
Setelah 9 bulan Suci dan suaminya menunggu kelahiran bayinya, dan hari ini Suci sudah berada di rumah sakit untuk segera melahirkan buah hati mereka.
Tidak ada kekuatiran dalam diri Suci, apa lagi sekarang darah ia sudah benar-benar normal dari 3 bulan yang lalu.
Arrabella yang selalu membantu Suci untuk meminum obat penambah darah buatanya, dan sekarang Suci sudah benar-benar sembuh dari darah rendahnya.
Suci sudah terbaring di ranjang rumah sakit bersama suaminya yang berdiri di sampingnya.
Sebenarnya suaminya sudah berkali-kali menyuruh Suci untuk melakukan oprasi sesar, tapi lagi-lagi ia menolak dengan alasan, ia ingin merasakan bagai mana rasa sakit seorang ibu yang berjuang untuk ke dua sang buah hatinya.
Bahkan dokter yang membantu Suci melahirkan adalah dokter Viona dan Arrabella yang sama sebagai dokter kandungan juga.
Dokter Viona dan Arrabella sudah layaknya seperti Tante dan keponakan semenjak kejadian Arrabella minta maaf pada Suci, semenjak itu juga dokter Viona dan Arrabella menjadi keluarga.
Itu semua karena permintaan dari Suci membuat mereka berdua menjadi akrab, hingga seiringnya waktu mereka berdua semakin akrab dari hati bukan atas dasar paksaan lagi.
Sekarang Suci sedang berjuang mengeluarkan sang buah hati sambil menggenggam erat tangan suaminya yang bisa ia lihat kalau wajah suaminya sudah pucat pasi dan berkringat.
Berbeda dengan Suci yang sangat santai, walau pun merasakan sakit, tapi ia terlalu kasihan pada suaminya yang sudah terlihat pucat.
SampI 2 jam Suci berjuang hingga berhasil mengeluarkan sang buah hati, begitu ke duanya keluar Suci dan sang suami bersamaan pingsan dan itu membuat Arrabella dan dokter Viona sangat terkejut.
"Ya ampun! Romantis jangan di saat seperti ini dong! Bisa-bisanya Arkan ikut pingsan!"
Ini pengalaman pertama bagi dokter Viona saat menangani wanita melahirkan suaminya ikut pingsan juga.
"Arra, kamu panggil dokter Natan dan Aleo untuk mengangkat tubuh Arkan ke sofa."
"Baik Tante."
Arrabella langsung pergi ke luar, sedangkan dokter Viona sibuk dengan kegiatanya dari membersihkan darah dan lain-lainya, ia juga tidak lupa langsung memakaikan Suci cadar saat akan ada lelaki yang masuk ke ruangan itu.
Setelah mereka membantu Arkan membaringkan tubuhnya mereka sudah langsung keluar lagi.
Arrabella dan dokter Viona tersenyum lebar saat melihat ke dua anak kembar dari Suci berjenis kelamin lelaki dan perempuan.
Arrabella dan dokter Viona merasa seperti sudah di rencanakan karena lelaki dan perempuan.
"Wow, lucu."
__ADS_1
"Ya iya lah ibunya juga cantik."
Ke dua bayi mungil itu sudah selsai di bedong.
Sudah 31 menit Suci dan Arkan pingsan hingga mereka berdua sadar bersamaan, itu membuat Arrabella dan dokter Viona menggeleng pelan.
"Apa cinta itu seperti itu? Seperti magnet?"
Arrabella memang belum pernah memiliki kekasih hingga membuat ia melontarkan pertanyaan seperti itu pada dokter Viona.
"Mungkin, aku juga tidak tau."
Walau pun dokter Viona sudah sering ganti-ganti kekasih, tapi ini bukan soal pacaran, ini soal suami istri, jadi ia tidak tau.
Arkan langsung berjalan ke arah mereka sambil tersenyum mengambang saat ke dua banyinya sudah ada di dalam gendongan Arrabella satu dan dokter Viona satu.
"Ar, anaknya luci, mereka juga tidak menangis."
"Mereka berdua seperti Bundanya."
Arkan langsung mengambil ke dua bayi itu dari tangan Arrabellan dan dokter Viona, ia mengdzani ke dua bayinya.
Erlangga mau pun ke dua orang tua Arkan tersenyum lebar saat mendengar suara adzan dari Arkan.
Arkan mengadzankan ke dua bayinya sambil meneteskan air mata, ia masih ada rasa tidak percaya kalau sekarang sudah menyandang status Ayah.
Setelah mengajani ke dua bayinya Arkan langsung membacakan do'a untuk ke dua anaknya dengan bahasa arab.
Di luar dugaan Suci suaminya membacakan do'a untuk ke dua anaknya memakai bahasa arab, hingga air mata bahagi itu semakin deras menetes, lagi-lagi membuat Suci mengagumi kepribadian dari suaminya.
"Terima kasih ya Allah, telah kemberikan hamba jodoh dengan lelaki yang tepat dan sekarang di beri ke dua malaikat kecil untuk menyempurnakan pernikahan hamba."
Bukan hanya Suci saja yang terharu dengan do'a yang di bacakan oleh Arkan, semua orang di ruangan itu juga sangat terharu saat melihat kepribadian Arkan benar-benar berubah karena Suci.
Setelah selsai baca do'a Arkan langsung mengecup ke dua bayinya, lalu ia meletakan ke dua bayinya ke dada istrinya, tidak lupa ia membuka cadar istrinya, ia yakin kalau tadi ada lelaki masuk karena saat sadar berada di atas sofa.
"Assalamualaikum ke dua anak Bunda, semoga kelak kalian menjadi anak yang shaleh dan shalehah."
Setelah mengatakan itu Suci juga membacakan do'a untuk ke dua bayinya, ia juga sama dengan Arkan yang menggunakan bahasa arab.
__ADS_1
Setelah selsai Erlangga, Bagas dan Keyla bergantian menggendong ke dua bayi Suci.
Setelah selsai terus berceloteh dengan cicitnya, akhirnya Erlangga memberikan pertanyaan pada Arkan.
"Putra putri kalian mau di namakan apa Arkan?"
"Yang putra Arkan namakan Aziz Azkha Septiani, dengan arti Aziz kuat dan Azkha makin maju, suci, bersih. Sedangkan Septiani di ambil dari nama tengah Suci atau nama belakang almarhum Ayah Suci. Sedangkan untuk putri Aziza Alya Wijaya dengan arti Aziza kuat, berani dan nama Alya orang yang berhati halus dan lembut."
Erlangga hanya memangguk pelan, nama itu memang cukup bagus menurutnya untuk ke dua cicitnya.
Setelah itu Erlangga langsung berceloteh lagi dengan Aziz, bayi lelaki Suci yang ada dalam gendongan Erlangga.
"Sayang kamu setuju sama nama yang mas berikan tadi?"
Mereka berdua memang tidak pernah merencanakan nama saat hamil.
"Aku sangat setuju mas."
Arkan langsung mencium kening istrinya cukup lama, hingga air matanya menetes di pelupuk mata istrinya.
Arkan membelai lembut kepala istrinya yang tertutup hijab.
"Terima kasih sudah berjuang untuk buah hati kita, mas tidak pernah menyangka kalau sayang wanita yang sangat kuat."
Tangan Suci menghapus air mata Arkan yang masih menetes.
"Itu sudah tugasku sebagai seorang istri mas, aku sangat bahagia karena bisa melahirkan dengan normal. Jangan menangis lagi, ke dua anak kita saja tidak menangis."
Ke dua bayi itu memang sangat sehat, tidak ada cacat sedikit pun, tapi tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun, seolah-olah ke dua bayi itu mengerti kalau mereka tidak ingin mengganggu Bundanya yang sudah berjuang untuk mengeluarkan mereka berdua.
Keyla yang dari tadi diam, ia langsung memeluk menantunya yang masih terbaring lemas.
Begitu pun dengan Suci yang membalas pelukan dari ibu mertuanya.
Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukanya.
"Mama sangat bahagia nak, mama tidak pernah menyangka kalau sekarang mama sudah menjadi Oma, terima kasih sudah mau berjuang untuk ke dua cucu mama."
"Jangan berterima kasih ma, Uci sangat senang bisa melahirkan secara normal."
__ADS_1
Ke dua bayi itu langsung di bawa dokter Viona dan Arrabella untuk di letakan di laboraturium.