
Setelah perdebatan Raka dan Sulis, Raka dan Ikbal pergi ke ruangan meeting, sedangkan Arkan memutuskan untuk pulang, ia sudah sangat merindukan tingkah manja istrinya.
Arkan keluar dari ruangannya, baru saja sampai di meja sekretaris, ia menghentikan langkahnya saat Sulis sudah berdiri di depannya.
"Arkan aku minta maaf tentang kejadian 3 bulan yang lalu."
"Aku sudah maafkanmu, iya sudah aku mau pulang."
"Tunggu."
Sulis langsung memegang pergelangan tangan Arkan yang akan melangkah. Arkan langsung melepaskan pegangan tangan Sulis memakai tangan kirinya.
"Sulis, aku rasa kita sudah tidak memiliki keperluan apa-apa, dan kalau kamu mau protes tentang pekerjaan kamu, kamu bisa protes pada Ikbal."
"Aku bukan mau protes tentang pekerjaan, tapi aku ingin kita kembali lagi seperti dulu. Arkan kenapa pesan aku selama 2 bulan tidak kamu balas?"
Arkan menghela nafas kasar.
"Kita tidak bisa kembali lagi seperti dulu Sulis, kamu dan aku tidak akan bisa kembali lagi, kamu harusnya tau kalau aku sudah menikah, apa lagi yang aku nikahi itu adik kamu sendiri.."
"Tapi aku masih mencintai kamu Arkan, aku tidak mau kehilangan kamu. Bukan'kah saat 2 bulan yang lalu, saat kakimu belum sembuh aku sudah mengirim pesan padamu kalau aku cinta sama kamu Arkan."
"Itu sudah tidak penting lagi untukku Lis, dulu kamu menyuruh adikmu untuk menikah, setelah adikmu mencintaiku kamu menyuruh kita untuk berpisah? Apa kamu tidak berpikir betapa beratnya dulu adikmu harus menerimaku dan mengorbankan kebahagiannya mau pun kebebasan sebagai santriwati untukku?"
"Aku tau aku salah Arkan, aku minta maaf, tapi tolong kita mulai lagi seperti dulu, aku tau adikku wanita yang kuat walau pun adikku harus mengorbankan kebahagiannya untuk yang ke dua kalinya."
__ADS_1
"Kamu itu egois Sulis, harusnya kamu itu sebagai kaka harus berbahagia melihat adikmu bahagia, bukan ingin merusak kebahagian adikmu. Aku tidak akan pernah melepaskan istriku sampai kapan pun juga, apa lagi setelah istriku mengorbankan segalanya hanya untuk hidup bersamaku, lelaki lumpuh sepertiku, bahkan kamu sendiri kekasihku tidak mau menerimaku, melainkan kamu menghina aku hingga membuat mama menangis, lalu sekarang kamu datang ingin kembali lagi seperti dulu? Aku bukan lelaki bodoh! Walau pun dulu aku tidak sampai menikah dengan adikmu, aku tidak akan pernah kembali dengan wanita yang sudah membuat mamaku menangis."
Mata Sulis sudah memerah, bukan karena ia sedang mencari simpati dari Arkan, tapi ia memang sangat menyesal karena dulu telah menghina Arkan habis-habisan.
"Sulis, aku harap kamu bisa membuka lembaran baru, anggap aku sebagai adik iparmu, dan jangan pernah berharap untuk kita bisa bersama lagi, aku sangat mencintai istriku, jauh sebelum aku mencintaimu."
Dada Sulis seperti di tindih oleh batu besar, dadanya sangat sakit saat mendengar kenyatan itu. Itu artinya Arkan dan adiknya memang sudah saling kenal sebelumnya.
"Kamu mengenal adikku?"
"Aku mengenalnya saat di club 3 tahun yang lalu."
"Kamu menerima masa lalunya? Bukan'kah dulu kamu bilang padaku tidak menyukai wanita yang suka mabuk-mabukan, tapi kenapa sekarang kamu mencintai adikku Arkan?!"
5 Tahun yang lalu saat kenal bersama Sulis, Arkan mengatakan tidak suka wanita pemabuk, walau pun Arkan sendiri adalah lelaki yang suka mabuk-mabukan, tapi Arkan tetap tidak menyukai wanita pemabuk.
Lalu Arkan mendirikan Xien Grup setelah mengenal Sulis sekitar 4 bulan, hingga mengambil Sulis sebagai model di Xien Grup, di situlah mereka mulai saling dekat dan menjadikan Sulis model papan atas.
"Itu hanya masa lalu Lis, semua orang memiliki masa lalu yang buruk, tapi adikmu mampu hijrah dan bahkan mampu menuntunku ke jalan yang di ridho oleh Allah."
"Kamu bilang hanya masa lalu? Lalu kenapa kamu tidak bisa menerimaku? Bukan'kah kamu bilang semua orang memiliki masa lalu yang buruk?! Arkan aku mohon kembali lagi padaku, aku sangat mencintai kamu."
"Sulis, mencintai sesaorang memang boleh, tapi kalau kamu ingin memiliki lelaki yang kamu cintai, kamu harus mencintai lelaki yang tepat, bukan lelaki yang sudah beristri, kalau kamu terus memaksa, artinya kamu bukan mencintaiku, kamu hanya terobsesi ingin memiliki."
Arkan menghentikan pembicaraannya untuk menarik nafas.
__ADS_1
"Aku dulu mencintai Suci dalam pandangan pertama saat di club, tapi aku tidak berpikir untuk memilikinya karena usiaku dengannya sangat jauh berbeda. Aku hanya berdo'a pada ya rabbnya agar Suci menjadi lebih baik lagi, itu lah cinta yang sesungguhnya Sulis, berdo'a agar orang yang kita cintai itu bahagia, bukan ingin merusak kebahagiaan orang yang kamu cintai."
"Aku tidak bisa seperti kamu Arkan, aku hanya ingin memilikimu, kalau kamu memang tidak bisa berpisah dengan adikku tidak apa-apa, tapi jadikan aku istri yang ke dua."
Arkan menggeleng pelan, ia tidak habis pikir dengan permintaan dari Sulis.
"Sulis, carilah lelaki yang belum memiliki istri, kamu akan jauh lebih bahagia dari pada ingin di nikahi dengan lelaki yang sudah beristri."
Setelah mengatakan itu Arkan langsung melangkah, tapi baru dua langkah, Sulis memeluk pinggang ia dari belakang.
"Walau pun aku menjadi istri ke dua, aku akan tetap bahagia Arkan, asalkan aku tetap bersamamu. Dari awal aku melepaskanmu, tapi aku tidak sampai ke hatiku untuk melepaskanmu, kamu boleh memperlakukan aku dan adikku tidak adil, asalkan aku bisa memilikimu."
Air mata Sulis langsung mengalir deras, ia memang sangat menyesal telah melepaskan Arkan, ia tidak pernah menyangka kalau Arkan selama ini mencintai adiknya sendiri.
Arkan mencoba untuk melepaskan tangan Sulis dari pinggangnya, tapi Sulis semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepas Sulis! Kamu itu bukan makhromku, tolong lepaskan! Aku menghargai Suci yang tidak pernah di sentuh oleh lelaki walau pun keluargaku sendiri, dan aku juga akan melekukan hal yang sama, walau pun agamaku ini belum sempurna!"
Arkan dengan kasar melepaskan pelukan Sulis, lalu ia berjalan lagi, tapi Sulis mengejarnya lagi dan memeluk Arkan dari depan.
"Aku rindu kamu yang dulu Arkan, aku tidak perduli kalau kamu mulai berubah, yang jelas aku rindu kamu dan rindu kita."
Air mata Sulis semakin deras, ia tidak menyangka kalau Arkan begitu mudah melupakan hubungan bersamanya, jelas-jelas mereka berdua baru saja berpisah 3 bulan, sedangkan ia dan Arkan menjalin hubungan hingga 2 tahun lamanya.
Arkan melepaskan pelukan dari Sulis dengan kasar, kalau saja ia tidak ingat Sulis kaka iparnya, ia sudah ingin sekali mendorong Sulis hingga terjatuh di lantai.
__ADS_1
Namen Arkan tetap menghargai Sulis, bukan Sulis persisnya yang di hargai oleh ia, tapi istrinya, ia tidak ingin istrinya berpikir buruk tentangnya.
Arkan yang sekarang bukan Arkan yang dulu, yang selalu bertindak tanpa memikirkan hati siapa pun, tapi Arkan yang sekarang adalah Arkan yang begitu takut dengan istrinya, takut melukai hati istrinya hingga ia selalu berusaha sabar menghadapi Sulis.