Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 118 Kopi buah naga


__ADS_3

Sebelum memriksa keadaan janin Suci dokter Viona sempat berkenalan terlebih dahulu dengan Suci.


Dokter Viona sudah selsai memriksa janin Suci dan ia juga sudah menjelaskan tentang janin Suci.


Sekarang dokter Viona menatap Suci dengan seksama sambil tersenyum lebar, tidak heran kalau Arkan sangat mencintai Suci dari pandangan pertama, ia bisa melihat kecantikan Suci dengan jelas walau pun tertutup hijab.


Berbeda saat dokter Viona melihat konferensi pers saat Arkan mengakui Suci adalah istrinya, ia hanya melihat Suci yang memakai cadar, jadi ia tidak bisa melihat wanita seperti apa pilihan Arkan.


"Cantik juga istri kamu Ar."


"Ya iya dong Vi, cantik luar dalam."


Menurut Arkan istrinya memang cantik luar dalam, tidak di wajah saja yang cantik, tapi ahlak istrinya juga sangat cantik.


Dokter Viona mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Nanti kalau kamu sudah sembuh tante ajak kamu keliling kota ini, kamu mau?"


"Eh sejak kapan kamu mau di panggil tante Vi?"


Arkan bertanya dengan kening yang berkerut, biasanya yang ia tau dokter Viona tidak suka di panggil Tante.


"Sejak melihat istrimu yang imut dan menggemaskan."


Menurut dokter Viona Suci memang sangat imut dan menggemaskan, bisa ia lihat tatapan Suci yang begitu polos.


"Uci mau Tante, do'akan saja supaya Uci cepat sembuh nanti Uci ikut Tante keliling."


Dokter Viona mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, walau pun baru bertemu satu kali dengan Suci, tapi ia merasakan kenyamanan saat menatap wajah Suci yang sangat meneduhkan.


"Iya sudah Tante keluar dulu iya."


"Iya Tante terima kasih."


Dokter Viona mengangguk pelan, ia langsung mengambil tas yang berisi peralatan kedoterannya lalu langsung menggandeng tangan papa tirinya untuk ikut keluar.


Sedangkan Arkan yang melihat itu ia hanya menggeleng pelan, ia sangat tau kalau dokter Viona tidak suka banyak bicara, tapi setelah bertemu dengan istrinya dokter Viona sangat banyak bicara.


"Mas, Tante Viona ramah iya?"


Arkan langsung melihat ke arah istrinya sambil mengangguk pelan.


"Vio memang sangat ramah, tapi Vio tidak akur dengan Arra, mas juga tidak tau apa masalah mereka, yang jelas mereka berdua seperti kucing dan anjing, apa lagi semenjak nenek tiri mas meninggal, mereka menjadi sering bertengkar."


"Aku juga tidak menyukai Arra mas, Arra sangat cuek dan tidak pernah menyapa aku duluan, jelas-jelas kita keluarga, tapi Arra seperti benci sama aku."


"Mungkin itu perasaan sayang saja."


Arkan langsung mengecup kening istrinya sekilas, lalu ia langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Arkan memeluk istrinya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sebentar lagi anak kita bisa di USG sayang, menurut sayang anak kita perempuan apa lelaki?"


"Aku tidak tau mas."


Suci menjawab pertanyaan dari suaminya sambil menggeleng pelan, ia memang tidak tau anaknya perempuan atau lelaki.


"Kalau mas ingin anak perempuan atau laki-laki?"


"Mas ingin ke duanya."


Suci mengerutkan keningnya sesaat saat mendengar jawaban dari suaminya.


"Ko bisa mas? Mas enggak asik tidak punya naluri seorang Ayah."


Suci melepas paksa pelukan dari suaminya, ia sangat marah saat mendengar jawaban dari suaminya.


Arkan langsung memeluk istrinya lagi sambil tersenyum lebar.


"Jangan gerak-gerak sayang, tangan sayang masih ada selang infusnya. Mas bukan tidak memiliki naluri seorang Ayah. Mas sangat percaya kalau anak kita kembar, mereka berjenis kelamin lelaki dan perempuan."


"Bohong! Mas pasti sedang membujuk aku'kan?"


"Serius sayang, semoga ucapan mas benar."


Arkan langsung mengeratkan pelukannya, ia langsung mengecup kening istrinya cukup lama.


Arkan berharap ucapannya itu benar dan bukan hanya sebuah kata-kata, ia menginginkan memiliki dua anak sekaligus, setidaknya kalau ia melarang istrinya untuk hamil lagi ia sudah memiliki dua anak.


"Semoga saja ucapan mas benar iya, biar kita ngasuh anaknya sama-sama."


Arkan mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Terus kalau mas ikut ngasuh juga bagai mana dengan perusahaan mas?"


"Itu bisa di atur sayang, buktinya sayang juga bisa lepas tangan dengan toko gamis sayang, masa mas kalah sama anak kecil seperti kamu."


Suci yang mendengar ucapan anak kecil dari suaminya, ia langsung mendongkakan kepalanya untuk menatap wjah suaminya.


"Ih mas, kenapa ngatain aku anak kecil?"


"Sayang memang anak kecil, buktinya usia sayang belum 20 tahun."


"Walau pun aku anak kecil bisa membuat mas ketagihan di ranjang."


Arkan menghela nafas kasar saat mendengar ucapan frontal dari istrinya, entah belajar dari mana ucapan kasar itu, yang jelas ia merasa tidak nyaman.


"Jangan berbicara seperti itu sayang, mas tidak suka bahasamu yang terdengar blak-blakan. Biasanya juga sayang tidak berbicara seperti itu."


Suci yang mendengar helangan nafas kasar dan ucapan dari suaminya, ia tau kalau suaminya sangat tidak suka dengan ucapannya.

__ADS_1


"Ini itu bawaan bayi mas, siapa tau bayi itu mirip mas yang frontal bahasanya kalau di suruh jima saja mas bilang berhubungan badan."


"Maaf, mas tidak bermaksud menyinggungmu."


Suci mengecup bibir suaminya sekilas saat mendengar ucapan dan wajah bersalah dari suaminya.


Sedangkan tangan Suci mengelus perut ratanya.


"Maafin Bunda dede. Dede jadi Bunda bawa-bawa dalam masalah Bunda." batin Suci


"Sayang tidak lapar? Sayang belum makan dari pagi."


"Aku tidak lapar mas, aku ingin minum kopi buah naga."


"Iya sudah mas akan buatkan dulu."


Suci hanya mengangguk pelan sambil masih tersenyum.


Arkan langsung turun dari ranjang, ia mengecup bibir istrinya sekilas lalu langsung keluar dari kamar untuk membuat kopi buah naga.


Sekarang Arkan tidak merasa aneh kalau istrinya itu meminta sesuatu, ia sudah terbiasa sekarang.


Erlangga yang sedang sarapan bersama anak tirinya, ia melihat cucunya yang melewati ia untuk ke dapur.


"Mau ngapain nak?"


"Uci mau di buatin kopi buah naga kek."


Erlangga hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Aduh ternyata ponakan Vio bisa romantis juga iya buat istrinya? Vio pikir kamu tetap seperti dulu yang tidak pernah turun kedapur?"


Dokter Viona bertanya sambil tersenyum bahagia, karena Suci bisa membuat Arkan turun ke dapur.


"Itu hanya sebuah kopi Vio, bahkan Arkan saat itu bela-belain masak sup ikan buat istrinya."


Arkan yang mendengar ucapan dokter Viona dan kakeknya, ia hanya menggeleng pelan tanpa mau menjawab ucapan dari mereka berdua.


"Arkan, masakan istri kamu enak, andai saja dia tidak sedang hamil mungkin aku bakalan suruh dia masak terus."


"Istri aku bukan pembantu!"


Setelah mengatakan itu Arkan langsung pergi ke dapur untuk membuat kopi buah naga.


Sedangkan Erlangga dan anak tirinya hanya menggeleng pelan saat mendengar ucapan Arkan.


Setelah selsai membuat kopi buah naga Arkan langsung kembali lagi ke kamarnya, ia melihat istrinya yang hanya duduk sambil melihat televisi acara ceramah.


"Ini kopi buah naganya sayang."

__ADS_1


Suci menganguk pelan, ia langsung mengambil kopi buah naga yang di serahkan oleh suaminya, lalu langsung meminumnya karena kopi buah naga itu tidak panas atau pun dingin.


__ADS_2