
Pagi harinya Suci seperti hari kemarin, ia memasak untuk sarapan, walau pun matanya sembab karena semalaman ia menangis, terlebih saat subuh suaminya tidak sholat subuh bersama, ia juga subuh mengetuk pintu ruangan kerja suaminya, tapi lagi-lagi nihil, tidak ada jawaban sama sekali dari suaminya.
Suci memasak sarapan dengan menu berbeda, ia hanya masak tiga menu lauk dan tiga menu sayur. Setelah selsai ia juga kembali masuk ke dalam kamar.
Suci melihat suaminya yang sudah rapih dengan setelan jasnya, jelas-jelas sekarang baru saja menujukan pukul 07.30WIB, kemarin saja suaminya itu selsai mandi pukul 08.00WIB, ia mendekati suaminya perlahan untuk minta maaf, tapi apa yang ia lihat, tangan kanan suaminya itu terluka, ia langsung berdiri dengan melipat lututnya untuk mesejajarkan dengan suaminya.
" Ya Allah mas, kenapa bisa sampai seperti ini?"
Suci langsung memegang tangan kanan suaminya dengan ke dua tangannya, ia mengamati luka tangan suaminya dengan mata yang sudah memerah akan menangis.
Arkan hanya diam, ia menatap mata istrinya yang sudah memerah seperti akan menangis, bahkan ia bisa melihat mata istrinya sebab, ia yakin kalau istrinya menangis semalaman.
" Kenapa menjadi seperti ini Uci? Maafin mas tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu." batin Arkan
" Mas, di obatin dulu iya."
Arkan yang melihat istrinya berdiri, ia langsung memegang tangan istrinya.
" Tidak apa-apa, mas baik-baik saja Uci."
" Tapi mas."
Arkan menggeleng pelan, menandakan tangannya itu tidak perlu di obati. Suci yang melihat itu, air matanya langsung mengalir deras, ia yakin kalau semalam suaminya itu tidak tidur dan memikirkan sesuatu, ia bisa melihat kantong mata yang menghitam dan penuh dengan kekecewaan, terlebih sekarang tangan suaminya terluka, ia yakin semalam pikiran suaminya tidak baik-baik saja, ia yakin suaminya melukai tangannya entah memukul apa pun itu.
Suci berdiri, nafasnya tidak beraturan karena hatinya sangat sakit melihat suaminya seperti ini.
" Kalau mas marah jangan diam, mas boleh hina masa laluku, mas boleh pukul aku sesuka hati mas, tapi jangan pernah sesekali mas lukai tangan mas karena masa laluku, aku tidak pernah ridho kalau suamiku melampiaskan kemarahanya menyakiti dirinya sendiri, tolong jangan lakukan itu lagi mas, hati aku sangat sakit."
Air mata Suci semakin deras, ia memukul dadanya sendiri, karena merasa sakit. Arkan yang melihat istrinya memukul dadanya sendiri, ia langsung memegang tangan istrinya.
" Jangan pernah memukul dadamu Uci, hati mas sakit, dan jangan pernah menangis, mas tidak rela melihat kamu menangis seperti ini."
__ADS_1
" Tapi mas yang sudah buat aku menangis. Tolong mas jangan pernah menghindariku, aku sudah cukup terpuruk dengan masa laluku, andai mas tau, kalau saja bunuh diri itu tidak dosa, mungkin aku sudah melakukannya mas, aku tau mas benci masa laluku, tapi aku harus melakukan apa agar mas menerimaku? Hanya satu hal yang tidak bisa aku berikan, aku tidak akan pernah mau bercerai sama mas, itu adalah syarat yang aku berikan pada mas, sebelum kita menikah."
" Uci, jujur sama mas, apa kamu bahagia hidup sama mas? Apa kamu menikah tidak untuk balas budi?"
Suci menggeleng pelan, bukan'kah ia sudah menjelaskan kalau ia menikah itu karena ia percaya kalau suaminya itu jodohnya? Suci langsung melipat lututnya di depan suaminya, sedangkan tangan kanannya, masih di pegang oleh suaminya.
" Mas, apa mas pernah melihat aku bersedih saat aku masuk ke rumah ini? Bukan'kah aku malam kemarin hanya menangis bahagia? Apa masih kurang cukup bukti itu mas? Dari awal aku percaya kalau mas jodoh aku, aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu mas, hanya satu yang aku takutkan, kalau mas tidak pernah mau menerima masa laluku."
Arkan melepaskan tangan istrinya, ia menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya.
" Maafkan mas. Mas sudah salah paham sama kamu, mas sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu, mas menerima masa lalu kamu, itu hanya masa lalu Uci, bahkan sebelum kecelakaan mas masih terjun bebas ke dunia malam, mas bukan orang baik-baik Uci, tapi bahkan mas bangga karena kamu bisa membuat mas belajar untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar, mas bangga memilikimu Uci. Sekali lagi mas minta maaf."
" Tidak apa-apa mas, itu artinya kita memang memiliki masa lalu yang sama. Mas, mulai dari sekarang, aku ingin mas terbuka dengan masalah yang ada di pikiran mas, dan aku juga akan seperti itu, karena hidup berumah tangga yang paling utama ada keterbukaan, agar satu sama lain bisa saling percaya."
Arkan mengangguk pelan sambil tersenyum, lalu ia menarik istrinya dalam pelukannya, sambil sesekali ia cium kening istrinya.
" Mas, harus janji, jangan menyakiti diri mas lagi, kalau ada masalah bilang sama aku, kalau ada sikapku yang tidak di sukai mas, mas harus menegurku, aku tidak mau kejadian ini terulang lagi mas."
" Sudah dong Uci, jangan menangis terus, mata kamu sudah sembab."
Suci hanya mengangguk pelan, ia bahkan mengeratkan pelukannya, pelukan yang membuat kemarin malam tidur nyenyak, biasanya ia tidur tidak pernah senyenyak itu semejak Ayahnya menunggal, ia selalu terbangun berkali-kali, tapi saat tidur di pelukan suaminya, ia mampu tidur berjam-jam.
" Mas, boleh aku sebentar lagi melepaskan pelukannya? Atau mas sedang buru-buru ke kantor?"
" Tidak, kamu boleh memeluk mas sepuasmu."
Suci tersenyum sambil memeluk suaminya. Sebenarnya Arkan memang ada meeting dengan Tajima Grup, tapi bagi ia istrinya adalah harta yang paling berharga. Tiba-tiba saja perut Suci bunyi nyaring menandakan ia lapar
Kryuk...
Suci tersenyum meringis sambil menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik suaminya, ia malu perutnya berbunyi. Sedangkan Arkan hanya menggeleng pelan melihat kelakuan istrinya.
__ADS_1
" Kamu belum makan dari semalam iya Uci?"
" Iya mas, jadi pagi-pagi sudah minta di isi."
" Iya sudah ayo sarapan."
Suci langsung melepaskan pelukannya, ia menatap mata suaminya sambil menghapus sisa air mata.
" Tapi mas harus mau di obatin dulu lukanya."
" Makan lebih penting Uci, mas tidak apa-apa."
" Tidak mau pakonnya harus."
" Iya sudah iya."
Suci tersenyum, ia langsung berjalan mengambil kotak 3K setelah itu, ia langsung mengobati luka suaminya sambil sesekali ia tiup. Arkan terus tersenyum melihat perlakuan manis dari istrinya.
Arkan mengerutkan keningnya saat melihat istrinya akan meperban luka di tangannya.
" Uci, jangan aneh-aneh, masa luka kecil seperti itu mau kamu perban."
" Harus dong mas, jangan anggap lukanya kecil."
" Tapi pakai tiga hansaplast juga cukup Uci, kalau kamu perban yang ada mas tidak bisa bekerja."
" Iya mas."
Suci hanya menuruti perintah dari suaminya, ia memasangkan tiga hansaplast di tangan suaminya.
" begini lebih baik."
__ADS_1
Suci hanya tersenyum lebar, ia belum pernah mengobati luka hingga usianya 19 tahun, kalau pun ia terluka, maka yang mengobati Bundanya, saat di pesantren, Karinah dan Lia yang mengobatinya.