
Rangga yang menatap arah Arkan dengan perasaan terkejut, ia bisa melihat Arkan yang tersenyum bahagia sambil menatap kaca mobil yang terletak di tengah, yang menampilkan Suci hanya menunduk.
" Ingat calon istri Arkan."
" Gue jauh lebih ingat, bahkan sangat ingat."
Arkan menjawabnya dengan santai, tanpa mau memberi tahu siapa Suci sebenarnya.
" Bagai mana Uci? Kamu mau'kan? Kalau saja kondisi saya tidak seperti ini, saya juga mau menjadi dosen, itung-itung menjaga kamu, tapi kamu tau sendiri kondisi saya."
Arkan yang bertanya pada Suci, sebenarnya ia merasa aneh dengan perasaannya, yang semudah itu menghilangkan rasa cintanya pada Sulis dan menggantikannya dengan Suci, karena ia mengatakan itu bukan hanya sebatas ucapan, tapi ia ingin benar-benar menjaga Suci dan ia tidak rela kalau ada lelaki lain mendekati Suci.
" Terserah baiknya kaka saja, tapi kaka jangan pernah merendahkan diri kaka, mungkin pisik kaka tidak sempurna, tapi hati kaka bagi Uci sangat sempurna."
Memang bagi Suci hati Arkan sangat sempurna, mengingat dulu Arkan telah menolongnya dan membawanya ke rumah sakit, jelas itu sudah bisa membuktikan kalau Arkan adalah lelaki yang baik. Hati Arkan menghangat, walau pun pujian itu benar dari hati Suci atau hanya dari mulut Suci, tapi tetap saja ia merasa sangat bahagia.
" Suci, lo tau kalau Arkan sudah memiliki calon istri?"
Sebelum Suci menjawab, Arkan lebih dulu menjawab.
" Fokus menyetir, kalau mau bertanya sama Uci pakai bahasa yang sopan."
" Iya elah Arkan, biasanya lo juga pakai bahasa lo gue kalau di luar pekerjaan, kita hanya jam kerja berbicara formal."
" Tapi Suci bukan wanita seperti itu, kalau mau bertanya yang enak di dengar."
Rangga mencibir, ia kesal pada Arkan yang seolah-olah sudah mengenal dekat Suci. Sedangkan Suci hanya tersenyum meringis saat mendengar pembelaan dari Arkan, karena ia dulu juga tidak pernah berbicara sopan pada sahabatnya, ia sopan hanya dengan orang tertentu.
" Saya tau kalau kak Arkan memang sudah memiliki calon istri."
Suci juga tidak ingin mengakui kalau ia calon istrinya, karena Arkan saja yang sahabatnya tidak menjelaskan padanya.
" Iya terus tadi ucapan kamu itu seolah-oleh seperti sedang merayu Arkan? Kalau kamu merayu Arkan, tidak akan mempan, Arkan adalah lelaki kebal di rayu, jangankan wanita-wanita yang tidak kenal, sama Sulis saja yang selalu melengket pada Arkan. Arkan tetap biasa saja, Arkan tidak pernah termakan oleh rayuan-rayuan wanita."
Suci sangat terkejut saat mendengar nama Sulis, apa kakanya itu sudah sejauh itu berpacaran? Suci pikir kakanya hanya pacaran dengan pegangan tangan pada umumnya, tapi ternyata tidak, itu membuat Suci sedikit bingung, kenapa kakanya tega membuang Arkan? Kalau dulu kakanya selalu melengket pada Arkan? Arkan yang mendengar ocehan dari sahabatnya, ia sangat malu, ia takut kalau Suci berpikir yang berlebihan.
" Uci, jangan dengarin ucapan dari sahabat saya, kita hanya pacaran biasa saja dulu, jangan di masukin ke hati."
__ADS_1
" Tidak apa-apa kak, setiap orang punya masa lalu, termasuk Uci juga punya masa lalu."
" Kamu pernah memiliki kekasih?"
Suci menggeleng pelan, ia memang tidak pernah pacaran, tapi ia selalu memeluk lelaki yang bernama Indra, lelaki yang selalu mendengar keluh kesah ia saat Ayahnya meninggal. Arkan hanya tersenyum saat melihat jawaban dari Suci.
" Cukup saya yang jadikan kekasih halalmu Uci, saya sangat senang dan bangga memilikimu."
Mata Suci mulai memanas, sejenak ia melupakan Gus Ali, lelaki yang ia tangisi hingga membuat hampir kecelakaan karena terus memikirkannya. Kini Suci fokus dengan ucapan Arkan, hatinya bertanya-tanya dan merasa bersalah, ia merasa menjadi wanita paling jahat sekarang.
" Apa kaka masih tetap bangga setelah tau masa laluku? Apa kaka akan tetap bangga kalau di hatiku bukan namanya?" batin Suci
Arkan yang melihat Suci tidak ada respon ia tersenyum kecewa.
" Apa ucapanku ini salah? Setauku tidak ada yang salah?" batin Arkan
Sedangkan Rangga sudah ingin menoyor kepala sahabatnya yang dari tadi terus saja menggoda Suci, ia sudah berkali-kali untuk mengingatkan calon istrinya, bahkan ia juga memanggil nama Sulis, tapi ucapan sahabatnya itu semakin menjadi-jadi
" Jangan gila Arkan, lo mau nambah koleksi calon istri? Atau jangan-jangan setelah kecelakan otak lo ikut geser juga? Bukan hanya kaki lo yang terluka?"
" Sembarangan lo!"
Arkan menggeleng pelan, matanya masih menatap ke arah Suci yang masih menunduk.
" Uci, jangan teralu di pikirkan ucapan saya, pasti kamu belum terbiasa dengan ucapan saya?"
" Tidak kak, kita berdua memang akan menjadi kekasih halal."
Arkan tersenyum saat mendengar jawaban dari Suci, entah kenapa walau pun hanya ucapan seperti itu ia sangat senang. Arkan memalingkan wajahnya ke belakang.
" Uci, sini saya liat surat pindah kamu, nanti saya yang akan mengurusnya."
Suci mengambil surat pindah di tasnya, ia langsung memberikannya pada Arkan.
" Ini kak."
Arkan langsung mengambil maf yang di berikan Suci. Arkan melihat nama jelas Suci yang tertera di sana.
__ADS_1
" Kamu bisa masuk kuliah setelah menikah."
" Iya kak."
Setelah mengatakan itu Arkan meletakan maf di sisinya, kini hanya menatap jalanan sambil diam, percakapannya merasa habis, karena dulu saat menjalin hubungan bersama Sulis, hanya Sulis yang banyak mengoceh, tapi berbeda dengan Suci. Suci dari tadi hanya menjawab pertanyaannya saja.
" Kaka tadi mau kemana iya? Uci jadi lupa nanya."
" Saya tadi akan meeting."
" Maaf iya kak, karena Uci kaka harus menunda meetingnya."
" Calon istri lebih berharga Uci dari pada meeting, kalau meeting bisa kapan saja, tapi kalau melihat kamu terluka, jujur hati saya tidak rela Uci."
Setiap kata yang di ucapkan Arkan mampu membuat perasaannya menghangat.
"Apa kak Arkan semudah itu melupakan kak Sulis? Atau kak Arkan memang belajar terbiasa dangan kehadiranku? Mengingat mereka berdua berpacaran sudah 2 tahun, tentu bukan waktu yang sebentar." batin Suci
" Uci."
" Iya kak."
" Saya berharap kamu tidak pernah menyesal dengan keputusan yang kamu ambil, terima kasih sudah mau menjadi semangat dalam hidup saya, jujur saja saya merasa sangat beruntung, mengingat saya hanyalah lelaki biasa, tapi kamu memilih saya untuk menjadi imammu."
" Uci tidak pernah menyesal kak, Uci percaya kalau kaka adalah jodoh Uci yang tertulus di Lauhul Mahfudz."
Arkan lagi-lagi tersenyum, entah sudah berapa kali ia tersenyum setiap kali mendengar jawaban dari Suci, memang menurut Arkan jawaban Suci terlihat biasa, tapi jawaban Suci mampu membuat hati kecil ia juga ikut tersentuh, ia juga tidak tau kenapa semudah itu membuka hati untuk Suci.
" So tau kamu! Pakai acara ngomongin tentang jodoh segala, ingat Arkan itu calon laki orang! Oh iya kamu ngapain ke rumah Sulis?"
Jujur saja Rangga tidak suka dengan ucapan Suci yang terdengar sedang merayu Arkan.
" Jangan bilang begitu Rangga! Gue malu punya sahabat seperti lo!"
Jujur saja ucapan Rangga membuat Arkan malu pada Suci.
" Mau pulang kak."
__ADS_1
" Memang kamu siapanya Sulis?"
" Uci adiknya kak Sulis."