
Suci tersenyum saat suaminya terus menggenggam tangannya, walau pun tangannya masih di infus, tapi ia merasa sangat tenang dan bahkan begitu tenang, ia memang tidak pernah memikirkan kondisi diri sendiri, tapi sekarang ada janin yang harus ia jaga sekarang.
Arkan menggeleng pelan saat melihat istrinya terus saja tersenyum, walau pun istrinya masih memakai cadar, tapi ia bisa melihat dengan jelas senyuman dari istrinya.
"Jangan terus tersenyum sayang, mas itu sangat kuatir sama kamu, tapi kamu bisa-bisanya masih bisa tersenyum."
"Terus harus bagai mana dong mas? Aku harus nangis-nangis? Yang ada nanti Bunda tambah kuatir, sudah cukup Bunda menghuatirkan kakak, jangan biarkan Bunda mengkuatirkan aku lagi."
Arkan tersenyum, ia langsung berdiri lalu mencium kening istrinya cukup lama.
"Apa ada sesuatu yang sakit?"
"Tidak ada mas, aku baik-baik saja, aku ingin melihat keadaan kakak mas."
"Iya nanti sayang, setengah jam lagi, setelah infusnya habis."
Suci mengangguk pelan, ia sebenarnya ingin menangis setiap kali mengingat keadaan kakaknya, tapi ia tidak boleh cengeng untuk saat ini, ia harus tetap tegar karena harus menjaga janin yang ada di dalam kandungannya.
Apa lagi Suci tau kandungannya sangat lemah, jadi ia berusaha tetap tenang agar janinnya baik-baik saja.
Tiba-tiba Anisa masuk ke ruangan rawat putri ke duanya, ia tidak pernah menyangka kalau akan mendapat ujian yang sangat berat, ke dua putrinya harus masuk ke dalam rumah sakit dengan cara bersamaan.
Arkan yang melihat ibu mertuanya masuk, ia melepaskan tangan istrinya, lalu langsung bergeser ke arah samping.
"Bagai mana nak? Apa tubuhmu sudah mulai lebih enak? Atau masih merasakan sakit?"
Anisa bertanya sambil mengelus lembut kepala putri ke duanya, matanya sudah bengkak karena terus saja menangis.
Suci langsung mengambil tangan Bundanya yang sedang mengelus kepalanya.
"Uci sudah baik-baik saja Bunda. Bunda jangan terlalu kuatir tentang Uci, bagai mana dengan keadaan kakak? Apa kakak sudah sadar?"
"Sudah nak, kamu jangan terlalu kuatir, pikirkan saja kondisimu dan berdo'a agar kakakmu bisa segera sembuh tanpa harus menjalankan oprasi."
__ADS_1
"Itu sudah pasti Bunda, Uci selalu berdo'a agar kita semua di mudahkan menjalakan ujian, dan bisa menerima ujian yang memang cukup besar untuk kita. Uci percaya kalau di balik semua ujia akan di gantikan dengan kebahagiaan."
Suci berbicara sambil mengelus lumbut tangan Bundanya memakai tangan kirinya, sedangkan tangan kananya untuk mencekal tangan Bundanya.
"Iya sudah Bunda tidak bisa lama-lama, Bunda harus menemani kakak kamu, tidak apa-apa'kan Bunda tinggal?"
"Tidak apa-apa Bunda, masih ada mas Arkan yang selalu setia menemani Uci."
Anisa mengangguk pelan, lalu ia langsung keluar dari ruangan itu dengan hati yang sedikit tenang, melihat putri ke duanya baik-baik saja, di tambah lagi saat melihat menantunya yang terus saja di samping putri ke duanya ia jauh sangat tenang meninggalkan putri ke duanya untuk menemani putri pertamanya.
Namen dalam hidup Anisa tidak pernah menyangka kalau anugrah yang Allah berikan untuk putri ke duanya begitu sangat besar. Dari memiliki suami yang sangat begitu sempurna dan sekarang putri ke duanya sedang mengandung, tapi tetap saja rumah tangga mereka masih harus di uji karena putri ke duanya harus memiliki penyakit yang sangat membahayakan nyawanya.
Anisa masuk ke ruangan rawat putri pertamanya, ia langsung duduk di samping putri pertamanya.
"Nak, apa kamu baik-baik saja?"
"Sulis sudah jauh lebih baik Bunda, memang Bunda habis dari mana?"
"Habis melihat keadaan adikmu nak."
"Darahnya sangat rendah, dan kandunganya juga sangat lemah."
"Adek hamil Bunda?"
Memang hanya Sulis yang tidak tau Suci hamil, Anisa mau pun Rendra tidak memberitahukan kalau Suci hamil, karena mereka pikir Sulis sudah mengetahui dari Suci atau Arkan langsung.
Anisa yang mendengar pertanyaan dari putri pertamanya ia sangat terkejut.
"Memang kamu tidak tau nak?"
"Tidak Bunda."
"Kehamilan adikmu baru memasuki kehamilan 3 Minggu."
__ADS_1
"Lalu keadaan ke duanya bagai mana Bunda?"
"Alhamdulilah mereka baik-baik saja nak."
"Huh, syukur kalau seperti itu."
Sulis mengucapkan syukur hanya di mulut berbeda dengan hatinya yang sangat kesal, ia kesal karena Suci sudah hamil, di tambah lagi kehamilannya baik-baik saja.
"Kenapa Suci masih bisa hamil di saat sudah darah rendah? Kenapa janinnya masih selamat? Kenapa janinnya tidak mati saja, aku benci sama Suci yang terus saja bernasib baik, kalau perlu sekalian ibunya juga mati, untuk apa mereka selalu hidup hanya membuat kebencianku bertambah. Suci, sebelumnya aku tidak pernah membencimu, tapi kenapa sekarang aku membencimu? Memang aku tidak benci pada orangnya, aku benci kalau nasibmu itu dari dulu selalu beruntung.
Walau pun kamu hamil, aku akan tetap merebut Arkan, tidak peduli bagai mana pun caranya, kalau tidak bisa merebut Arkan darimu, tidak apa-apa kalau aku akan menjadi istri ke duanya, aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa bersama Arkan." batin Sulis
Kehamilan adiknya tidak berarti apa-apa buat Sulis, tidak membuat Sulis berhenti untuk berpikir memiliki Arkan, ia tetap pada pendirian awalnya, ia akan tetap memperjuangkan cintanya, tidak peduli walau pun adiknya hamil.
Anisa memutuskan untuk membicarakan tentang oprasi yang di katakan oleh dokter, ia ingin kalau putri pertamanya di oprasi.
"Nak, bagai mana kalau kita melakukan oprasi untuk mengangkat penyakit di tubuhmu? Bunda tau ini memang sangat berat untuk kamu, tapi kalau tidak di lakukan oprasi, penyakitmu akan bertambah parah nak, Bunda takut, Bunda tidak mau kehilangan kamu."
Sulis menghela nafas berat, ia menjadi merasa bersalah karena telah membohongi sang Bunda tentang penyakitnya, tapi ini adalah cara satu-satunya agar ia bisa mendapatkan Arkan, tidak peduli walau pun menjadi istri ke dua.
"Maafkan Sulis Bunda, Sulis mengecewakanmu untuk yang ke dua kalinya ingin merusak rumah tangga adek. Sulis tidak mau melepaskan Arkan, Sulis akan memperjuangkan cinta Sulis pada Arkan, sekali lagi maaf Bunda. Sulis juga sebenarnya tidak ingin merusak rumah tangga adek yang sangat bahagia, tapi cinta Sulis pada Arkan semakin besar." batin Sulis
Anisa yang tidak mendapat respon dari putri pertamanya, ia berbicara lagi untuk yang ke dua kalinya.
"Bagai mana kalau kita melakukan oprasi saja nak?"
Sulis sadar dari lamunannya saat Bundanya bertanya tentang oprasi lagi.
"Sulis takut Bunda, Sulis takut kalau tidak berhasil bagai mana? Kalau oprasinya gagal dan Sulis meninggal bagai mana?"
Sulis berbicara dengan mata yang berpura-pura berkaca-kaca. Anisa yang melihat putri pertamanya sudah mau menangis, ia langsung berdiri dari duduknya, lalu langsung memeluk putri pertamanya sambil mengelus pelan punggungnya.
"Kita serahkan semuanya pada Allah nak, Bunda juga takut hal itu terjadi, tapi Bunda juga tidak ingin melihat kamu sakit-sakitan terus nanti, apa lagi kamu menyukai profesimu yang sebagai model, Bunda tidak ingin kamu melepaskan karirmu karena penyakit seperti ini, apa lagi dari dulu cita-citamu menjadi model."
__ADS_1
"Sulis tidak ingin di operasi Bunda."