Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 17 Pulang


__ADS_3

Khadijah hanya bisa menghela nafas berat, saat Suci bilang tidak apa-apa, hatinya tidak begitu yakin kalau Suci akan menyetir sendiri dengan keadaan seperti ini, tapi ia hanya bisa berdo'a agar Suci selamat sampai rumah.


Sekarang Suci sudah ada di depan mobil, di sana juga ada Khadijah, Kiai Habibi dan para Ustazah termasuk para santriawati yang ikut menyalami Suci dengan perasaan yang sangat sedih, karena tadi Khadijah memang bilang pada para santriwati dan santi kalau Suci akan berhenti mondok, walau pun tidak semua santri ikut mengantar Suci sampai depan mobil, tapi cukup banyak juga yang berkumpul di sana.


Terakhir Suci menyalami Mia, ia berusia 10 tahun, si Gadis cerewet menurut Suci, dan tingkah nakalnya selalu membuat Suci menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi Suci sama sekali tidak pernah memarahinnya. Jika ada santri yang melanggar aturan, Suci hanya menasahatinya dengan ucapan lembut, karena itu adalah ajaran dari ke tiga Ustazah yang selama ini mendidik Suci


" Kak Uci, kalau kak Uci berhenti mondok tidak ada yang bela Mia lagi, biasanya kalau Mia terkena khasus kak Uci selalu bela Mia. Hiks... Hiks... Nanti kalau Mia terkena khasus tidak ada yang bela Mia. Hiks... Hiks..."


Mia menangis sambil memegang tangan kanan Suci dengan ke dua tangannya, ia tidak rela kalau Suci berhenti mondok, karena selama ia mondok hampir satu tahun, hanya Suci yang menurut ia orang paling baik di setiap para santriwati lainnya, sedangkan santriawati yang lainnya hanya memandang ia sebelah mata dan mengatakan kalau ia tidak pantas di pesantren, melihat ia yang setiap hari mendapatkan khasus. Suci langsung menarik Mia dalam pelukannya, sambil mengelus lembut punggung Mia.


" Mia, harus belajar yang sungguh-sungguh, jangan melanggar peraturan yang sudah di tetapkan di pesantren, jadilah anak baik, walau pun sangat sulit, tidak harus semuanya merubah sikap burukmu, tapi sedikit demi sedikit merubah sikap burukmu, kaka Uci percaya kalau kamu bisa."


" Tapi Mia tidak akan bisa seperti kak Uci yang selalu sabar dalam menghadapi segalanya."


" Kaka Uci percaya lambat laun kamu bisa Mia, belajarlah karena Allah dan ikhlas, maka semua yang Mia lakukan akan lebih mudah."


Mia mengangguk pelan, tangisannya bukan semakin reda, tapi semakin tersedu-sedu, ia belum siap untuk berpisah dengan kaka seniornya yang begitu sangat baik. Suci menghela nafas berat saat mendengar tangisan Mia, ia melirik jam di tangannya yang mulai sore, tapi ia juga enggan untuk melepaskan Mia, karena menurut Suci, Mia adalah seperti ia saat kecil, begitu sangat nakal, Bunda dan Ayahnya selalu menggeleng-gelengkan kepala, setiap hari ia bikin ulah. Lia yang melihat Mia enggan melepaskan pelukan Suci, ia mengelus lembut kepala Mia yang tertutup hijab


" Mia, sudah dong nangisnya, masih ada kaka Lia juga di sini."


" Tapi Mia tidak mau kehilangan kaka Uci, kaka Lia."


" Iya, tapi kaka Uci harus pulang Mia, nanti kaka Uci kemalaman di jalan loh, mang Mia tidak kasihan sama kaka Uci?"


" Tentu kasihan dong kak Lia."

__ADS_1


Mia langsung melepaskan pelukannya. Suci tersenyum sambil menghapus air mata Mia.


" Jadi anak yang baik dan jadilah wanita sholehah Mia, karena semakin kita belajar untuk lebih baik, kita akan mendapatkan teman-teman yang baik juga. Mia jangan merasa sendiri, semua santriawati di sini teman Mia. Mereka hanya ingin Mia juga belajar sungguh-sungguh."


Mia mengangguk pelan.


" Kaka Uci, harus hati-hati di jalan, Mia sayang kaka Uci."


Suci mengelus lembut pipi Mia


" Kaka Uci juga sayang kamu Mia."


Kini Suci langsung menyalami para Ustazah dan berpelukan sekilas, hingga terakhir menyalami Ustazah Syifa. Ustazah Syifa langsung memeluk Suci lagi, jelas-jelas tadi saat Suci menjelaskan akan berhenti mondok, ia sudah memeluk Suci, tapi ia masih tidak rela kalau Suci benar-benar berhenti mondok.


" Jaga dirimu dek Uci, hati-hati iya, kalau memang dek Uci tidak kuat untuk membawa mobil, lebih baik nanti naik taksi kalau tidak mau tunggu istrinya Akang Irfan, jangan di paksakan, saya tau dek Uci sedang tidak baik-baik saja, ingat kesalamatan lebih penting."


Suci dan Ustazah Syifa melepaskan pelukannya, kini tinggal ke Umi dan Abi.


" Umi, Neng pamit dulu iya."


" Iya neng, hati-hati."


Khadijah langsung memeluk erat Suci, matanya sudah memerah ingin menangis, tapi ia sebisa mungkin untuk tidak menangis, bagai mana pun juga ia seorang Uminya Suci, ia tidak mau Suci semakin tambah sedih.


" Abi, Neng pamit, sekali lagi neng minta maaf, sudah menyakiti hati putra Abi."

__ADS_1


" Tidak apa-apa neng, mungkin neng bukan jodohnya Ali, sebaik-baiknya rencana manusia, jauh lebih baik rencana Allah, neng jangan sedih, jangan merasa bersalah, Abi tidak ingin neng merasa bersalah, semoga pilihan neng adalah lelaki yang baik, dan bisa membimbing neng ke jalan lebih baik lagi."


" Amin, Abi."


Lia mepuk pelan punggung Suci.


" Hati-hati, kalau tidak sanggup bawa mobil, kabari saja supir Bundamu, jangan memaksakan diri."


" Iya Lia."


Mereka berpelukan sesaat. Lia langsung membukakan pintu mobil untuk Suci.


" Masuk, nanti kamu kemalaman di jalan."


" Iya Lia."


Suci langsung masuk ke dalam mobil, ia membuka kaca mobil sambil tersenyum ke arah mereka, senyuman yang sangat aneh, karena dari tadi air matanya terus mengalir. Para santri melambaikan tangan ke Suci, hingga Suci benar-benar pergi dari pesantren itu. Sepanjang perjalanan Suci terus saja menangis sambil terus beristighfar, dan sepanjang perjalanan ingatan masa lalunya bersama Gus Ali terus saja berputar-putar di otaknya.


" Ya Allah, berilah hamba ke ikhlasan untuk menjalani ini semua, hamba percaya kalau akhir dari kisah ini akan menjadi bahagia." batin Suci


Suci menghentikan mobilnya sebentar di pinggir jalan, matanya sudah mulai gelap karena air mata, ia menyandarkan kepalanya di setir mobil dengan air mata yang terus mengalir. Bahkan bukan hanya belum bisa mengikhlaskan Gus Ali, tapi ia juga belum siap jauh dari Umi, Ustazah Syifa dan ke dua sahabatnya termasuk Mia, mereka semua adalah orang-orang yang paling Suci sayangi, ia merasa berat harus jauh dengan mereka semua. Terutama Mia, Suci tidak tau apakah Mia akan baik-baik saja? Mengingat banyak orang yang memandang Mia sebelah mata, apa lagi ia juga tau kalau Mia di buang oleh orang tuanya, Mia hanya tinggal bersama neneknya, hingga sang nenek memasukan Mia ke dalam pesantren.


" Kaka Uci harap kamu bisa benar-bebar berubah untuk lebih baik lagi Mia." batin Suci


Suci langsung menghapus air matanya, ia langsung melajikan lagi mobilnya dengan kecepatan lebih lambat, karena matanya terasa gelap, dan lagi-lagi ingatannya pada Gus Ali, bayang-bayang saat Gus Ali mengajar di kelasnya selalu berputar, bahkan saat ia memuji Gus Ali tanpa malu itu terus saja berputar, itu adalah kenangan saat Suci baru masuk ke dalam pesantren, ia memang secara terang-terangan memuji Gus Ali.

__ADS_1


" Dulu aku begitu memalukan." batin Suci


__ADS_2