
Saat kemarin Arkan dan istrinya datang ke rumah Bundanya. Pagi ini Suci sedang sibuk menyiram perkebunan yang ada buah-buahan dan sayuran sambil tersenyum lebar.
Arkan yang sedang duduk di bangku perkebunan sambil melihat istrinya juga ikut tersenyum lebar, walau pun istrinya memakai cadar, ia bisa melihat senyuman lebar dari istrinya.
"Ternyata hanya melihat tanaman saja Suci bisa bahagia." batin Arkan
Setelah lama melihat istrinya menyiram tanaman, Arkan langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang, dan tangan kanannya mengambil selang yang di pegang oleh istrinya.
"Biar mas yang melakukannya."
"Tidak usah mas, mana ada CEO dari Wijaya Grup menyiram tanaman."
Setelah mengatakan itu Suci terkeheh kecil sambil meraih kembali selang yang di pegang suaminya, tapi suaminya tidak memberikan selang itu.
"Tidak usah sayang, lagian siapa yang CEO Wijaya Grup? Bukan'kah itu milik sayang? Bukan milik mas."
Suci mengangguk pelan, tangan kirinya memegang tangan kiri suaminya yang melingkar di perutnya.
Arkan menyiram tanaman sambil sesekali melihat mata istrinya yang melihat ke atas, melihat buah-buahan.
"Mas, aku ingin buah sirsak yang itu."
Tangan kanan Suci menujuk buah sirsak yang ada di hampir ke pujuk.
Arkan melihat buah sirsak yang di tujuk oleh istrinya, ia menghela nafas berat.
"Yang pendek juga ada sayang, jangan aneh-aneh."
"Tapi aku ingin yang itu mas."
"Sebentar sayang, mas ngambil galah dulu."
Arkan langsung mematikan selangnya, ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya.
Suci lengsung melihat wajah suaminya
"Tapi aku inginya mas yang naik, bukan di ambil pakai galah mas."
Arkan menggeleng pelan saat mendengar tingkah aneh dari istrinya, seumur hidupnya ia belum pernah naik pohon.
"Iya sudah sebentar sayang."
"Mas yakin bisa?"
Suci menatap wajah suaminya yang terlihat ragu.
"Insya Allah sayang, apa sih yang tidak buat dede."
__ADS_1
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum. Arkan langsung membaca bismillah untuk meyakinkan diri, lalu baru naik ke atas pohon, tanpa memakai tangga, ia tidak mau kalau istrinya nanti protes seperti tadi.
Suci melihat suaminya dengan wajah was-was sambil mengelus lembut perut ratanya.
Arkan terus naik hingga sampai di hampir pucuk.
"1 atau 2 sayang?!"
"1 mas."
"Iya sayang!"
Arkan langsung memetik satu buah sirsak yang di tunjuk oleh istrinya.
Sedangkan Sulis yang melihat kemesraan Arkan dan adiknya langsung mengepalkan tangan kanannya, ia sangat tidak suka.
Apa lagi saat makan malam Sulis harus melihat kemesraan Arkan pada adiknya yang menyuapi adiknya makan, tapi yang membuat ia lebih cemburu saat Arkan mengusap lembut bibir adiknya yang tidak menggunakan tisu, lalu Arkan baru mengelap tangannya pakai tisu, ia sangat membenci perhatian Arkan yang begitu sangat tulus, dulu saat ia menjadi kekasih Arkan, ia tidak pernah di perlakukan lembut serti itu, Arkan hanya mengusapnya memakai tisu, tidak pernah mengganukan ibu jari langsung.
"Kenapa harus aku yang tersiksa sendiri sekarang? Kenapa mereka berdua selalu bahagia?"
Sulis berbicara dengan lirih, tidak sadar kalau ucapannya di dengar oleh kakeknya.
Rendra memang sengaja masuk ke kamar cucunya tanpa mengetuk pintu, ia pikir cucunya masih tidur, jadi ia mau membangunkan cucunya untuk memberi perhatian lebih.
Rendra sadar kalau perlakuannya selama ini membuat cucu tertuanya begitu membenci Suci, karena perlakuan ia yang tidak adil, tapi apa yang ia lihat, bahkan ia melihat kemarahan cucunya sambil melihat ke arah Arkan dan Suci.
Rendra tersenyum lebar saat pandangan matanya melihat ke arah Arkan yang sedang turun dari pohon sirsak dengan tangan kirinya memegang buah sirsak.
"Semoga selalu bahagia terus nak Arkan dan Uci. Semoga Arkan tetap menjadi suami yang baik dan calon Ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Amin." batin Rendra
Rendra mendekati cucunya, setelah sampai di samping cucunya, ia menepuk pelan punggung cucunya.
"Karena kamu lebih besar rasa iri dari pada rasa syukur, jadi kamu tidak merasakan bahagia."
Sulis melihat ke arah samping.
"Kakek, sejak kapan kakek di sini?"
"Sebelum kamu berbicara juga kakek sudah ada di sini nak, tadi kakek mau bangunin kamu, tapi ternyata kamu sudah bangun. Apa hari ini pergi bekerja?"
Sulis menggeleng pelan.
"Tidak kek, kemarin libur, sedangan hari ini dan besok Sulis mengambil cuti."
"Mau jalan-jalan kemana memang? Kakek siap menemanimu pergi kalau tidak keberatan."
Rendra berbicara sambil tersenyum lebar, ia harap perhatian yang ia berikan tidak lagi membenci Suci.
__ADS_1
"Aku mau kesalon perawatan kek, memang kakek mau temanin Sulis?"
"Kalau kamu mau kakek akan temani kamu, iya sudah kamu mandi, kakek tunggu di bawah."
"Siap kek."
Sulis berbicara sambil mengangkat tangannya ke kepala, layaknya sedang hormat pada kakeknya, lalu ia langsung lari ke kamar mandi.
Rendra yang melihat itu hanya tersenyum, tadi ia bisa melihat wajah senang cucunya, lalu ia langsung keluar dari kamar cucunya.
Arkan sampai di bawah, ia langsung mendekati istrinya sambil membawa buah sirsak.
"Ayo masuk ke rumah sayang."
Suci mengangguk pelan. Tangan kiri Arkan langsung merangkul pinggang istrinya, sedangkan tangan kanannya membawa buah sirsak. Arkan dan istrinya sampai di dapur.
"Sayang mau di makan sekarang?"
"Iya mas, aku juga sudah sarapan tadi."
Arkan mengangguk pelan, ia langsung mencuci buah sirsaknya. Setelah selsai buah sirsaknya langsung di lap, lalu langsung ia potong-potong.
Setelah di potong-potong Arkan meletakanya di piring, dan mengambil satu piring lagi untuk tempat biji.
"Mau makan di mana sayang?"
"Samping kolam renang mas."
Arkan mengangguk pelan, ia mengikuti istrinya yang berjalan lebih dulu. Arkan dan istrinya duduk di samping kolam renang.
Arkan langsung membuka cadar istrinya, lalu langsung menyuapi istrinya.
"Mas hebat deh, bisa manjat pohon ternyata, walau pun wajah mas tidak meyakinkan kalau mas bisa manjat pohon."
Suci mengacungkan 2 jempolnya pada suaminya.
Arkan tersenyum lebar saat menerima pujian dari istrinya, tidak tau apa kalau ia tadi sangat takut saat naik pohon, lebih takut lagi saat turun dari pohon yang hanya memegang pohon dengan satu tangan, karena tangan kirinya harus memegang buah sirsak.
"Terus kalau mas hebat, mas di kasih bonus apa dong sayang?"
Suci langsung mencium bibir suaminya sekilas.
Arkan yang mendapat ciuman dari istrinya tersenyum lebar.
Sedangkan di sisi lain bi Minah yang sedang ngelap-ngelap kaca, ia tidak sengaja melihat adegan itu, membuat ia tersenyum.
Bi Minah tidak menyangka kalau majikan mudanya memang benar-benar mudah mencintai suaminya, bahkan ia juga tau kalau majikan mudanya sedang hamil.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau non Suci mudah mencintai suaminya, bahkan di usianya yang baru hampir 4 bulan non Suci sudah hamil. Semoga selalu bahagia iya non Suci." batin bi Minah
Bi Minah memang sangat senang melihat majikan mudanya bahagia, ia juga ikut bahagia.