
Arkan tersenyum saat mendengar ucapan dari istrinya, ia langsung berdiri, lalu memakaikan kalung liotin itu ke leher istrinya.
"Maaf, mas tidak tau kamu suka atau tidak, mas bingung seolanya mas tidak pernah memberikan sesuatu pada wanita."
"Aku akan tetap suka apa yang di pilih oleh mas."
Arkan mengecup kening istrinya, lalu ke dua matanya, terakhir ia mencium bibir istrinya.
"Terima kasih sayang, sudah selalu bersama mas, walau pun mas selalu membuatmu menangis."
"Jangan pernah mengucapkan terima kasih, aku ini istri mas."
Suci langsung berjinjit untuk mencium bibir suaminya sekilas.
Arkan yang mendapat ciuman dari istrinya, ia langsung membalas ciuman itu, bukan lagi sebatas ciuman, tapi ia juga menyapu semua ronggo mulut istrinya sambil perlahan membimbing istrinya berjalalan ke arah ranjang.
Suci juga mengikuti arahan dari suaminya, ia juga mulai terbuai dengan permainan suaminya.
Arkan perlahan merebahkan tubuh istrinya dengan tangan kirinya yang ia gunakan untuk menyanggah kepala istri.
Ciuman Arkan tidak sampai di situ, ia turun ke leher istrinya, hingga lenguhan kecil keluar dari mulut istrinya, ia semakin bergairah saat mendengar lenguhan kecil dari istrinya, tapi tiba-tiba suara perut istrinya menghentikan aksinya.
Kryuk...
Arkan yang mendengar suara perut istrinya, ia menatap wajah istrinya yang masih memejamkan mata, lalu ia langsung berbisik di telinga istrinya.
"Sayang, ayo makan."
Suci langsung membuka matanya sambil menghela nafas berat, perutnya itu tidak bisa di kompromi, jelas-jelas ia tadi siang sudah makan, membuat wajahnya memerah karena malu.
Arkan yang melihat istrinya membuka mata, ia langsung terkekeh, ia tau istrinya sedang merasakan malu.
"Ih mas ko ngetawain aku."
Suci langsung memeluk suaminya yang masih mengunci tubuhnya, kepalanya ia sembunyikan di dada bidang milik suaminya.
"Habisnya istri mas akhir-akhir ini selalu saja mudah lapar."
"Iya nie mas, aku juga tidak tau, tapi baju-bajuku bukannya tambah sempit, kenapa jadi seperti longgar iya mas?"
Suci langsung melepaskan pelukannya, ia menutup mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Eh tidak mas, itu hanya perasaan aku."
Suci tidak ingin suaminya kuatir nanti dengan tubuhnya yang memang mulai lebih kurus.
"Mas sudah tau, mas juga menyadari hal yang sama, kalau sayang semakin hari semakin kurus, nanti setelah ini kita priksa ke dokter mau kan?"
Suci hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Arkan hanya bisa menghela nafas berat, andaikan saja ia tidak cinta pada istrinya, mungkin ia sudah kehabisan kesabarannya, apa susanya coba hanya di priksa oleh dokter? Tidak ada yang di rugikan, bahkan ia bisa tau penyebab istrinya yang semakin hari semakin kurus.
"Ayo makan."
Arkan langsung bangun dari tubuh istrinya, ia melihat ponselnya, lalu membuka Instagramnya, ternyata dalam waktu sejam komentarnya sudah lebih dari 2 ribu komentar di foto yang ia unggah.
Ada banyak yang mendo'akan termasuk Karinah dan Lia yang ikut mendo'akan agar rumah tangganya selalu langgeng dan segera di berikan momongan, mereka berdua memang sudah mengikuti akun Instagram Arkan sebelum Arkan menikahi Suci.
"Mas katanya ngajak makan, itu fokusnya ke ponsel."
Setelah mengatakan itu Suci memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya. Arkan yang mendengar ucapan dari istrinya, ia langsung meletakan ponselnya di samping ranjang, lalu langsung melihat istrinya yang merajuk.
"Ternyata istri mas bisa merajuk juga iya? Mas pikir sayang tidak bisa merajuk."
Suci masih diam, ia masih tetap di posisi yang sama.
Suci masih diam, ia tidak ingin mengeluarkan suara. Arkan langsung membaringkan tubuhnya, ia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, lalu langsung menciumi leher belakang istrinya.
"Mas ih geli tau."
Suci berbicara masih dengan posisi yang sama.
"Jangan membelakangi suami dosa loh sayang."
Suci langsung membalikan tubuhnya saat mendengar ucapan dari suaminya. Sedangkan Arkan hanya tersenyum lebar, ternyata istrinya itu mudah di rayu, apa lagi kalau sudah bersangkutan dengan dosa.
"Mas itu habis nyebelin dari tadi. Tadi membuat gairahku menggebu-gebu, tapi tidak jadi di lanjutin karena perutku berbunyi, terus ngajak makan, bukannya bangunin istri, eh melainkan main ponsel, sebel banget deh jadinya aku sama mas, lama-lama aku lahap habis bibir mas!"
Arkan bukannya marah, ia bahkan tertawa saat mendengar ucapan dari istrinya, ia mengusap lembut bibir istrinya.
"Memangnya sayang bisa melahap bibir mas sampai habis?"
"Sampai bengkak seperti kemarin-kemarin!"
__ADS_1
"Jangan dong sayang, nanti kamu malu kalau bibir mas sampai bengkak, yang ada orang-orang di sekitar mengira sayang sangat agresif."
"Aku tidak pernah peduli apa kata orang, yang penting aku puas."
Bohong kalau Suci tidak perduli apa kata orang, buktinya tadi ia risih saat ada banyak orang yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Jangan berpikir mesum sayang, kita makan dulu, kamu itu sudah lapar dari tadi."
Suci mengangguk pelan. Arkan langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu berjalan ke arah meja makan.
Arkan menurunkan tubuh istrinya, ia langsung menggeser kursi untuk duduk istrinya, lalu ia juga ikut duduk di samping istrinya.
"Mas makanannya banyak sekali, jangan terlalu banyak memesan makanan mubazir, kita tidak bisa makan sebanyak ini."
"Maaf sayang, habis mas tidak tau kamu ingin makan apa sore ini."
Arkan menghela nafas berat, ia lupa kalau istrinya itu tidak suka membuang-buang makanan.
Suci mengangguk pelan, mau bagai mana lagi? Semuanya sudah terlanjur di pesan oleh suaminya.
Arkan langsung membaca do'a makan srperti biasanya.
"Biar mas yang menyuapi sayang."
"Iya mas."
Arkan mulai memotong-motong bistik, lalu ia langsung menyuapi istrinya.
"Mas."
"Iya sayang."
"Mas emang tidak bosan? Setiap hari selalu menyuapi aku?"
"Mana bisa mas bosan sayang, mas senang sangat senang kalau bisa menyuapi sayang setiap hari, yang penting sayang selalu sehat."
Arkan memang tidak pernah bosan untuk menyuapi istrinya, ia bahkan senang saat bisa makan satu piring berdua, apa lagi rasa cintanya yang semakin hari terus saja bertambah, tentu saja ia selalu senang bisa membuat hati istrinya senang.
Arkan memang tau kalau istrinya berbeda dari wanita lainnya, wanita lain akan senang saat suaminya mengajaknya untuk shopping, tapi istrinya selalu menolak, dan mengatakan jangan menghambur-hambur uang dengan hal yang tidak berguna.
Istrinya selalu bilang kalau mampu lebih baik bagikan ke orang yang membutuhkan, istrinya juga bilang karena yang di tanya saat di akhirat bukan baju mewah dan perhiasan mewah atau harta yang kita miliki, melainkan amal ibadah kita.
__ADS_1
Arkan selalu mengingat hal itu, jadi kalau ia tidak memanjakan istrinya dengan menyuapinya atau yang lain-lainnya ia tidak pernah bisa memanjakan istrinya, karena memanjakan istrinya dengan uang, itu hal yang tidak pernah di sukai oleh istrinya.
Arkan juga sesekali menyuapi diri sendiri, sambil tersenyum saat melihat raut bahagia dari istrinya. Arkan baru sadar sekarang kalau membahagiakan istrinya itu hal yang mudah, hanya hal kecil saja bisa membuat istrinya bahagia. Contohnya saat Arkan tidak masuk ke kantor, istrinya sangat bahagia, dan hanya di ajak liburan ke laut biru saja istrinya sangat bahagia.