
Arkan tidak henti-hentinya mondar-mandir di depan rungan istrinya dengan perasaan yang kuatir, marah dan emosi, itu lah yang sekarang Arkan rasakan.
Reyhan hanya menghela nafas berat saat melihat Arkan mondar-mandir tidak jelas dengan sesekali melihat jam tangannya.
"Sebenar apa yang terjadi pada Suci?"
Pada akhirnya Reyhan bertanya setelah beberapa menit diam dan Arkan enggan untuk menjelaskan tentang Suci.
Arkan yang mendengar pertanyaan dari Reyhan, ia melihat ke arah Reyhan sambil mengapus air matanya.
"Suci mencelakai dirinya sendiri mas, ini semua karena Bunda dan Sulis yang sudah memojokan Suci."
"Apa yang mereka katakan hingga Suci berbuat nekad?"
"Sulis memaksa Suci untuk berpisah dan menginginkan saya menikahi Sulis. Saya tidak mengerti apa yang ada di pikiran Sulis, hingga Sulis menggunakan penyakitnya agar membuat kita berpisah, bukan hanya itu Bunda juga memojokan Suci untuk melakukan pengorbanan, karena dulu Sulis telah mendonorkan darahnya untuk Suci, tapi Suci menolak hingga Suci berbuat nekad agar Suci tidak di salahkan."
Arkan menghela nafas berat, hingga sampai sekarang dokter yang mengobati Suci belum juga keluar.
"Peyakit apa?"
Reyhan bertanya dengan wajah bingung.
"Penyakit Kangker setadium lanjut mas."
Reyhan sangat terkejut saat mendengar ucapan dari Arkan, tapi beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya, bahwa ia tidak percaya kalau Sulis memiliki penyakit separah itu, ia yakin kalau itu adalah rencana Sulis agar mendapatkan Arkan.
Tiba-tiba saja dokter Rika keluar dari ruangan Suci.
"Bagai mana ke adaan istri saya dok?"
Dokter Rika menghela nafas berat.
"Kondisi bu Suci dan janinnya bisa di selamatkan, bersyukur pak Arkan membawa bu Suci tepat waktu, kalau tidak bukan hanya janinnya, tapi bu Suci juga tidak akan bisa di selamatkan. Namen walau pun begitu kondisi mereka masih sangat lemah. Apa saya boleh menyuntikan obat tidur pada tubuh bu Suci?"
Arkan dan Reyhan sangat terkejut saat mendengar ucapan dari dokter Rika.
"Memang istri saya kenapa dok?"
"Kondisi bu Suci semakin memburuk pak Arkan, kalau tidak di suntikan obat tidur untuk waktu 8 jam, kemungkinan besar janin yang ada di kandungannya tidak bisa di selamatkan, karena janin bu Suci sangat lemah dan kemungkinan besar juga bisa mengancam nyawa bu Suci sendiri, jadi biarkan bu Suci beristirhat."
"Lakukan apa pun yang penting tidak membahayakan ke duanya, tapi apa setelah menyuntikan obat tidur saya boleh membawa istri saya pulang?"
"Apa akan di rawat di rumah pak?"
__ADS_1
"Iya saya lebih tenang merawat istri saya di rumah dengan dokter Rina, kalau di sini saya sangat kuatir."
"Baik pak Arkan, setelah saya mentuntikan obat tidur, pak Arkan bisa membawa bu Suci pulang, dan pastikan komsumsi suplmen dan vitamin, satu lagi berikan bu Suci juga obat penenang, karena pikiran bu Suci sedang kacau."
"Baik dokter."
Setelah mendapat persetujuan dari Arkan, dokter Rika langsung masuk ke ruangan rawat Suci.
Kini tinggal ada Arkan dan Reyhan. Arkan langsung melihat ke arah Reyhan untuk ia mintai tolong.
"Mas, boleh saya minta tolong?"
"Boleh katakan saja."
"Saya akan menghubungi Rangga untuk menyuruh menjemput dokter Kinanti, jadi nanti mas tolong minta surat rujukan untuk dokter Kinanti agar dokter Kinanti yang merawat Sulis, saya percaya kalau dokter Kinanti mampu merawat Sulis tanpa menggunakan oprasi."
Dokter Kinanti adalah dokter sepesialis kangker.
"Iya, tapi apa benar Sulis sakit kangker setadium lanjut? Bukan saya tidak percaya, tapi saya merasa seperti ada yang janggal."
"Saya juga merasakan hal yang sama mas, walau pun sudah di periksa oleh dokter Yuda dan dokter Hasan, tapi saya masih merasa ada yang janggal, untuk itu saya akan menyuruh dokter Kinanti."
"Baiklah, tolong nanti jaga Suci dengan baik, nanti saya akan menghubungimu jika terjadi sesuatu dengan Sulis."
"Sama-sama."
Arkan langsung mengambil ponselnya di saku celananya, ia langsung menelpon Rangga, setelah di angkat ia berbicara lebih dulu.
"Rangga, tolong jemput dokter Kinanti, lalu bawa ke rumah sakit Harapan."
"Oke, tapi siapa yang sakit? Apa istri lo?"
"Bukan, ini Sulis yang sakit, iya sudah gue tutup dulu."
"Oke."
Mereka mematikan sambungan telponnya. Anisa berjalan pelan untuk menanyakan keadaan putri ke duanya ke Arkan, hingga ia sekarang sudah berdiri di depan Arkan dan Reyhan.
"Nak, bagai mana keadaan Suci?"
"Kondisi Suci semakin drop, tolong Bunda jangan temui Suci lagi, Suci sudah tanggung jawab Arkan sepenuhnya. Jadi Bunda urusi saja Sulis, dan tidak perlu kuatir tentang kondisi Suci, yang ada nanti Suci bisa meninggal kalau terus kalian desak."
Setelah mengatakan itu Arkan memalingkan wajahnya ke arah lain, walau pun ia tidak berbicara dengan suara tegas, tapi ia juga tidak tega berbicara kasar pada ibu mertuanya.
__ADS_1
Namen di sisi lain kondisi istrinya menjadi drop karena ulah ibu mertuanya dan kaka dari istrinya, jadi Arkan merasa ia benar kalau menyalahkan mereka berdua.
Anisa menangis sambil tersedu-sedu saat mendengar jawaban dari menantunya, tubuhnya yang bergetar hingga terduduk di lantai.
Reyhan menghela nafas berat, ia tidak tega melihat Anisa yang terduduk di lantai, ia langsung memeluk Anisa dengan sangat erat.
"Tenang Bunda, Rey percaya kalau Suci akan baik-baik saja, tapi yang di katakan Arkan memang benar kalau kondisi Suci semakin drop, bahkan dokter mengatakan bukan hanya janinnya yang tidak bisa di selamatkan, tapi bisa jadi nyawa Suci sendiri juga tidak bisa di selamatkan kalau Arkan tidak membawa Suci tepat waktu."
Anisa memeluk Reyhan dengan tangisan yang semakin kencang, ia tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini.
Arkan hanya menghela nafas berat, walau pun ia tidak tega, tapi ini karena ulahnya hingga membuat istrinya menjadi sakit parah.
Dokter Rika langsung keluar dari ruangan Suci. Mereka langsung melihat ke arah dokter Rika.
"Pak Arkan, Bu Suci sudah bisa di bawa pulang, sesuai ke inginan pak Arkan."
"Terima kasih dokter."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."
"Iya dok."
Arkan melihat ke arah Reyhan.
"Mas saya bawa Suci pulang dulu."
"Iya. Bentar Bun, Rey akan membantu Arkan dulu."
Anisa mengangguk pelan, ia menatap nanar melihat menantunya dan Reyhan masuk ke dalam ruangan putri ke duanya.
"Iya Allah maafkan hamba, hamba sangat berdosa, hampir saja hamba membuat anak dan cucu hamba meninggal." batin Anisa
Arkan mengkat tubuh istrinya, sementara Reyhan membantu membawa tabung impusnya, mereka keluar melewati Anisa yang berdiri dengan menahan tubuhnya menggunakan dingding di sampingnya.
Arkan dan Reyhan sudah sampai di mobil. Arkan merangkul tubuh istrinya yang lemas karena obat tidur.
"Mas, terima kasih, supelmen, vitamin, dan obat penenang nanti saya minta ke dokter Rina saja, dan kalau biyaya pengobatan Sulis dan Suci tadi biarkan saja, nanti Rangga yang akan membayarnya."
"Baik, sama-sama dan kalian hati-hati."
"Iya mas."
Setelah mengatakan itu pak Budi langsung melajukan mobilnya sambil menghela nafas berat saat melihat Suci yang memjamkan mata sambil di infus.
__ADS_1