Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 89 Es Krim


__ADS_3

Memang menurut Keyla harus membuat nasi goreng lagi, yang ada menantunya dan calon cucunya itu makan-makanan yang tidak layak di makan.


"Iya seharusnya memang membuat lagi, itu tidak bisa di makan."


"Tidak mau ma, Uci pengennya nasi goreng itu."


Suci berbicara sambil menujuk nasi goreng yang masih di pegang suaminya.


"Tidak boleh sayang, itu asin, mama buatin iya?"


"Tidak mau pokonnya Uci pengen nasi goreng itu."


Keyla hanya menghela nafas berat saat mendengar menantunya yang menginginkan nasi goreng asin.


"Sayang, nurut apa kata mama, kamu tidak boleh makan nasi goreng ini, nanti mas buat lagi iya?"


"Iya sudah aku tidak jadi makan."


Setelah mengatakan itu Suci langsung pergi dari dapur. Keyla dan Arkan hanya bisa menghela nafas berat.


"Berikan saja nasi goreng itu, mungkin Suci sedang nyidam."


"Tapi ini tidak bisa di makan ma."


"Dari pada istrimu tidak makan? Kasian janin yang ada di dalam kandungannya, wanita hamil itu sangat sensitif, ikuti saja kemauannya."


"Iya sudah iya ma."


Arkan menghela nafas berat, lalu ia langsung membawa nasi goreng itu ke ruang keluarga, karena istrinya memang sedang duduk di ruang keluarga sambil bersidakep dada.


Andaikan saja istrinya sudah membuka cadar, mungkin Arkan bisa melihat wajah merajuk istrinya yang menurut ia sangat menggemaskan.


Arkan duduk di samping istrinya sambil meletakan nasi goreng itu di meja, lalu ia langsung menuangkan air putih di gelas.


"Sudah jangan merajuk dong sayang, ayo di makan, katanya mau nasi goreng buatan mas."


Suci langsung melihat ke arah suaminya, ia langsung membuka cadarnya.


"Serius mas boleh aku makan ini?"


"Iya sayang, mau mas suapin?"


Arkan berbicara sambil mengelus pelan kepala istrinya.


"Tidak usah mas, aku mau makan sendiri."


Arkan mengangguk pelan. Suci langsung membaca do'a, setelah itu ia langsung memulai makan.


"Mas mau?"


"Tidak sayang."


"Iya sudah buat aku semua."

__ADS_1


Arkan bisa melihat mata berbinar dari istrinya, bahkan di setiap kunyahan istrinya selalu terpancar senyum tipis.


"Apa memang wanita hamil itu tidak bisa memiliki rasa? Nasi goreng itu sangat asin, bahkan aku dan mama saat mencobanya langsung membuangnya, tapi kenapa Suci biasa saja? Seolah-olah nasi goreng itu memang sangat enak." batin Arkan


Arkan terus saja mengamati istrinya yang sedang makan, hingga nasi goreng di piring itu habis tidak tersisa.


Suci langsung meminum air putih, lalu langsung mengelap bibirnya, ia langsung mencium bibir suaminya sekilas.


"Terima kasih mas, aku sudah kenyang dan suka, nanti lain kali mas buatkan lagi iya?"


Arkan mengangguk sambil tersenyum.


"Apa pun yang sayang inginkan, mas akan melakukannya."


Sedangkan Keyla yang dari tadi memperhatikan putra dan menantunya, ia hanya tersenyum lebar, melihat kelakuan menantunya yang mencium bibir putranya.


"Selalu sehat dan bahagia terus iya Uci, kamu adalah wanita yang paling berharga di keluarga ini. Kamu selalu membawa pengaruh baik dan kebahagiaan di keluarga ini." batin Keyla


Setelah itu Keyla memutuskan kembali lagi ke kamarnya.


"Terima kasih mas memang mas suami dan calon Ayah yang baik."


Suci berbicara sambil mengacungkan ke dua jempolnya.


"Mas, aku ingin jajan es krim."


Arkan mengerutkan keningnya, ada saja permintaan aneh dari istrinya.


"Sayang itu tidak suka es dan tidak suka manis-manis."


"Iya sudah, mas suruh Saras atau pak Budi beli es krim, berapa dan rasa apa?"


"Es krim yang 3 in 1 mas, yang rasa setroberi, coklat, vanila, tapi aku maunya mas yang beli."


"Hah?"


"Iya mas."


"Iya sudah sayang tunggu di sini."


Arkan terpaksa membeli es krim sendiri, walau pun ia belum pernah belaja di Indomaret, tapi kali ini ia masuk ke dalam Indomaret terdekat dari rumahnya, bahkan ia juga hanya jalan kaki, karena jaraknya hanya 5 menit saja.


Arkan masuk ke dalam Indomaret, lalu ia membeli es krim yang di minta istrinya samapai beli 5 bungkus, ia tidak mau kalau nanti harus balik lagi ke Indomaret, apa lagi melihat tatapan-tatapan para kasir wanita di Indomaret membuat ia tidak suka, bukan karena tatapan benci oleh beredarnya berita yang tidak mengenakan, tapi mereka menatapnya dengan senyuman genit dan mata berbinar.


Arkan sudah sampai di rumah, saat masuk ke ruang keluarga, ternyata istrinya sudah tidur di sofa.


"Bi tolong masukin ke kulkas di kamar saya."


Arkan memberikan kantong pelastik yang berisi es krim itu ke pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Baik den."


Asisten rumah tangga itu mengambil plastik yang di berikan Arkan.

__ADS_1


Arkan langsung menggendong istrinya untuk pindah ke kamar, di ikut dengan asisten rumah tangganya yang meneteng plstik.


Setelah di kamar Arkan merebahkan tubuh istrinya perlahan, tapi ternyata istrinya itu tetap terusik hingga bangun.


"Mas sudah pulang?"


Suci langsung duduk sambil menatap suaminya.


"Iya sayang, maaf tidur sayang jadi terganggu."


"Es krimnya mana mas?"


Suci tidak menggubris permintaan maaf baru suaminya, ia hanya ingin segera memakan es krim.


"Bentar mas ambil di kulkas sayang."


Arkan berjalan ke arah kulkas sambil menggelengkan kepalanya, menurut ia wanita hamil itu aneh.


"Ini sayang."


Arkan memberikan es krim dan sendok pada istrinya."


"Terima kasih mas, mas memang selalu menjadi suami yang bisa di andalkan."


Arkan mengangguk pelan, ia duduk di samping istrinya.


"Mas mau?"


"Tidak sayang."


"Mas ko tidak masuk-masuk kantor? Memang tidak ada kerjaan yang penting? Biasanya mas sibuk sekali di kantor."


Suci bertanya sambil memakan es krimnya.


"Alhamdulilah di kantor sedang senggang sayang."


Arkan menjawab dengan berbohong, pekerjaan kantornya jelas selalu menumpuk, tapi kalau ia tidak pergi ke kantor karena kuatir pada istrinya, nanti istrinya akan semakin merasa bersalah, jadi urusan kantor untuk saat ini ia serahkan pada Rangga dan Sinta, dua orang yang sangat ia percaya di kantornya.


"Sering-sering saja pekerjan kantor senggang, biar aku dan dede tidak kesepian."


Arkan hanya menanggapinya dengan senyum lebar.


"Mas, aku boleh berbicara sesuatu?"


"Boleh, bicara saja sayang."


"Boleh tidak aku tidak kuliah lagi? Aku sekarang hanya ingin fokus pada rumah tangga kita."


Menurut Suci sudah tidak ada lagi yang harus ia perjuangkan, kalau dulu mungkin ia ingin menjadi desainer muslimah, tapi kali ini ia sudah tidak menginginkannya, ia memiliki kebahagian di dalam rumah tangganya, memiliki suami yang sangat sempurna dan sebentar lagi ia juga akan menjadi seorang Bunda.


"Serius sayang ingin fokus pada rumah tangga kita? Kalau sayang merasa kesulitan karena hamil, sayang bisa melanjutkannya setelah melahirkan, anak kita hanya perlu mencarikan baby sister dan bisa sayang bawa ke kampus juga kalau sayang tidak percaya pada baby sisternya. Mas tidak akan menuntut sayang untuk menjadi seorang istri seutuhnya, sayang sudah bayak memberikan kebahagian untuk mas, jadi sudah sewajarnya mas memberikanmu kebebasan."


Arkan tidak ingin istrinya merasa terbebani oleh pernikahannya, untuk itu ia memperbolehkan istrinya kuliah.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik untuk calon anak kita mas."


__ADS_2