Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 109 Di Jet pribadi


__ADS_3

Sudah 1 minggu Arkan bersama istrinya tinggal di rumah kakeknya dan selama 2 hari ini menurut ia istrinya jauh lebih baik, karena berhenti berpikir tentang ia yang memiliki hubungan bersama Sulis.


Bahkan kalau Arkan tau Sulis adalah kakak dari Suci dan kalau saja dulu tidak pengecut mana mungkin ia mau berhubungan dengan wanita egois seperti Sulis yang tidak memikirkan nyawa adiknya dan janin dalam kandungan adiknya.


Namun karena rasa pengecut Arkan hingga istri dan janinnya ikut menanggungnya. Sekarang Arkan bersama istrinya termasuk kakenya sedang ada di jet pribadi, hanya Kania yang tidak ikut untuk membantu Rangga mengurus perusahaan.


Erlangga juga kemarin sudah menjelaskan tentang kondisi cucu menantunya pada menantunya, tentu saja menantunya sangat terkejut dan sore harinya Keyla bersama Bagas melihat keadaan Suci.


Suci duduk di pangkuan suaminya sambil menyadarkan kepalanya di bahu suaminya, ia sedang menonton televisi yang mengabarkan berita tentang pemecatan Sulis Septiani Alzahra, dari tadi ia hanya fokus dengan wajah Sulis yang sangat mirip dengannya.


"Mas, Sulis yang mas ceritakan nama kakaku 2 hari yang lalu itu apa dia?"


Suci menujuk foto Sulis, sedangkan tentang kenapa Sulis di pecat, Sulis belum mengonfirmasi tentang kenapa Sulis di pecat dari Xien Grup.


Apa lagi selama ini Sulis selalu di utamakan oleh Xien Grup, bahkan hampir semua produk apa pun yang mengajak Xien Grup bekerja sama, Sulis selalu paling utama, tentu saja semua orang penasaran apa kesalahan Sulis sampai di pecat oleh Xien Grup.


Arkan mengelus pelan kepala istrinya yang selalu tertutup hijab.


"Iya itu kaka sayang, kenapa?"


Suci langsung mengalihkan pandangannya ke arah suaminya dengan tatapan bingung.


"Bukan'kah Xien Grup perushaan mas? Kenapa mas memecat kakak? Atau Ikbal yang memecat kakak, tapi apa kesalahan kaka hingga di pecat dari Xien Grup? Apa kesalahannya sangat patal?"


Arkan menghela nafas berat saat mendengar banyak pertanyaan dari istrinya.


Erlangga yang berada di ruangan sebelah dan mendengar pertanyaan berteruntun dari cucu menantunya membuat ia tersenyum lebar, karena Suci yang biasanya irit bicara, tapi semenjak hilang ingatan selalu saja menjadi banyak bertanya dan ia yakin kalau cucunya itu sedikit kesal, apa lagi ia tau kalau cucunya tidak suka wanita crewet.


"Yang mana dulu yang harus mas jawab sayang? Mas jadi pusing sendiri, termasuk dede juga pusing mendengar pertanyaan berteruntun dari Bundanya."


Arkan berbicara sambil mengelus perut rata istrinya.


Suci tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan dari suaminya yang baru ia sadari kalau pertanyaannya memang sangat banyak.


"Kenapa kaka di pecat mas?"

__ADS_1


"Sayang tidak perlu tau tentang hal itu, yang jelas masalahnya sangat patal. Mas tidak mungkin memecat sesaorang tanpa sebab."


"Apa ini soal kerugian uang mas?"


"Bukan, ini tentang nyawa, dengan mas memecat Sulis masih belum seimbang dengan kebohongan yang Sulis buat untuk menyakiti sayang."


"Ma-maksud mas ap-pa?"


Suci bertanya dengan terbata-bata saat mendengar ucapan dari suaminya.


"Sayang tidak perlu tau, nanti setelah sayang sudah ingat, mas janji akan menceritakan semua tentang Sulis."


Sebenarnya Suci merasa sangat kecewa, tapi ia juga tidak bisa memaksa suaminya untuk menceritakan persoalan kakanya, karena menurut ia juga benar apa yang suaminya bilang kalau ia hilang ingatan pasti suaminya harus menjelaskan dari nol, sedangkan saat ia sudah mengingat semuanya, suaminya hanya menjelaskan kebohongan dari kakanya.


"Iya sudah iya mas, tapi setelah aku ingat segalanya, mas harus janji kalau mas mau menceritakan semua tentang kaka."


"Iya sayang."


Suci langsung mencium bibir suaminya berkali-kali sambil tersenyum lebar dengan ke dua tangannya yang ia rangkulkan di leher suaminya.


"Jangan mesum mas!"


"Yang mesum itu sayang, yang cium mas juga sayang."


"Habis bibir mas bikin aku ketagihan."


Arkan yang mendengar jawaban dari istrinya hanya menggeleng pelan.


Begitu pun dengan Erlangga yang di ruangan lain ia juga ikut menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari cucu menantunya, walau pun ia sudah ingin tidur, tapi ucapan cucu menantunya selalu saja membuat ia menggelengkan kepalanya.


Arkan mencium bibir istrinya berkali-kali seperti yang istrinya lakukan, sedangkan ke dua tangannya ia lingkarkan di pinggang istrinya.


"Mas apa kita mau tinggal di rumah kakek terus?"


"Iya sayang, kita lebih baik tinggal di rumah kakek, kalau sayang betah di sana kita tinggal di sana selamanya."

__ADS_1


"Memangnya mas tidak akan mempertemukan aku dengan mama?"


"Bukan mama sayang, tapi Bunda, sayang selalu memanggil Bunda bukan mama."


Dari kemarin Suci memang selalu ingin bertemu dengan Bundanya yang selalu ia panggil mama karena lupa ingatan, apa lagi ia sudah bertemu dengan ke dua orang tua dari suaminya, tentu membuat ia penasaran seperti apa Bundanya.


Namun lagi-lagi Suci merasa kalau suaminya selalu enggan untuk menjelaskan tentang Bundanya dan itu membuat ia selalu penasaran seperti apa wajah dan sifat Bundanya.


"Bundaku memang seperti apa mas? Apa Bunda wanita yang sangat baik? Mas selalu saja menghindari pembicaraan tentang Bunda, atau Bundaku sangat jahat?"


"Bundamu sangat baik sayang, bahkan karena terlalu baik Bunda mudah di tipu oleh putri pertamanya hingga membahayakan putri ke duanya."


Setelah mengatakan itu bisa Suci dengar suara nafas memburu dari suaminya yang sedang menahan amarah, itu artinya kalau hubungan Bundanya dan suaminya tidak baik-baik saja.


"Aku minta maaf mas, tidak bermaksud membuat mas marah, kalau memang hubungan mas dan Bunda sedang tidak baik, aku tidak akan membahas tentang Bunda lagi."


"Tidak ada seorang suami yang mau melihat istrinya mencelaiki diri sendiri karena terus di pojokan. Mas bukan lelaki baik yang mudah memaafkan sesaorang jika yang di usik adalah sayang. Mas akan marah pada siapa pun itu jika sudah menyangkut dengan kesehatan sayang."


Arkan menghela nafas berat, ia mencoba meredam amarahnya, selama beberapa hari ini memang ia selalu benci saat mengingat ibu mertuanya dan Sulis, karena mereka berdua hampir saja membahayakan nyawa istri dan calon anaknya.


Suci langsung memeluk suaminya dengan erat masih di pangkuan suaminya, setetes air matanya jatuh begitu saja saat mendengar ucapan dari suaminya yang sangat mengistimewakannya.


"Ya Allah, jangan pisahkan hamba dengan suami hamba, kalau pun sampai hamba ingat segalanya, tolong biarkan hamba tetap mencintai suami hamba yang sangat mengistimewakan hamba, jangan biarkan rasa cinta hamba goyah dengan masalah apa pun nanti." batin Suci


Arkan juga membalas pelukan dari istrinya, pelukan hangat yang sedang mencoba meredamkan amarahnya.


"Iya Allah, jangan biarkan istri hamba memberi maaf untuk Sulis, hamba tau engkau selalu memberikan ampun pada orang-orang yang mohon ampun, tapi hamba hanya takut kalau Sulis mengulangi ke salahan lagi." batin Arkan


Suci menghapus air matanya sebelum ia melepaskan pelukannya, lalu ia langsung melepaskan pelukannya sambil tersenyum ke arah suaminya.


"Sayang tidak mau tidur? Perjalanannya masih lama sayang."


"Tidak mas, aku belum ngantuk."


Setelah mengatakan itu Suci turun dari pangkuan suaminya untuk duduk di samping suaminya.

__ADS_1


__ADS_2