
Arkan yang melihat istrinya bersujud di depannya ia langsung menghela nafas berat, lalu langsung membangunkan istrinya untuk sama-sama berjongkok.
"Sayang jangan bersujud seperti itu selain bukan pada Allah."
"Tapi aku salah mas, aku minta maaf karena tidak mempercayai mas."
"Tidak apa-apa sayang."
Arkan langsung menarik istrinya dalam pelukannya, semakin hari cintanya semakin terus bertambah, apa lagi saat melihat istrinya minta maaf, ia begitu tersentuh, dari awal menikah ia belum pernal melihat perilaku jelek dari istrinya.
Suci juga membalas pelukan dari suaminya sambil menangis saat mengingat kakanya membohonginya, ia begitu kecewa terhadap kakanya yang ingin merusak rumah tangganya.
"Kenapa kaka jahat mas? Aku selama ini tidak pernah melakukan kejahatan yang di sengaja, tapi kenapa kaka begitu jahat padaku? Aku tidak merebut mas dari kaka. Aku menikah dengan mas juga atas ijin dari kaka, tapi di sini seolah-olah aku yang salah. Hiks... Hiks..."
"Sudah dong sayang jangan menangis, sayang boleh kecewa, tapi jangan menangis, kasian dede pasti ikut sedih karena melihat Bundanya menangis."
Suci yang mendengar ucapan dari suaminya ia mengangguk pelan.
"Oh iya, sup ikannya sudah selsai, ayo kita makan, nanti sup ikannya keburu dingin."
Suci mengangguk pelan sambil menghapus air matanya sendiri.
Arkan langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu langsung ia turunkan di atas ranjang sambil tersenyum.
Suci juga ikut tersenyum, ini lah yang membuat ia tidak rela melepaskan suaminya yang selalu saja bersikap dewasa dan selalu sabar.
Arkan juga ikut duduk di samping istrinya, lalu langsung mengambil sup ikan di meja samping ranjangnya.
Arkan langsung menyodorkan sendok berisi sup ikan di depan istrinya.
"Jangan mengejek kalau rasa sup ikannya tidak enak sayang."
Suci mengangguk pelan, ia langsung membuka mulut untuk memakan sup ikan.
__ADS_1
Setelah di kunyah Suci merasa masakan suaminya sudah ada perubahan, tidak seperti saat masak nasi goreng rasanya sangat asin.
"Terima kasih mas, rasanya sangat enak. Mas juga makan, masa cuma aku yang makan."
Arkan mengangguk pelan, ia langsung menyuapi diri sendiri dan menyuapi istrinya terus begantian hingga sup ikan itu habis.
Arkan langsung meletakan mangkuknya di meja, ia langsung mengambil tisu untuk mengelap bibir istrinya yang basah.
Suci mengelus pelan perut ratanya sambil tersrnyum lebar.
"Bagai mana dede bahagia'kan memiliki Ayah seperti dia yang selalu pengertian?" batin Suci
"Sayang tidak apa-apa tinggal di rumah ini dulu? Mas ingin sayang tinggal di sini agar sayang tidak memiliki beban. Mas ingin sayang selalu sehat."
"Mau tinggal di mana pun aku mau mas, asalkan aku selalu bersama mas. Maafkan aku mas yang selalu merepotkan mas dengan kondisiku yang selalu saja sakit karena darah rendahku."
Arkan yang mendengar permintaan maaf dari istrinya ia langsung menggeleng pelan.
"Jangan pernah minta maaf sayang, mas sama sekali tidak pernah di repotkan olehmu. Apa lagi saat mas lumpuh juga sayang yang selalu mas repotkan, terima kasih selalu memberikan semangat hingga mas sembuh."
"Terima kasih ya Allah, karena telah memberi hamba ujian hanya dari orang luar, bukan pertengkaran dari suami hamba. Terima kasih karena engkau telah memberi hamba suami yang begitu sempurna." batin Suci
...****************...
Sudah beberapa hari Sulis terus menghubungi Arkan untuk minta maaf dan menanyakan keadaan adiknya, tapi selalu saja di rijek oleh Arkan, bahkan saat ia mengirim pesan, Arkan tidak membalas pesan darinya.
Hati Sulis semakin resah saat tidak pernah tau kabar adiknya, ia ingin sekali datang ke rumah Arkan, tapi ia malu dengan ke dua orang tua Arkan.
Apa lagi Sulis yakin kalau orang tua Arkan sudah tau kalau ia yang menyebabkan adiknya sakit.
Terlebih Sulis juga tidak berani untuk keluar dari rumah karena seluruh wartawan penasaran apa alasan ia di pecat dari Xien Grup.
Wajah Sulis selalu terpampang di setiap televisi, entah siapa yang menyebarkan informasi tentang Sulis di pecat dari Xien Grup.
__ADS_1
Sulis juga selalu penasaran siapa yang menyebarkan informasi itu, yang jelas ia percaya kalau pelakunya bukan Arkan atau sahabat Arkan termasuk bukan adiknya juga.
Sulis hapal betul sifat mereka jadi tidak mungkin kalau mereka membocorkan ia di pecat dari Xien Grup, tapi ia yakin kalau salah satu dari sahabatnya yang membocorkan informasi tentang pemecatan dari Xien Grup.
Semenjak Sulis ketahuan berbohong Sulis merasa kalau Bundanya semakin menjauhinya, tidak pernah melihat senyuman dari Bundanya dan tidak pernah Bundanya bertanya tentang apa pun padanya.
Beberapa hari ini Sulis merasa menyesal telah melakukan kebohongan yang sangat besar pada adiknya, tapi ia juga masih tidak rela melepaskan Arkan.
Sulis yang duduk di ranjang, ia langsung mngambil foto ia dan adiknya yang ada di meja samping ranjang, ia mengelus lembut pipi adiknya di foto itu.
"Maafkan kaka dek, kaka tau kalau kebohongan kaka tidak pantas kamu maafkan, dan kaka juga sangat menyesal karena telah berbohong sebesar itu hingga membuatmu melukai dirimu sendiri. Maaf karena pada akhirnya kaka yang menjadi penghalang kebahagianmu. Maaf karena kaka tidak bisa menuruti keinginanmu saat kamu mengatakan untuk melupakan Arkan dari hidup kaka."
Air mata Sulis langsung mengalir sangat deras, ia sudah banyak menangis beberapa hari ini, terlebih saat ia tidak tau keadaan adiknya bagai mana, ia semakin sedih.
Reyhan yang mengintip di balik pintu, ia menghela nafas berat saat melihat Sulis menangis sambil memegang fota.
Reyhan langsung masuk ke kamar Sulis perlahan-lahan karena ia tidak tega melihat Sulis terus saja menangis.
"Menyesal tidak ada artinya Sulis, kamu jangan ulangi lagi kesalahanmu."
Reyhan berbicara sambil tersenyum lebar di depan Sulis.
Sulis sangat terkejut saat melihat Reyhan masuk kamarnya tanpa suara, apa lagi Reyhan belum pernah berbicara dengan suara lembut seperti sekarang setelah tau kalau ia berbohong tentang penyakit kangker setadium lanjutnya.
Reyan langsung mengambil foto yang ada di tangan Sulis, lalu ia langsung memeluk Sulis yang masih duduk di ranjang.
"Jangan menangis, aku percaya kalau Suci akan baik-baik saja, kamu hanya perlu berdo'a saja agar janin Suci juga selamat."
Sulis juga membalas pelukan dari Reyhan sambil mengangguk pelan, ia tidak menyangka kalau Reyhan masih bersikap baik padanya, apa lagi ia tau kalau Reyhan sangat menyayangi adiknya.
"Kenapa kamu jadi baik sama aku? Apa kamu sudah tidak marah lagi padaku?"
"Kita berdua keluarga Lis, tidak seharusnya aku marah sama kamu, tolong rubah sifatmu Lis, kamu sudah kehilangan segalanya karena kebohongan yang kamu buat, dan belajarlah untuk menjadi wanita yang baik, karena wanita baik akan di pertemukan dengan lelaki yang baik juga. Aku tau untuk saat ini kamu belum bisa melupakan Arkan, tapi aku percaya kalau kamu bisa belajar untuk melupakan Arkan."
__ADS_1
Sulis hanya mengangguk pelan sambil mengeratkan pelukannya pada Reyhan, ia memang sedang membutuhkan sandaran untuk saat ini karena masalahnya sangat banyak.