya dengan panggilan Bunda.


"Belum Ayah, Ayah sayang saja lebih dulu makan, Bunda tunggu dede."


"Dede sudah tidur Bunda, kita makan di sini saja, entar Ayah ambil makananya."


Suci mengangguk pelan. Arkan mengecup kening istrinya lalu langsung pergi ke meja makan untuk mengambil makanan.


Setelah mengambil makanan Arkan duduk bersama istrinya lalu langsung membaca do'a. Setelah itu langsung menyuapi istrinya dan baru menyuapi ia sendiri.


"Ayah sayang sudah, nanti Bunda tambah gemuk, lihat wajah Bunda makin cabbi saja."


Arkan tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari istrinya.


"Itu Bukan gemuk Bunda, tapi tubuh Bunda memang lebih berisi sekarang, menurut Ayah Bunda lebih cantik sekarang."


"Bohong! Ayah mujinya keterlaluan, terus menurut Ayah dulu Bunda tidak cantik begitu?"


"Dari dulu sampai sekarang Bunda tetap cantik, hanya saja Ayah memeluk Bunda lebih berasa sekarang tidak seperti dulu, kalau dulu seperti memeluk guling karena tubuh Bunda mungil."


"Ih Ayah lama-lama nyebelin!"


"Sudah-sudah ayo lanjut lagi makannya Bunda, katanya tidak baik membuang makanan, di luar sana masih ada orang yang kelaparan, tapi kita yang memiliki makanan lebih di buang-buang."

__ADS_1


"Bunda tidak menyuruh Ayah buang makanan, Bunda suruh Ayah untuk menghabiskannya, kalau tidak nanti Bunda tidak masakin Ayah, Bunda juga menyita pasilitas Ayah biar Ayah kelaparan."


Arkan yang mendengar ucapan panjang dari istrinya ia hanya terkekeh. Setidaknya rumahnya tidak sepi saat ke dua buah hatinya tidur dan ke dua orang tuanya tidak main mau pun ibu mertuanya.


Arkan memang sudah menyuruh ibu mertuanya untuk tinggal bersama, tapi katanya terlalu berat untuk meninggalkan rumah, karena rumah itu adalah peninggalan suaminya.


Jadi setiap harinya kalau bukan ibu mertuanya yang main ke rumah Arkan, maka Arkan dan keluarga kecilnya yang pergi ke rumah ibu mertuanya.


Arkan tidak ingin kalau ibu mertuanya merasa kesepian, jadi ia selalu berkunjung ke sana, walau pun Reyhan juga tinggal di sana.


Setelah makan Arkan langsung pergi ke dapur untuk mencuci piring bekas makan mereka tadi, setelah itu kembali lagi ke istrinya yang sedang duduk.


"Ngantuk Bun?"


"Iya Ayah sayang, kebiasaan kalau habis makan pasti ngantuk."


Arkan langsung menarik istrinya untuk bersandar di dada bidang miliknya, lalu menepuk pelan punggung istrinya sambil membacakan sholawat.


Walau pun mereka sudah memiliki anak, tapi bukan berarti Arkan mengabaikan istrinya, bahkan ia jauh lebih romantis setelah memiliki buah hati.


Di pagi hari Arkan selalu menyimpan bunga segar di samping istrinya tertidur, ia juga tidak lupa selalu menuliskan kata sayang di note layaknya seperti pasangan remaja yang baru saja menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


Semua Arkan lakukan adalah semata-mata untuk mengucap syukur karena semejak ada Suci hidupnya sangat berwarna, apa lagi sekarang memiliki ke dua buah hati yang melengkapi kehidupanya.


Arkan tersenyum lebar saat mendengar nafas istrinya sudah beraturan, itu menandakan istrinya sudah ada dalam alam mimpi.


"Aku tidak pernah menyangka kalau pernikahan kita yang di penuh seperti jalan berliku akan berujung bahagia, dulu banyak sekali masalah kita, tapi sekarang membuahkan hasil kebahagiaan. Terima kasih Suci Septiani Almuhamaira, sifat dan rupamu bagus seperti namamu. Aku selalu mencintai kamu dan berharap hanya Allah yang memisahkan kita kelak dan di persatukan lagi dalam surganya. Amin."


Kehidupan sesaorang memang tidak ada yang tau begitu pun Arkan dan Suci yang awalnya menikah dengan keterpaksaan, Arkan memang dari awal menerima Suci, tapi berbeda dengan Suci yang di hatinya memiliki nama lelaki lain, tapi Suci selalu percaya bahwa Allah maha membolak-balikan hati hingga berujung bahagia


...****************...

__ADS_1


Terima kasih selalu mendukung karya Author sampai tamat, Author sengaja di percepat tamatnya agar alurnya tidak berantakan dan tidak membuat bosan para pembaca.


__ADS_2