Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 95 Misi


__ADS_3

Sudah 5 hari Arkan dan Suci di rumah Bundanya, 5 hari juga Sulis terus merasakan cemburu melihat kemesraan mereka, apa lagi tadi pagi kakenya pulang, ia menjadi merasa sangat kesepian.


Walau pun Sulis merasa senang karena kakeknya memiliki waktu untuk mengajaknya pergi kemana pun yang ia mau, tapi kini hatinya merasa sepi, apa lagi Bundanya yang sedikit bicara semenjak kejan di mana ia mengatakan membiarkan adiknya meninggal, itu membuat Bundanya jadi irit bicara.


Namen Sulis sama sekali tidak ingin minta maaf pada Bundanya, menurut ia, ia tidak salah, jadi untuk apa minta maaf pada Bundanya.


Sulis sekarang sedang duduk termenung sambil melihat surat dari dokter Hasan. Dokter Hasan adalah dokter keluarga Sulis, bahkan dokter Hasan adalah teman Sulis saat kuliah. Sulis meminta doketer Hasan agar membuat surat riwayat bahwa ia mengidap penyakit kamker setadium lanjut.


Bukan hanya itu Sulis juga meminta obat-obatanya, ia akan menjalankan misinya agar bisa mendapatkan Arkan, tidak peduli apa pun caranya ia akan selalu berusaha.


Bahkan Sulis juga membayar dokter dari rumah sakit Harapan, seorang dokter kangker yang bernama Yuda, awalnya dokter itu menolak, karena tidak ingin merusak citra baiknya, tapi Sulis mengatakan untuk menghindari perjodohan membuat dokter Yuda mau berbohong karena merasa kasihan pada Sulis


Namen ada rasa ragu juga di hatinya, ia bingung apa akan melanjutkan kebohongannya, atau ia relakan Arkan untuk adiknya? Mengingat kakeknya yang juga menyayanginya, membuat Sulis ragu untuk berbuat nekad.


Sulis langsung meletakan kertas itu di meja samping obat-obatan yang tadi


Sulis ikut duduk di samping Bundanya yang sedang mengobrol dengan Arkan dan adiknya.


"Gi mana pekerjaan hari ini kak?"


Suci bertanya sambil tersenyum, seolah-olah ia tidak tau apa-apa tentang kejadian kakanya yang menyebarkan berita tentang ia sebagai orang ke 3 dalam hubungan kakak dan suaminya di masa lalu


Memang biasanya Sulis tidak pernah ikut bergabung saat mereka duduk di ruang keluarga, alasannya terlalu malas melihat kemesraan Arkan dan adiknya yang membuat ia terus ingin memiliki Arkan.


"Alhamdulilah lancar dek."


"Syukur kalau lancar."


Setelah mengatakan itu mereka semua kembali berbincang-bincang hingga Sulis akan memulai rencananya.


Sulis tiba-tiba saja pingsan, itu membuat mereka terkejut.


Anisa langsung menepuk pelan pipi putrinya.


"Sulis, Sulis."


Namen tidak ada jawaban dari Sulia. Arkan dan Suci juga mendekati Sulis.


"Mas, angkat tubuh kaka bawa ke kamar kaka sama Bunda, aku telpon dokter Hasan dulu."


"Iya sayang."


Arkan langsung mengangkat tubuh Sulis, ia berjalan mengikuti ibu mertuanya masuk ke dalam kamar Sulis, lalu langsung membaringkan tubuh Sulis di atas ranjang, ia juga langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Sulis.


"Bun, apa Sulis sering seperti ini?"


"Tidak nak."

__ADS_1


Arkan menatap sekeliling kamar Sulis hingga matanya berhenti di meja yang ada obat-obatan, lalu ia langsung berjalan ke arah meja tersebut.


Arkan mengambil obat itu, lalu mengamatinya dengan seksama, hingga ia tau kalau itu salah satu obat kanker.


Arkan langsung melihat ke arah ibu mertuanya yang sedang duduk di atas ranjang sambil menatap kuatir pada putrinya.


"Bun, ini obat kanker kan?"


Anisa langsung melihat ke arah Arkan, ia langsung berjalan mendekati Arkan, ia mengambil obat yang di pegang Arkan, baru juga ia mengamati, ia melihat kertas di meja.


Anisa langsung mengambil kertas itu, ia langsung beristghfar saat membaca kertas itu.


"Astaghfirullah Sulis."


Air mata Anisa langsung mengalir deras, tubuhnya lemas, ia hampir saja terjatuh ke lantai kalau Arkan tidak sigap menahan punggungnya.


"Kenapa Bun?"


Arkan bertanya dengan tangan kanannya langsung meraih kertas itu, ia membaca dengan seksama.


"Iya Allah."


Arkan terkejut saat membaca kertas itu, ia tidak menyangka kalau Sulis memiliki penyakit itu.


Arkan sambil menunggu dokter Hasan datang, ia langsung menghubungi dokter Yuda, setelah di angkat ia berbicara lebih dulu.


"Baik pak Arkan."


Arkan langsung mematikan sambungan telponnya, lalu ia memapah ibu mertuanya untuk duduk di sofa.


Tidak lama Suci masuk bersama dokter Hasan, memang rumah dokter Hasan hanya terhalang 2 rumah saja dari rumah Anisa.


"Mas, dokter Hasan sudah datang."


"Iya sayang. Dokter, Sulis tiba-tiba saja pingsan."


"Iya pak Arkan."


Dokter Hasan tersenyum ramah, ia langsung menyuruh mereka untuk keluar.


"Bisa minta kalian keluar dulu?"


"Baik dokter."


Suci langsung memapah tubuh lemas Bundanya keluar dari kamar Sulis di ikuti dengan Arkan di belakangnya.


Setelah pintu tertutup dokter Hasan menghela nafas berat.

__ADS_1


"Sampai kapan berpura-pura Lis?"


Sulis langsung membuka mata saat dokter Hasan bertanya, ia langsung duduk sambil menatap dokter Hasan.


"Sampai aku benar-benar mendapatkan Arkan kembali."


Dokter Hasan menghela nafas berat mendengar ucapan dari teman kuliahnya.


"Kamu jangan menginginkan yang tidak masuk akal Lis, aku pikir kamu meminta itu untuk menolak para hidung belang yang menginginkan tubuhmu. Secara kamu model, pasti banyak lelaki yang menginginkan cinta satu malam bersamamu."


"Sudah kamu jangan cerewet, kamu cukup jelaskan saja."


Dokter Hasan menghela nafas berat saat mendengar ucapan dari Sulis.


"Kalau sampai di bawa ke dokter Yuda, mau di taro di mana mukamu Lis?"


"Semua itu sudah aku atur."


Setelah mengatakan itu Sulis langsung berbaring lagi, ia langsung memejamkan mata lagi.


Dokter Hasan hanya mendengus kesal, lalu ia langsung keluar dari kamar Sulis sambil membawa tas isi obat-obatanya.


"Bisa kita bicara di ruang keluarga saja?"


Mereka mengangguk pelan, lalu langsung menuruni tangga untuk meceritakan penyakit Sulis.


Setelah di ruang keluarga, dokter Hasan langsung menceritakan semua penyakit Sulis, hingga semuanya menghela nafas berat.


Suci sangat terkejut saat di jelaskan oleh dokter Hasan. Anisa menangis semakin kencang. Berbeda dengan Arkan yang merasa ada sesuatu yang janggal.


Arkan mengenal Sulis bukan 1 tahun 2 tahun, tapi 5 tahun lamanya, kalau penyakit itu adalah kanker lanjut, seharusnya ia sudah tau sejak lama, apa lagi jadwal pemotretan Sulis selalu Arkan tunggu kalau ia memiliki waktu luang, ia tidak pernah memiliki tanda-tanda yang di ceritakan oleh dokter Hasan, itu membuat ia sangat bingung.


"Baik kalau sudah tidak ada yang di tanyakan, saya permisi."


"Terima kasih dok."


Arkan langsung mengantar dokter Hasan sampai pintu rumah itu.


Sedangkan Suci menenangkan Bundanya yang semakin menangis, ia memeluk Bundanya sambil menepuk pelan punggung Bundanya.


"Sudah dong Bun, jangan menangis terus, Uci yakin kakak bisa sembuh Bun."


"Kenapa semua putri-putri Bunda harus memiliki penyakit yang membahayakan nyawa? Hiks... Hiks... Kenapa takdir begitu kejam pada putri-putri Bunda?"


"Istighfar Bun, jangan pernah menyalahkan takdir, semua ini adalah ujian, Uci percaya kakak bisa sembuh. Setiap orang akan memiliki ujian yang berbeda-beda Bun, kita cukup berdo'a pada Allah agar Allah segera mengangkat penyakit kakak, tidak baik kalau kita menyalahkan takdir Bun."


Walau pun Suci kuatir dan ikut menangis, tapi ia tetap mengingatkan Bundanya untuk tidak boleh menyalahkan takdir.

__ADS_1


__ADS_2