
Setelah kepergian Erlanggan ke kamar, Bagas merasa bersalah pada istrinya dan putra tirinya, ia selama ini menyuruh orang untuk mengawasi putra tirinya, tapi teragedi kecelakaan itu ia tidak tau apa-apa, bahkan orang suruhannya juga bilang kalau itu murni kecelakaan.
" Sayang, papa minta maaf, karena ternyata orang suruhan papa lalai, mereka hanya bilang kalau Arkan murni kecelakaan."
" Tidak apa-apa pa, lagian Arkan juga tidak kenapa-kenapa, jadi jangan menyalahkan diri papa seperti itu."
Arkan yang melihat papa tirinya tidak enak hati, ia langsung tersenyum.
" Sudahlah pa, Arkan tidak apa-apa, lagian juga Arkan bahagia ko sekarang, karena berkat kecelakaan, Arkan bisa menikahi Gadis yang Arkan cintai."
Arkan memang sangat senang atas kejadian kecelakaan, ia jadi bisa menikahi Gadis yang ia cintai selama ini.
" Iya nak."
" Sayang ke kamar yuk."
" Iya mas, ma pa, Uci sama mas Arkan ke kamar dulu."
" Iya sayang."
Bagas hanya mengangguk pelan. Suci langsung membantu suaminya pindah ke kursi roda, lalu ia mendorong suaminya masuk ke life. Mereka berdua sampai di kamar.
" Mas mau ngapain?"
" Mas mau tiduran sayang."
Suci membantu suaminya untuk pindah ke atas ranjang. Tiba-tiba saja pintu kamarnya ada yang mengetuk.
Tok-tok
" Bentar iya mas."
Arkan mengangguk pelan. Suci langsung membuka pintu kamarnya, menampilkan bi Ira yang sedang menenteng dua paper bag besar
" Ada apa iya bi?"
" Ini dari non Sinta, katanya di suruh den Arkan."
Bi Ira memberikan dua paper bag itu pada Suci. Suci langsung mengambil paper bag yang di serahkan oleh Bi Ira.
" Terima kasih bi."
" Sama-sama non, kalau begitu bibi permisi dulu."
Suci mengangguk pelan, ia langsung menutup kembali pintu kamarnya.
" Mas, katanya ini dari Sinta di suruh mas."
__ADS_1
Suci meletakan paper bag itu atas meja panjang.
" Itu untuk kamu sayang."
" Untuk aku?"
" Iya sayang."
Suci penasaran apa isi dari papar bag itu, saat membukanya ia sangat terkejut dan beristighfar.
" Astagfirullah!"
Arkan tersenyum lebar saat istrinya yang beristighfar dengan suara lantang karena sangat terkejut, selama ini istrinya selalu dengan suara pelan dan lembut, beda dengan sekarang, mungkin karena terkejut.
" Itu bukan hantu sayang, tidak perlu terkejut begitu."
Suci mengambil baju di paper bag dengan ke dua tangannya yang menjembereng baju.
" Mas apa-apaan beliin aku lingeri?"
Walau pun lingeri itu tebal seperti baju, tapi tetap saja lekuk tubuhnya itu sangat terlihat, memang panjangnya sampai sepaha dan yang terlihat tipis hanya di bagian pahanya saja, sedangkan yang lainnya tebal, tapi tetap saja atasnya Itu hanya memakai tali di bahunya yang mudah di tarik saja langsung jatuh.
" Ada luarannya ko itu sayang, luarannya bajunya panjang dan sampai selutut."
Suci menghela nafas berat, ia memeriksa lagi, ternyata benar, tapi tetap saja ia tidak nyaman memakai seperti itu, bahkan tidak tanggung-tanggung suaminya itu sampai beli 8 setel. Kini Suci beralih ke papar bag satunya lagi, memang tidak seperti tadi, yang sekarang baju tidur dress menampilkan setengah dadanya, panjangnya setengah paha saja.
Suci mengusap wajahnya dengan kasar sambil beristighfar.
" Cuma untuk malam saja sayang, lagian di kamar, cuma mas yang liat lekuk tubuhmu."
" Baiklah mas terima kasih."
Suci mengakhiri obrolan lingeri dan dress tidurnya dengan ucapan terima kasih, ia tidak ingin membuat suaminya kecewa, memang setelah ia masuk pesantren, ia tidak memiliki baju tidur yang seksi, ia hanya memiliki baju tidur dress muslimah dan baju tidur lengan panjang sama celananya panjang.
" Sama-sama sayang."
Suci langsung membuka cadarnya, lalu membuka hijabnya. Setelah itu ia juga naik ke atas ranjang.
" Mas mau tidur siang?"
Arkan mengangguk pelan, ia langsung menumpuk dua bantal untuk istrinya. Suci tersenyum saat melihat itu, ia bahagia suaminya itu selalu perhatian.
" Tidurlah sayang."
Suci menganguk pelan, ia langsung merebahkan tubuhnya. Arkan langsung memeluk istrinya, ia mencium kening istrinya sekilas.
" Mas, siang-siang peluk-pelukan terus."
__ADS_1
" Yang penting sudah halal sayang, jadi bebas mau ngapain juga."
Suci mengangguk pelan. Arkan melepaskan pelukannya, ia mengelus lembut pipi kanan istrinya.
" Bagai mana dengan hari ini? Apa seduh lebih baik perasaannya dari pada kemarin?"
" Iya mas jauh lebih baik."
" Bagai mana kalau kita menunda kehamilanmu dulu sampai 1 tahun?"
Sebenarnya Arkan tidak ingin berbicara seperti itu, tapi ucapan dokter Rina membuat ia terus kepikiran, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya.
" Kenapa mas? Mas belum siap?"
Suci bertanya dengan raut wajah kecewa, bukan'kah kemarin suaminya itu bilang ingin memiliki anak, karena usianya sudah tidak muda lagi, tapi hari ini suaminya sudah berubah pikiran.
" Iya maaf sayang."
Arkan tidak mungkin mengatakan alasannya, ia takut istrinya nanti sedih, cukup kemarin membuat hati istrinya terluka, ia tidak ingin lagi hati istrinya terluka, terlebih istrinya sudah sering memiliki darah rendah dari 4 tahun yang lalu, ia juga tidak ingin istrinya tetap ingin hamil kalau sampai tau alasannya, ia tidak ingin istrinya mengambil resiko yang besar.
Suci menggeleng pelan, sekedar untuk bicara saja mulutnya tidak bisa, setelah mendengar jawaban dari suaminya. Arkan bisa melihat raut wajah istrinya, membuat ia menghela nafas berat.
" Sayang, jangan sedih seperti itu, ini hanya 1 tahun saja."
" Kenapa mas belum siap? Apa mas memiliki keraguan dengan pernikahan kita? Apa mas memiliki sesuatu yang tidak bisa mas jelaskan?"
" Mas tidak pernah ragu dengan pernikahan kita sayang, tapi mas takut dengan kondisimu seperti ini, mas takut ada resiko yang besar di depan sana, mas tidak mau itu terjadi sayang."
" Mas, kondisi apa? Aku ini hanya darah rendah mas, jangan di besar-besarkan, aku baik-baik saja, lagian anak itu rejeki mas, bukan sebuah beban, mas harus percaya sepenuhnya pada Allah, karena sebaik-baiknya rencana manusia, lebih baik rencana Allah, dan seindah-indahnya rencana manusia, lebih indah rencana Allah. Hidup kita sudah di kasih batasan hingga usia berapa saat kita masih dalam kandungan, jadi mas jangan pernah meragukan itu, kita sebagai manusia hanya berusaha untuk yang terbaik, tapi selebihnya harus kita serahkan pada Allah, karena rencana Allah itu sangat indah."
Arkan mengangguk pelan, walau pun ada ketakutan tersendiri, tapi lagi-lagi ucapan istrinya ini selalu membuat ia lebih tenang.
" Maafkan mas, mas terlalu kuatir."
Suci tersenyum sambil mengangguk pelan.
" Jangan pernah kuatir dalam hal apa pun mas, cukup berserah diri pada Allah."
Suci mengusap lembut pipi kanan suaminya.
" Jangan pernah memikirkan hal yang belum pasti mas, lebih baik kita pikirkan masa depan kita, menjadi keluarga kecil yang bahagia."
Arkan lagi-lagi menganguk pelan, ucapan istrinya itu selalu penuh dengan nasehat, membuat ia selalu saja memiliki ketenangan.
" Mas harus ingat, seberat apa pun ujian kita nanti di depan sana, yang utama kita harus memiliki iman, agar kita tidak salah langkah, karena hanya memiliki iman yang membuat kita bisa menyelsaikan segalanya."
" Iya sayang."
__ADS_1