Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 54 Ungkapan cinta


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, Suci juga sudah mengganti bajunya, ia duduk di atas ranjang, sambil tersenyum meringis saat mengingat kejadian tadi, ia belum pernah berpikir sampai pikirannya sekacau itu.


Namun dari tadi Suci juga bingung saat melihat suaminya yang meneteskan air mata, ia bisa melihat kalau hati suaminya juga sangat terluka, tapi ia tidak tau artinya, suaminya itu sedih karena kasihan atau sedih memiliki perasaan padanya. Arkan masuk ke dalam kamarnya bersama bi Ira yang membawa makanan dan susu jahe di nampan.


" Bi taruh saja di meja, terima kasih."


" Iya sama-sama den."


Setelah bi Ira pergi, Arkan pindah ke atas ranjang sendiri, karena istrinya masih diam membisu dari kejadian tadi.


" Sayang, ayo makan dulu iya?"


Arkan sudah memegang sendok yang berisi nasi dan lauk. Suci melihat ke arah suaminya, tatapan matanya begitu terluka.


" Buka mulutmu sayang, jangan menyiksa dirimu."


" Mas sudah makan?"


Arkan menggeleng pelan sambil tersenyum saat mendengar suara istrinya lagi, dari tadi istrinya itu hanya diam, ia belum pernah melihat istrinya sekecewa itu padanya, tapi hingga sekarang istrinya tidak pernah berubah, selalu saja berbicara dengan lemah lembut, walau pun ia tau hati istrinya sangat kacewa.


" Mas harus makan, aku tidak mau kalau mas sampai sakit, ini bukan sebuah do'a tapi hanya takut."


Karena menurut Suci ucapan adalah do'a, tapi ia memang sedang tidak berdo'a, ia hanya kuatir pada suaminya.


" Iya sudah sayang makan dulu, nanti gantian mas makan."


Suci mengangguk pelan, ia langsung membaca do'a, lalu langsung membuka mulutnya. Arkan menyuapi istrinya sambil tersenyum.

__ADS_1


" mas juga dong."


Arkan mengangguk pelan, ia juga ikut makan sambil tersenyum, tapi hatinya begitu terluka, hingga sampai sekarang istrinya tidak mau marah, ia menjadi bingung sendiri, ia bingung dengan sifat istrinya, kenapa istrinya itu seolah-olah seperti menerimanya, tapi saat mengingat kejadian tadi, ia yakin kalau istrinya itu tidak bisa menerima ia sepenuhnya. Mereka selesai makan. Arkan langsung meberikan susu jahe untuk istrinya.


" Minum ini biar tubuhmu hangat sayang."


" Aku tidak mau minum susu mas, kamu saja yang minum susu."


" Kenapa? Atau mau menggantinya dengan teh hangat?"


Suci menggeleng pelan. Arkan langsung meletakan piring di atas nampan lagi.


" Apa sayang sudah maafin mas?"


Suci tersenyum meringis, saat mendengar pertanyaan dari suaminya.


" Memang mas salah apa sama aku?"


Suci mengangguk pelan.


" Apa sayang memiliki keraguan dengan pernikahan kita?"


" Maksud mas apa?"


" Iya, apa sayang meragukan pernikahan kita? Atau ada yang keberatan di hatimu saat hidup bersama mas? Sayang, mas tidak mau kamu menyiksa diri kamu seperti tadi, sifat apa pun yang tidak suka dari mas, kamu boleh mengatakannya, jangan lakukan itu, kalau kamu marah, kamu boleh pukul mas, atau memaki mas sepuasmu."


" Aku sama sekali tidak keberatan hidup sama mas, aku sangat bahagia hidup bersama mas."

__ADS_1


" Lalu apa ada sifat mas yang tidak kamu sukai?"


" Aku tidak suka kalau di hati mas itu masih ada nama kak Sulis, aku tau kita tidak mudah untuk melupakan masa lalu kita, tapi aku sudah berusaha mas, aku sudah berhasil menghapus namanya, tapi mas sendiri, mas tidak mau belajar mengikhlaskan kak Sulis, hati mas separuhnya masih namanya, mas bilang katanya cinta sama aku, tapi nyatanya mas bohong. Kenapa mas harus bilang cinta mas lebih besar padaku kalau semua perlakuan tulusku ini tidak mas hargai?"


Air mata Suci langsung mengalir deras, nafasnya memburu, unek-unek yang dari tadi ia pendam akhirnya keluar juga.


" Mas seolah-olah jijik sama tubuhku, mas mengatakan membuka kancing bajuku karena tidak sadar, apa di mata mas aku ini semejijikan itu mas?"


Arkan menghela nafas berat, ia tidak menyangka kalau ucapannya tadi pagi itu membuat istrinya salah paham, tadi pagi ia bilang seperti itu karena melihat tubuh istrinya bergetar, ia takut istrinya itu tidak menerima perlakuannya, tapi ternyata ucapannya itu membuat istrinya berpikir yang tidak-tidak.


" Mas, hati aku sakit, jauh lebih sakit saat aku melepaskan dia demi untuk memilih mas, aku tau cinta tidak bisa di paksa, tapi apa salahnya kalau kita saling belajar? Apa di hati mas aku ini tidak pantas untuk mas cintai hingga mas masih saja tidak bisa belajar mencintaiku?"


Suci menghapus air matanya dengan kasar, walau pun air matanya masih terus mengalir deras. Arkan lagi-lagi menghela nafas berat, apa lagi saat mendengar ucapan istrinya yang mengatakan belajar mencintai, bahkan tanpa belajar pun ia mencintai istrinya sejak pandangan pertama.


" Mas tidak pernah merasa jijik tubuhmu, mas sangat menghargaimu, mas dari awal cinta sama kamu Suci, dari pertemuan pertama kita di club malam mas sudah cinta sama kamu, saat mas membawa kamu ke rumah sakit, mas ingin menunggu kamu sadar, tapi Indra kecelakaan dan tulang betisnya patah, saat itu mama dan papa pergi ke luar negri, Indra adalah tanggung jawab mas, dulu mas belum pernah merasakan kata cinta walau pun usia mas sudah 25 tahun. Namun saat bertemu sama kamu mas cinta sama kamu dalam pandangan pertama, mas akui mas pengecut, mas takut kamu menolak mas, mas takut kamu bilang mas om-om tidak tau malu yang suka sama Gadis balia, karena saat itu usiamu masih 16 tahun."


Arkan mengatur nafasnya yang memburu, unek-unek yang ia tahan selama bertahun-tahun lamanya akhirnya ia ungkapkan juga pada istrinya.


" Kamu tau? Saat mas memelukmu untuk pertama kalinya di mobil, mas menghirup aroma tubuhmu yang selama 3 tahun ini masih hapal di indra pencuman mas, tubuh mas sedikit begetar, detak jantung mas berdetak lebih cepat, mas tidak pernah melupakanmu sedikit pun."


Suci menggeleng pelan, ia tidak percaya dengan ucapan dari suaminya.


" Kalau kamu mau marah, kamu boleh marah, bahkan saat kamu tidak sadarkan diri, mas sangat berani mencium keningmu, karena saat itu mas berat meninggalkanmu, tapi dari saat itu mas tidak berharap kita bersama, hanya saja mas berharap kamu menjadi Gadis yang lebih baik lagi Uci, karena mas sadar dan sangat sadar usia mas ini sudah tidak muda lagi."


Suci masih diam, mulutnya terasa terkunci setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari suaminya.


" Mas selalu ingin menjadi yang terbaik untukmu sayang, tapi mas sama sekali tidak percaya diri saat bersamamu, mas selalu berpikir kalau mas ini hanya lelaki lumpuh, mas tidak ingin membebani kamu. Dulu saja saat mas masih bisa berjalan, mas minder dari kamu, apa lagi sekarang, mas hanya lelaki lumpuh, tapi kalau kamu tanya mas cinta atau tidak? Jawabannya mas cinta sama kamu Suci. Cinta mas dari pandangan pertama hingga sekarang tidak pernah berkurang, melainkan cinta mas seperti usia mas yang selalu bertambah."

__ADS_1


Arkan menghapus air mata istrinya yang terus mengalir dengan ke dua ibu jarinya.


" Jangan membuang air mata berhargamu sayang."


__ADS_2