
Suci dan Arkan begitu lama saling tatap mata, Suci berkali-kali menghela nafas berat, ini adalah malam ke tiga, ia menyandang status sebagai seorang istri, tapi suaminya masih saja belum meminta haknya. Suci memejamkan mata sesaat, untuk menawarkan diri, ia tau kalau menawarkan diri itu sangat malu, tapi ia lebih tau kalau menawarkan diri itu pahalanya lebih besar dari pada suaminya sendiri yang minta.
" Mas, apa ingin melakukan jima? Aku sudah siap dan selalu siap kapan pun."
Arkan yang di tanya istrinya, ia bingung sendiri, apa artinya jima? Otaknya itu hanya pintar untuk berbisnis.
" Uci, jangan malu-maluin aku dong, apa artinya coba? Sudah tau kalau suamimu ini bodoh." batin Arkan
Suci masih menatap suaminya sambil tersenyum, wajahnya sudah memerah, ia malu, tapi ini adalah kewajiban seorang istri harus menawarkan diri pada suaminya.
" Kenapa mas Arkan hanya diam? Apa ragu? Kalau memang belum siap tidak apa-apa mas, aku tau kita berdua memang tidak mudah melupakan masa lalu, tapi aku sudah mengikhlaskan masa laluku dan membuka lembaran baru, aku percaya kalau cintaku akan tumbuh dengan seiringnya waktu." batin Suci
Arkan memikir ulang ucapan istrinya, hingga ia benar-benar paham, mungkin istrinya sedang menawarkan diri untuk melakukan malam pertama yang memang belum ia lakukan hingga usia pernikahanya sudah 3 hari.
" Uci, maaf mas belum bisa melakukan itu, jika di hatimu masih ada nama lelaki lain, mas ingin kamu sepenuhnya menerima mas bukan karena status mas suami kamu."
Arkan bukan menolaknya, apa lagi yang menawarkannya adalah orang yang di cintai, tentu ia mau melakukan hubungan suami istri, tapi ia tidak ingin menyakiti perasaan hati istrinya, ia ingin hati istrinya itu benar-benar miliknya, ia tidak mau melakukan itu kalau hati istrinya masih milik orang lain.
Setelah mendengar ucapan dari suaminya, mata Suci langsung memerah, ia bukan sedih karena di tolak untuk jima, tapi ia sedih karena suaminya seperti sedang menyindirnya, harusnya suaminya itu bilang kita belum sama-sama saling jatuh cinta, tapi ucapan suaminya seolah-olah hanya ia yang tidak mencintai, dan suaminya mencintainya, jelas-jelas di hati suaminya itu masih ada nama kakanya dan itu yakin menurut ia.
" Kenapa harus bilang seperti itu mas, rasanya hatiku sakit, kenapa mas bilang seolah-olah hanya aku yang tidak mencintai mas? Dan mas seperti mencintaiku, jelas-jelas kita sama-sama tidak saling mencintai." batin Suci
" Maafkan aku mas."
Setetes air mata menetes begitu saja di pipi Suci, ia tidak menyangka kalau ucapan suaminya itu begitu menyakiti hatinya. Arkan yang melihat istrinya meneteskan air mata, ia sangat terkejut.
" Apa ucapanku itu salah?" batin Arkan
Arkan mengelus lembut rambut istrinya yang terurai.
" Apa ucapan mas salah?"
Suci hanya menggeleng pelan, ia juga tidak ingin mengungkapkan apa yang ada di hatinya, ia juga memang salah, ia tidak mudah untuk membuang rasa cintanya pada lelaki di masa lalunya, tapi ia juga sedang berusaha untuk membuang rasa cinta di lelaki masa lalunya. Arkan menarik istrinya dalam pelukannya, ia mengecup lembut kening istrinya, lalu langsung minta maaf di telinga istrinya, karena ia tau ucapanya itu salah.
__ADS_1
" Maafkan mas Uci, maksud mas bukan begitu, kamu tidak salah mencintai lelaki lain, karena mas juga mencintai kaka kamu, jadi kamu jangan merasa bersalah."
Kata mas juga mencintai kaka kamu, mampu membuat air mata Suci menetes lagi, walau pun ia mencintai lelaki lain, ia selalu hati-hati berbicara dengan suaminya, ia takut hati suaminya itu terluka, tapi suaminya dengan mudah melukai hatinya. Arkan yang mendengar isak tangis pelan istrinya, ia menjadi bingung.
" Apa yang harus aku katakan lagi Uci? Aku mengatakan itu agar kamu tidak tersinggung, tapi kenapa menangis kamu semakin terisak?" batin Arkan
Arkan memang tidak ingin istrinya merasa bersalah, tapi tangisan istrinya itu semakin terisak, bahkan berkali-kali istrinya menghela nafas berat, pelukannya saja tidak istrinya balas, istrinya hanya diam dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang miliknya.
" Sudah dong Uci jangan menangis, kenapa jadi semakin menangis?"
Suci menggeleng pelan. Arkan yang melihat jawaban dari istrinya, ia hanya bisa menghela nafas berat.
" Jangan menangis seperti ini Uci, mas itu sayang dan cinta sama kamu, mas tidak ingin melihat kamu menangis, walau pun hanya satu tetes yang keluar dari matamu, tapi mas tidak akan pernah rela kalau kamu menangis dengan kesedihan. Uci, ucapan ini itu jujur dari hati kecil mas."
Suci menggeleng pelan, ia tidak percaya kalau suaminya itu mencintainya, tadi suaminya bilang mencintai kakanya dan sekarang mencintai ia.
" Kenapa mas Arkan tidak memiliki pendirian?" batin Suci
Arkan mengelus lembut punggung istrinya, perasaannya menjadi bingung sendiri melihat istrinya menangis. Setelah beberapa saat Suci mendongkakan wajahnya, ia menatap mata suaminya dengan intans. Arkan yang di tatap istrinya tersenyum, ia mencium kening istrinya.
" Iya Uci."
" Kenapa mas harus mencintai dua wanita?"
Arkan menggeleng pelan, dan menerka-nerka kalau istrinya itu menangis bisa jadi karena mengatakan ia mencintai Sulis, ia hanya ingin istrinya tidak merasa bersalah, tapi ternyata ucapannya mampu membuat istrinya semakin terisak.
" Mas memang pernah mencintai kaka kamu Uci, tapi cinta mas tidak sebesar rasa cinta mas ke kamu."
" Mas jangan gombal, aku serius."
Arkan tersenyum saat melihat istrinya merucutkan bibirnya.
" Jangan begitu Uci, mas bisa khilaf nanti."
__ADS_1
Arkan mengelus lembut pipi kiri istrinya, wajah yang selalu saja ada di bayang-bayangnya selama 3 tahun ini.
" Memangnya kenapa kalau khilaf mas? Dari ujung rambutku hingga sampai ujung kakiku hanya milik mas."
Arkan tersenyum getir saat mendengar jawaban dari istrinya, memang semua miliknya, tapi hati istrinya itu bukan miliknya, hati istrinya masih milik lelaki lain.
" Uci."
" Iya mas."
Arkan mendekati wajah istrinya, lalu ia langsung mencium bibir istrinya sekilas.
" Itu hukuman untuk kamu, karena kamu menangis."
Suci memukul kecil dada suaminya.
" Ih mas, ko jadi ikutin kata-kata aku?"
" Hahaha, habisnya kamu nangis tidak jelas, dada mas itu sakit kalau melihat kamu menangis."
" Maaf mas, aku memang cengeng."
" Kamu jangan minta maaf, apa pun yang ada di diri kamu, mas suka."
Suci tersenyum saat mendengar ucapan dari suaminya, ia menatap mata suaminya, memang ia merasa kalau ucapan dari suaminya itu tidak ada kebohongan, ia bisa melihat kalau yang di ucapakan suaminya itu benar, tapi ia juga tidak percaya kalau suaminya itu semudah itu mencintai ia, mengingat hubungan suaminya dengan kakanya yang sudah 2 tahun lamanya.
" Jangan di tatap begitu Uci, mas malu sendiri."
Suci tersenyum, ia mendekati bibir suaminya, lalu mencium bibir suaminya sekilas, setelah itu kepalanya ia sembunyikan di dada bidang milik suaminya.
" Ko kamu mencuri ciuman mas?"
" Siapa yang mencuri mas? Dari ujung rambut hingga ujung kaki, mas milik aku."
__ADS_1
" Tapi rasa malu kamu itu seperti sedang mencuri, lalu tertangkap basah."
Suci hanya tersenyum. Arkan memeluk erat tubuh istrinya sambil tersenyum senang.