Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 111 Ingat


__ADS_3

Pagi hari Suci yang baru bangun tidur, ia sudah benar-benar ingat sepenuhnya siapa ia sebenarnya dan semua kisahnya di masa lalu setelah 10 hari hilang ingatan oleh pengaruh obat lupa ingatan.


Suci menatap suaminya sedang duduk di sofa dengan ke dua tangannya yang sibuk mengetik di laptopnya, ia yakin kalau suaminya sedang sibuk bekerja hingga dari tadi suaminya tidak menyadari kalau ia sudah bangun dari tidurnya.


Suci turun dari ranjang lalu langsung mendekati suaminya, ia langsung duduk di samping suaminya sambil menghela nafas berat, saat melihat suaminya masih saja sibuk dengan laptopnya.


Suci langsung merebahkan tubuhnya dengan kasar di sofa dengan kaki yang di samping suaminya, sedangkan kepalanya ia jatuhkan di sofa untuk menarik perhatian dari suaminya.


Arkan yang sedang fokus pada laptopnya, ia sangat terkejut saat istrinya sudah ada di sampingnya dengan tubuh yang teletang, ia langsung mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya dengan posisi tubuhnya di atas tubuh istrinya, tapi satu tangannya menahan ke arah sandaran sofa agar tidak menindih tubuh istrinya.


Tangan kanan Arkan mengelus pelan pipi kiri istrinya.


"Sayang kenapa? Jangan membuat mas cemas."


Suci tersenyum lebar, ia langsung mengangkat kepalanya untuk mencium bibir suaminya sekilas.


"Itu hukuman karena mas mengabaikanku."


Arkan tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari istrinya dan rasa cemasnya hilang seketika saat tau istrinya baik-baik saja.


Arkan langsung mencium bibir istrinya hingga lidahnya menyapu semua rongga mulut istrinya.


Begitu pun dengan Suci yang membalas ciuman dari suaminya dengan perasaan bahagia dan sejenak melupakan ingatan-ingatan masalah bersama kaka dan Bundanya.


Mereka berciuman sampai 5 menit hingga ke duanya kehabisan nafas. Arkan langsung mencium kening istrinya untuk mengakhiri ciumannya, lalu ia langsung duduk lagi dengan tangannya membantu istrinya untuk bangun.


Setelah sama-sama duduk Arkan langsung mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya sambil tersenyum lebar.


"Ternyata ibu hamil itu aktif iya?"


Suci yang mendengar pertanyaan dari suaminya ia langsung mengerutkan keningnya tidak mengerti.

__ADS_1


Arkan yang mengerti kalau istrinya tidak mengerti dengan ucapannya, ia langsung menjelaskannya.


"Iya aktif, buktinya sayang bisa membohongi mas."


Suci yang mendengar ucapan dari suaminya lagi ia langsung tersenyum lebar.


"Habis mas sibuk sama laptop saja, aku juga butuh di perhatikan mas, bukan hanya laptop."


Arkan mengangguk pelan, lalu langsung mencium perut rata istrinya.


"Memangnya dede mau sarapan apa?"


"Dede ingin sarapan sup ikan buatan Ayah."


Arkan melebarkan matanya saat mendengar jawaban dari istrinya, jangankan untuk memasak sup ikan yang susah, mamasak nasi goreng saja tidak bisa, rasanya selalu asin.


Arkan langsung mengangkat kepalanya, ia langsung melihat wajah istrinya sambil mengelus lembut pipi kanan istrinya.


"Yakin sayang menginginkan sup ikan? Saat mas masak nasi goreng saja asin, apa sayang tidak takut masakan mas tidak bisa di makan?"


Arkan menghela nafas berat saat mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Jangan berbicara seperti itu sayang, ucapan seorang Bunda biasanya menjadi do'a untuk buah hatinya, iya sudah mas masak dulu. Sayang tunggu saja di kamar, jangan kemana-mana."


Setelah mengatakan itu Arkan langsung mencium kening istrinya sekilas lalu langsung keluar dari kamar untuk membuatkan sup ikan tanpa mau mendengar jawaban dari istrinya, ia juga tidak lupa membawa ponsel untuk melihat cara memasak sup ikan di google.


Setelah suaminya pergi dari kamar Suci langsung menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan mata.


Namen tiba-tiba saja Suci mengingat kembali masa-masa tersulit saat kakanya menginginkan suaminya hingga ia berani mencelakai diri sendiri.


Suci mengelus pelan perut ratanya sambil masih memejamkan mata.

__ADS_1


"Dede, apa Bunda terlalu kejam hingga Bunda hampir saja membahayakan nyawamu? Maafkan Bunda, Bunda tau kalau Bunda tidak pantas di panggil sebagai Bunda, karena Bunda hampir saja membunuhmu, tapi hanya itu satu-satunya cara agar Bunda bisa mempertahankan Ayahmu, hanya itu cara agar dede tetap memiliki Ayah."


Suci berbicara dengan janinnya sambil meneteskan air mata, ia juga berkali-kali beristigfar di dalam hatinya, ia tidak menyangka kalau pikirannya begitu dangkal hingga hampir saja membahayakan janinnya sendiri, tapi ia juga bersyukur karena dokter bisa menyelamatkan janinnya walau pun ia harus hilang ingatan beberapa hari.


Namen di sisi lain Suci juga menghuatirkan keadaan kakanya.


"Bagai mana keadaan kakak? Apa kaka baik-baik saja? Atau kaka sampai sekarang masih tidak ingin di oprasi?"


Suci bergumam sendiri sambil mengusap wajahnya, ia tidak tau apa yang terjadi dengan kakanya, yang jelas sekarang pikiran ia di penuhi rasa kuatir dan bingung dengan keadaan kakaknya.


"Apa aku harus merelakan mas Arkan agar kaka mau di oprasi? Apa benar ucapan kaka kalau kaka hanya ingin menikahi mas Arkan 1 bulan saja?"


Setelah mengatakan itu Suci menghela nafas berat, ia bingung apa yang harus di lakukannya, di sisi lain ia juga tidak ingin calon buah hatinya tidak memiliki seorang Ayah, tapi di sisi lain lagi ia juga ingin kakanya di oprasi.


Suci membuka matanya, ia menghapus air mata yang jatuh ke pipi, ia tidak menyangka kalau mendapatkan masalah sangat rumit, ia tidak menyangka kalau orang ke tiga yang akan menghacurkan rumah tangganya adalah kakanya sendiri, apa lagi sekarang ia dalam keadaan hamil.


"Apa yang harus Bunda lakukan de? Apa Bunda tetap bersikap egois untuk mempertahankan Ayahmu?"


Suci berbicara sambil mengelus perut ratanya, ia masih saja di penuhi rasa bingung.


"Aku harus menghubungi Bunda, agar aku tau bagai mana keadaan kaka."


Suci langsing turun dari ranjang, ia langsung mengambil telpon rumah untuk menghubungi Bundanya, tapi baru saja mengetik 11 nomer, ia menghentikan ketikannya.


"Apa perlu aku menghubungi Bunda? Bagai mana kalau Bunda menyalahkanku karena masih tetap bersikap egois untuk tetap mempertahankan suamiku? Atau justru Bunda sangat kuatir karena aku telah mencoba untuk Bunuh diri?"


Suci berbicara dengan telpon yang ada di telinga ia, hanya saja ia menghentikan ketikan nomernya karena bingung.


"Bunda, maafkan Uci karena Uci menjadi wanita egois, tapi Uci juga ingin bahagia bersama mas Arkan, sudah cukup Uci melepaskan cinta Uci untuk menikahi mas Arkan. Sudah cukup Uci terus di hantu rasa bersalah karena tidak bisa mencintai mas Arkan saat itu, tapi kali ini Uci sudah berhasil, Uci sudah mencintai mas Arkan hingga menghasilkan calon buah hati cinta Uci dan mas Arkan." batin Suci


Suci langsung meletakan kembali telpon rumahnya, tubuhnya sudah bergetar.

__ADS_1


"Ayah, apa Uci bersalah karena terus saja mempertahankan suami Uci? Apa Uci berdosa mempertahankan pernikahan di saat kak Sulis sedang sakit dan menginginkan suami Uci?" batin Suci


Suci langsung terduduk lemas dengan tubuh yang bergetar, ia merasa kalau ia lebih baik hilang ingatan seperti kemarin, ia tidak memiliki beban apa pun selain hanya ingin tau masa lalunya bersama suaminya awal menikah dulu.


__ADS_2