Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 115 Kemarahan Erlangga


__ADS_3

Arrabella masih diam saat di bentak oleh Arkan, tapi hatinya merutuki kebodohannya sendiri.


Arrabella pikir Arkan tidak akan langsung mengecek Cctv karena istrinya sedang sakit, jadi ia bisa leluasan menghapus bukti itu.


Tadi Arrabella sudah membuatkan cemilan yang di taburi obat tidur untuk penjaga ruangan tempat melihat Cctv itu untuk menghapus bukti kejahatannya.


Namun Arrabella tidak menyangka secepat itu Arkan mengetahuinnya.


"Katakan kenapa kamu melakuin itu pada istriku Arra?!"


Arkan bertanya sambil mengepalkan ke dua tangannya untuk menahan emosi yang sudah meluap-luap, kalau saja bukan wanita mungkin ia sudah melakukan kekerasan pada orang yang sudah menyakiti istrinya.


Arrabella hanya menggeleng pelan, tubuhnya sudah gemetar dan air matanya langsung mengalir saat mendengar bentakan dari Arkan.


"Kalau kamu benci sama aku celakai saja aku Arra! Bukan mencelakai istriku!"


Lagi-lagi Arkan hanya melihat jawaban dari Arrabella dengan menggeleng-gelengkan kepala hingga membuat ia membuang nafas kasar.


"Apa salahku?! Hingga kamu tega mencelakai istriku?!"


Arkan mengusap wajahnya dengan sangat kasar, matanya sudah memerah karena ia sedih melihat ke adaan istrinya dan marah karena Arrabella yang mencelakai istrinya.


"Aku minta maaf Arkan, aku khilaf."


"Kamu bilang khilaf, di saat istriku sekarang sedang terbaring lemah karena ulahmu?! Kamu pikir dengan mengatakan minta maaf dan khilaf bisa membuat istriku sembuh?!"


Arrabella hanya menggeleng pelan sambil masih menangis.


"Jangan menangis?! Bukan'kah tadi kamu terlihat santai saat aku belum tau istriku terjatuh?! Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah!"


"Maafkan aku Arkan. Hiks... Hiks... Sekali lagi maaf."


"Jangan minta maaf, karena kata maaf tidak akan bisa membuat istriku dan janinnya sembuh! Aku tanya sama kamu, kenapa kamu lakuin ini?! Kenapa kamu menjadi Gadis jahat?! Atau kamu memang Gadis jahat?! Apa aku selama ini bodoh tidak bisa mengenal sifatmu?!"


Arrabella yang sedang menangis di buat bingung, pertanyaan Arkan sangat banyak, ia tidak tau mana yang harus ia jawab, yang jelas sekarang bibirnya sudah bergetar karena takut pada Arkan.


Arrabella hanya menggeleng pelan, ia memang tidak pernah melakukan kejahatan sebesar itu, biasanya ia hanya iseng-iseng saja dengan semua sahabatnya.


Arkan menghela nafas kasar saat melihat Arrabella terus saja menangis hingga tersedu-sedu.


Erlangga yang di susul oleh asisten rumah tangganya tadi karena katanya mendengar Arrabella menangis oleh Arkan, ia sangat terkejut saat melihat cucunya mengepalkan ke dua tangannya, ia bisa melihat kalau cucunya sedang di penuhi amarah.


"Apa yang kamu lakukan Arkan?! Kenapa kamu membuat Arra menangis?!"


Erlangga bertanya sambil berjalan mendekati mereka bersdua.

__ADS_1


Arrabella menghela nafas berat saat tau kakek angkatnya datang, ia yakin masalahnya akan semakin rumit.


Sedangkan Arkan hanya menghembuskan nafas kasar, sorot matanya sama sekali tidak berpindah, ia masih menatap sinis Arrabella walau pun mendapat pertanyaan dari kakeknya.


"Aku tanya sekali lagi kenapa kamu melakukan kejahatan Arra?!"


Erlangga mengelus dadanya sendiri saat mendengar bentakan dari cucunya.


Erlangga sangat bingung permasalahan apa hingga membuat cucunya sangat marah pada cucu angkatnya.


"Aku minta maaf Arkan, aku tau aku salah."


Dengan tuhbuh bergetar Arrabella langsung berlutut di depan Arkan.


"Aku hanya ingin tau apa alasan kamu melakuin kejahatan?! Setauku kalau masalahnya tidak di aku, aku sangat aneh dengan jalan pikiranmu, apa lagi kamu dan istriku tidak memiliki masalah, tapi tiba-tiba kamu mencelakai istriku dan calon bayiku."


Erlangga yang mendengar ucapan panjang dari cucunya, ia sangat terkejut saat mendengar ucapan dari cucunya dan ada rasa tidak percaya kalau cucu angkatnya mencelakai cucu menantunya dan calon cicitnya.


"Mencelakai gimana ini Arkan?"


"Kakek tanya sendiri pada Arra."


Erlangga langsung menatap ke arah Arrabella yang masih berlutut.


"Angkat kepalamu Arra, apa benar kamu mencelakai Suci?"


Erlangga yang tidak melihat jawaban dari cucu angkatnya ia langsung menghela nafas kasar.


"Kakek sudah bilang angkat kepalamu dan jawab apa benar begitu?!"


Arrabella yang mendengar pertanyaan dari kakek angkatnya lagi, ia dengan ragu-ragu mengangkat kepalanya.


"Iy-iya kek, yang di katakan Arkan benar."


Arrabella menjawab pertanyaan dari kakek angkatnya dengan ragu-ragu dan suara terbata-bata.


"Lalu sekarang bagai mana keadaan Suci Arkan?"


"Suci belum sadarkan diri kek, dia masih pingsan dan sekarang sedang di infus."


Erlangga yang mendengar jawaban dari cucunya ia tidak bisa menahan emosinya lagi, ia langsung melayangkan tamparan pada cucu angkatnya yang masih berlutut.


Plak...!


Tamparan itu sangat keras bahkan sampai tubuh Arrabella tersungkur hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Selama ini kakek mendidikmu dengan kasih sayang, tidak pernah kurang kasih sayang sedikut pun, tapi kenapa sekarang kamu buat kakek kecewa Arra?! Kakek tidak pernah sedikit pun melakukan kekerasan terhadapmu, tapi kenapa kamu menjadi Gadis jahat hah?!"


Tangisan Arrabella semakin pecah, ia langsung menggeser tubuhnya untuk minta maaf pada kakek angkatnya, ia sangat menyesal karena telah mencelakai Suci, tapi ia juga benci pada Suci yang seenakanya memperlakukan Arkan seperti boneka.


"Maafkan Arra kek Hiks... Hiks..."


Erlangga berjongkok, ia mencengkram kuat ke dua pipi cucu angkatnya.


"Jangan pernah menangis di depan kakek! Buang air matamu itu! Kakek tidak suka melihat air mata palsumu!"


Arrabella hanya menggelengkan kepalanya sambil terus menangis, ke dua pipinya terasa sakit karena kakek angkatnya masih mencengkram kuat ke dua pipinya.


Arkan yang melihat kemarahan dari kakeknya, ia menghela nafas berat.


"Kakek jangan terlalu emosi, ingat jaga kesehatan kakek."


Erlangga yang mendengar ucapan dari Arkan, ia langsung melepaskan cengkramannya, tapi tangannya langsung menampar pipi cucu angkatnya sekali lagi pada pipi yang belum ia tampar.


Plak...!


Ke dua sudut bibir Arrabella langsung mengeluarkan darah, ini pertama kalinya ia mendapatkan kekerasan seumur hidupnya setelah ikut bersama Erlangga.


Erlangga menyayangi Arrabella seperti cucunya sendiri, ia tidak pernah melakukan kekerasan pada Arrabella, kalau pun Arrabella melakukan kesalahan, ia hanya akan marahi Arrabella.


"Kakek! Jangan terus menampar Arra!"


Arkan bukan membela Arrabella, tapi ia merasa ngilu melihat ke dua bibir Arrabella mengeluarkan darah dan ke dua pipinya ada bekas cengkraman dari kakeknya.


"Kamu jangan membelanya Arkan! Gadis seperti Arra tidak pantas di bela!"


"Arkan tidak membelanya kek, tapi Arkan ngilu melihat sudut bibir Arra yang sudah mengeluarkan darah."


Erlangga tidak menggubris ucapan dari cucunya, ia masih menatap cucu angkatnya dengan tatapan sinis.


"Apa kamu mencelakai Suci karena cemburu pada Suci?!"


Arkan yang mendengar pertanyaan dari kakeknya, ia mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan pertanyaan dari kakeknya.


"Cemburu bagai mana kek?"


"Arra mencintai kamu."


Arkan yang mendengar jawaban dari kakeknya, ia menggeleng pelan, ia tidak percaya kalau Arrabella mencintainya, ia sudah menganggap Arrabella seperti adiknya sendiri.


"Apa benar kamu mencelakai istriku karena cemburu?!"

__ADS_1


Arrabella yang mendengar pertanyaan dari Arkan hanya menggelengkan kepalanya, ia mencelakai Suci bukan karena cemburu, tapi karena ia benci pada Suci yang selalu memperlakukan Arkan seperti boneka.


__ADS_2