
Setelah perdebatan panjang, sekarang Arkan sampai di depan rumahnya. Saat turun dari mobil Arkan tersenyum saat melihat istrinya sedang berlari kecil ke arahnya.
Arkan langsung merentangkan ke dua tangannya sambil masih terus berjalan, tapi bukan pelukan yang ia dapat melainkan istrinya langsung mengucap salam.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam sayang."
Arkan langdung menurunkan ke dua tangannya saat tidak mendapat pelukan dari istrinya. Suci langsung mencium tangan suaminya, sebelum suaminya mencium keningnya, ia langsung meloncat ke tubuh suaminya.
Arkan hampir saja hilang ke seimbangan kalau ia sudah jauh dari mobil mungkin ia sudah terjatuh bersama istrinya, bukan karena istrinya itu berat, tapi istrinya meloncat secara tiba-tiba hingga tangan kanannya menahan ke mobil agar tidak terjatuh.
"Aku sangat merindukan mas.."
"Mas juga sangat merindukanmu sayang."
Pak Budi yang sedang memegang tas kerja milik Arkan, ia jadi malu saat melihat adegan mesra dari ke dua majikannya.
"Den saya duluan mau naro tas."
Suci langsung turun dari gendongan suaminya saat mendengar ucapan dari pak Budi.
"Sini biar saya saja yang bawa pak, dan terima kasih sudah mengtar suami saya dengan selamat."
Pak Budi langsung menyerahkan tas pada Suci.
"Sama-sama non."
Suci langsung mengambil tas milik suaminya, lalu langsung melebarkan tangan minta di gendong oleh suaminya.
Arkan tersenyum, ia langsung menggendong istrinya masuk ke dalam rumahnya.
"Mas, ganti parfum iya?"
Suci bukan orang yang begitu perduli dengan parfum yang di pakai oleh suaminya, mau pun curiga tentang parfum itu, ia sama sekali tidak pernah memperdulikan tentang itu, tapi kali ini ia hapal betul kalau parfum yang di pakai suaminya berbeda.
"Tidak sayang."
Arkan langsung menurunkan istrinya di atas ranjang, lalu mengambil tas miliknya yang di pegang oleh istrinya.
Suci mengangguk pelan, ia masih menatap suaminya, entah kenapa parfum yang menempel di baju kantor suaminya itu sangat akrab.
__ADS_1
Suci terus melihat ke arah suaminya yang sedang melepaskan jasnya, hingga ia melihat noda lipstik di kemeja putih milik suaminya.
Suci langsung turun dari ranjang, ia mendekati suaminya, lalu langsung memegang baju kemeja putih yang masih di kenakan oleh suaminya.
"Mas, siapa yang kamu peluk hari ini?"
Mata Suci mulai sedikit memerah saat mengetahui suaminya telah memeluk seorang wanita.
Arkan langsung melihat ke arah baju kemejannya yang ia pakai, ia sangat terkejut saat melihat noda lipstik itu.
"Mas tadi di peluk oleh rekan kerja sayang."
Arkan menjawab dengan berbohong, ia tidak mungkin bilang di peluk Sulis, ia takut istrinya tidak percaya dengan pejelasannya.
"Apa ini sudah kebiasaan mas? Aku sama sekali tidak pernah ridho kalau suamiku di peluk oleh wanita lain, aku tau profesi mas, tapi aku tidak menyangka kalau mas masih seperti saat belum menikah."
Suci sangat kecewa pada suaminya yang menerima pelukan dari wanita lain, ia langsung duduk di atas ranjang.
Arkan langsung berjongkok di depan istrinya sambil memegang tangan kanan istrinya.
"Maaf sayang, kejadian ini tidak akan terulang lagi."
"Jadi mas hari ini memeluk kak Sulis? Dan mas berbohong sama aku? Kak Sulis bukan rekan kerjamu mas, tapi modelmu, apa yang mas sembunyikan di belakangku? Mas memiliki hubungan di belakangku? Atau memang chat kak Sulis 2 hari yang lalu memang memiliki arti?"
Setetes air mata Suci jatuh ke pipinya, ia tidak menyangka kalau suaminya akan membohonginya tentang pertemuan suaminya dan kakanya.
"Sayang jangan menangis, mas bisa jelasin kenapa bisa kejadian seperti ini."
"Kenapa baru akan menjelaskan sekarang mas? Setelah aku hapal aroma parfum siapa, atau mas memang memiliki hubungan di belakangku?"
"Mas tidak memiliki hubungan apa pun dengan Sulis, mas hanya menganggap Sulis sebagai kaka ipar tidak lebih."
"Apa adik ipar dan kaka ipar bisa berpelukan sangat mesra? Hingga meninggalkan jejak lipstik di baju kemeja mas?"
Suci meremas baju tidurnya untuk menyalurkan kekecewaan pada suaminya sambil beristighfar.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan sayang."
Arkan langsung berdiri dari jongkoknya, ia memegang ke dua bahu istrinya.
"Sulis kekeh meminta kembali lagi sama mas, bahkan Sulis meminta untuk menjdikannya istri ke dua, tapi mas sama sekali tidak menginginkan Sulis lagi. Mas menolak Sulis, hingga tiba-tiba Sulis memeluk mas."
__ADS_1
Suci menatap mata suaminya dengan intens hingga sekitar 2 menit ia menatap mata suaminya, lalu langsung berdiri dan memeluk suaminya.
"Aku takut mas, aku takut mas bersamanya lagi, setelah kaki mas sembuh, aku selalu di hantui rasa takut kehilangan mas, bukan aku tidak ingin kaki mas sembuh, tapi aku hanyalah wanita biasa, sedangkan wanita di luar sana banyak yang memiliki karir, tidak sepertiku."
Arkan membalas pelukan dari istrinya dengan erat.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak sayang, mas hanya milikmu, tidak akan ada yang bisa memiliki mas selain kamu, mas itu hanya cinta dan sayang sama Suci Septiani Susanti, istri mas yang sangat sholehah dan sangat sempurna."
Suci mengangguk pelan, rasa cintanya yang semakin besar membuat ia memiliki rasa takut kehilangan suaminya, terutama saat kakanya meminta ia untuk berpisah dengan suaminya, ketakutan itu semakin bertambah.
Arkan menghela nafas lega, saat istrinya percaya dengan ucapannya, walau pun tadi istrinya menuduhnya tidak ada suara bentakan, tapi tetap saja ia takut kalau rumah tangganya memiliki masalah.
Sudah cukup bagi Arkan di awal-awal pernikahannya yang sangat banyak masalah, terutama masalah terakhir saat istrinya terduduk di guyuran shower, hingga sekarang bayang-bayang itu masih menghantui ingatan Arkan.
Itu kenapa Arkan selalu berusaha menjadi lebih baik lagi untuk istrinya, agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
"Aku minta maaf mas, sudah suudzon pada mas."
"Tidak apa-apa sayang, suudzon boleh-boleh saja, yang penting sayang harus selalu mendengarkan penjelasan mas."
Menurut Arkan istrinya berburuk sangka adalah hal yang sangat wajar, ia selalu bertemu dengan rekan bisnisnya seorang wanita, yang terpenting istrinya masih mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu, baginya itu sudah lebih dari cukup.
Suci masih terus saja memeluk suaminya, bahkan ia seperti enggan untuk melaskan suaminya, jelas-jelas ia dan suaminya itu selalu bersama dalam 1 rumah, tapi ia selalu merindukan suaminya setiap saat.
"Sayang besok kita pergi yuk."
Suci langsung melepaskan pelukannya saat mendengar ajakan dari suaminya.
"Pergi kemana mas?"
"Katanya mau ke laut biru? Mas sudah pesan hotel untuk kita nginap di sana selama 1 minggu."
"Seriusan mas mau mengajak aku ke laut biru pengandaran?"
"Iya sayang, selama kita menikah mas belum pernah mengajak kamu untuk liburan, kali ini mas akan mengajak kamu untuk pergi berlibur."
Suci tersenyum senang, ia langsung berjinjit untuk mencium suaminya, dari kening ke dua mata, ke dua pipi, hidung dan bibir termasuk dagu.
"Terima kasih mas."
"Sama-sama sayang."
__ADS_1